Sekitaran CGV BEC sinemas Kota Bandung turun hujan lebat saat TV Harmoni pulang selepas menonton film dokumenter invetigasi NAZA Jum’at (30/10/2026) yang mengusik akal sehat dan hati nurani menyangkuti apa menimpa Palestian sekaligus tanda tanya besar seperti komentar beberapa penonton yang dijumpai selesai menyaksikan film berdurasi 80 menit ini.
“Ada ya manusia seperti militer Zionis tadi?”, yang segera ditimpali penonton lain:” Bukan itu bukan manusia itu binatang buas”.
Penonton lain yang seorang bapak juga mengungkapkan perasaannya dan mengungkapkan tanya setelah Sekjen FPN Furqan AMC memberi kesempatan kepada seluruh penonton film NAZA untuk menyampaikan tanggapan mereka.
“Ini kalau si Monik nonton film ini gimana ya”.
Maksud penonton itu karena selama ini sebagai narsum di banyak program TV untuk soal Palestina dan jelas jelas pro zionis, apakah ia masih punya hati nurani untuk membela negara zionis yang benar melakukan praktek genosida sebagaimana yang diceritakan militer Israel sendiri dalam film dokumenter ini.
Untuk keberanian pembuatan dokumenter ini John Aderemi Abiola dan Rachel Zor selaku sutradara diganjar penghargaan Special Jury Prize di Festival Film Venesia pada September 2026.
Sebaliknya, Menteri Kebudayaan Israel Miki Zohar dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengecam keras film tersebut.
Miki Zohar menyerukan pencabutan kewarganegaraan kedua sutradara dan menuduh mereka melakukan pengkhianatan terhadap negara Miki Zohar menyerukan pencabutan kewarganegaraan kedua sutradara dan menuduh mereka melakukan pengkhianatan terhadap negara.
Lepas seluruh penonton menyaksikan film dokumenter berdurai 80 menit, Dina Y. Sulaeman pengamat geopolitik Timur Tengah turut memberikan review fillm NAZA ini.
“Secara umum film ini adalah dokumentasi kejahatan perang, dan (pendokumentasian) ini dilakukan oleh orang Israel sendiri artinya apa ? Dalam masyarakat Israel itu ada orang orang minimalnya yang tersentuh hatinya ketika melihat kejahatan besar yang dilakukan oleh bangsanya, oleh tentaranya sendiri” ujarnya.
“Film ini kemudian mendapat gaung dan mendapat pujian justru karena yang membuat adalah orang dalam sendiri. Sehingga memang buat orang Israel ini tidak bisa membela diri, ini kan dari anda sendiri gitu. Karena itulah dua sutradara ini menghadapi ancaman pembunuh dan dan dihapus kewarga negaraanya, keluarganya di Israel diserang orang orang radikal dan dari sisi operasi yang dilakukan dengan penggunaan AI, Israel terbukti memang sengaja” lanjutnya.
“Israel (selama ini) selalu mengatakan yang kami kejar adalah HAMAS dan seolah olah ini dimaafkan oleh terutama di dunia barat, karena mereka berfikir “O karena HAMAS itu teroris”.Itu yang selama ini dicekoki ke masyarakat di barat” ungkapnya.
“Sehingga ketika sekarang diungkap, lho ternyata secara sengaja demi membunuh 1 orang HAMAS itu bisa dibolehkan 500 orang lain ikut tewas dan itu disebutnya NAZA, korban collateral damage, dimaafkan, tanda kutip. Tapi ketika pake AI (Artificila Intelligent) dan sudah jelas bakal ada 500 yang tewas berarti pada saat itu ini sengaja.Bukan korban yang tidak sengaja. Ini (film dokumenter) menjadi bukti kejahatan perang”. pungkasnya.
Menutup kegiatan Nobar kali ini setelah sebelumnya FPN berkesempatan menyelenggarakan kegiatan di Gedung Indonesia Menggugat untuk film The Voice of Hind Rajab, Furqan AMC mengajak para hadirin untuk tidak diam dan tetap lantang bersuara, membela Palestina sampai Palestina merdeka.
Sekjen FPM Furqan AMC mengatakan Sebuah bangsa itu mesti berdiri diatas fondasi moral.
“Sebuah bangsa itu mesti berdiri diatas fondasi moral. Kenapa harus menjadi suatu bangsa. Genosida sedang menghacurkan itu sendiri. Jadi percayakah janji pembebasan akan terwujud. Tidak semua benar dalam film ini. Pertama, soal korban 1200 orang Israel (dibunuh, diperkosa,bayi bayi dibantaikatanya) sebagai korban serangan HAMAS (7 Oktober) sampai hari ini tidak ada buktinya, tidak ada satu pun yang berhasil membuktikan termasuk PBB berarti itu sebenar kisah hoak, untuk memicu tindakan brutal dari semua sistem Israel; Ini sistemik, film ini akan menjadi bukti dalam sidang manapun, dan nanti akan ada film-film lainnya bahwa ini adalah genosida” ujarnya.
Sebelum seluruh penonton dan panitia dari FPB kembali kerumah, para peserta secara bersama meneriakan “Free Palestine, Palestine will be free!” sebagai tanda dan semangat untuk terus bersama berjuang membebaskan Palestina dari cengkeraman genosida dan penjajahan Zionis Israel.






