Bertempat di Gedung Anggota DPRD Kota Bandung, anggota Komisi I DPRD Kota Bandung, Bapak Erick Darmajaya, B.Sc., M.K.P. berkesempatan menjawab ragam pertanyaan sehubungan hidup berbangsa dan bernegara pada Kamis (15/10/ 2026)
Dipandu Abi Iwan selaku Host Talkshow Tamu Kita TV Harmoni yang memiliki positioning statemen Untuk Senyum Keluarga Indonesia memuat hal penting dalam acara ini saat bahwa berbangsa dan bernegara dapat mencapai maksudnya saat semua pihak dapat menghidupkan ideologi Pancasila dalam kehidupan yakni menjadi suri teladan.
Dalam perbincangan Erick Darmajaya menekankan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas karakter dan suri teladan dari para pemimpinnya.
Persoalannya adalah pada implementasi ideologi itu sendiri dimana diakui terdapat krisis korupsi menjadi budaya yang berarti lunturnya pendidikan dan akhlak .
Erick menjelaskan bahwa banyak pejabat yang terjebak dalam ego pribadi dan pameo “mumpung menjabat” atau “mumpung bisa mengatur”, yang mengikis nilai-nilai etika dan adab dalam bekerja.
Selain itu, faktor keserakahan (greedy) juga disebut sebagai penyebab utama.
Seringkali, jabatan yang sudah memberikan fasilitas yang cukup justru disalahgunakan karena adanya keinginan untuk mendapatkan lebih, yang sering kali didorong oleh faktor uang
Ditanyakan bagaimana mengatasi soal ini, Menurut pandangan narsum yang berkesempatan memperoleh pendidikan di New Zealand dan Singapura mengatakan bahwa mengatasi sifat serakah (greedy) pada pejabat berakar pada kesadaran personal dan penguatan karakter.
Utamanya adalah menanamkan kesederhanaan.
Narsum menekankan bahwa setiap manusia pada dasarnya hanya membutuhkan satu piring makanan.Jika pejabat mampu menghayati prinsip ini, mereka tidak akan merasa perlu untuk mengambil lebih dari yang seharusnya.
Sifat serakah sering kali menjadi faktor utama tindakan korupsi. Pejabat perlu menyadari bahwa keinginan berlebih—termasuk masalah uang dan ambisi pribadi lainnya—adalah pemicu hilangnya integritas
Krisis keteladanan yang terjadi saat ini merupakan dampak dari lemahnya pendidikan moral dan etika. Membangun bangsa yang lebih baik memerlukan kembali kepada pendidikan akhlak agar para pemangku kebijakan tidak terjebak pada mentalitas “mumpung menjabat”.
Menyinggung hal lain soal kompetensi disamping akhlak agar tidak terjadi banyhak pengangguran Erick menyampaiakn pendapatnya :
bahwa di zaman digital saat ini, beliau menilai bahwa mencari kompetensi atau keilmuan sudah jauh lebih mudah melalui platform seperti YouTube atau TikTok yang menyediakan banyak konten tutorial “how-to”.
Dari dua hal mendasar antara akhlak dan kompetensi digarisbawahi pentingnya Integritas.
Kompetensi tanpa kewarasan atau moralitas akan menjadi masalah besar. Oleh karena itu, beliau menekankan pentingnya mencari individu yang jujur dan berintegritas untuk memegang tanggung jawab publik, bukan sekadar mereka yang kompeten secara teknis saja.
Sebagai pesan dalam talksow Tamu kita kali ini dari Narsum mengatakan tidak ada yang salah bila bangsa kita belajar dari Singapura.
Erick Darmajaya menyoroti beberapa poin penting yang dapat dipelajari dari negara Singapura.
Diantaranya soal ketertiban dan kedisiplinan dimana Singapura dikenal sebagai negara yang sangat tertib, bersih, dan udaranya terjaga. Tidak ada pelanggaran seperti pedagang kaki lima ilegal, pengamen, atau masalah perparkiran yang semrawut.
Semua diatur dengan sistem yang tegas kemudian negara seukuran kota jakarta ini memiliki sistem kedisiplinan di sana tercipta karena adanya sistem yang dijalankan dengan konsisten, sehingga setiap warga merasa perlu untuk menaati aturan.
Menutup talkshow menjelang Indonesia Emas 2045, Bapak Erick Darmajaya menyampaikan pesan penting bahwa keberhasilan bangsa merupakan tugas bersama dan pentingn menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.
Sebagai warga negara Indonesia, kita harus bersatu di bawah ideologi Pancasila, dan tetap berprestasi dan kreatif.






