SOREANG – Ketua Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Daerah Jawa Barat Joesoef Siregar dianugerahi penghargaan kategori Lifetime Achievement pada Malam Anugerah Penyiaran KPID Jabar 2025.
Anugerah diserahkan langsung Wakil Gubernur Erwan Setiawan dan diterima oleh Sekretaris PRSSNI Jabar Anggi Anggriawan saat perhelatan Anugerah Penyiaran KPID Jabar, di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang Kabupaten Bandung, Senin 10 November 2025 malam. Komisi Penyiaran Indonesia Daerah KPID Jabar, tahun ini menggelar perhelatan ke 18.
Joesoef Siregar Pejuang Industri Radio Jawa Barat.
Bagi masyarakat Bandung khususnya dan Jawa Barat pada umumnya, nama Joesoef Siregar bukanlah nama baru dalam insutri penyiaran, khususnya radio siaran swasta.
Pria kelahiran Pematang Siantar Sumatera Utara pada 05 Juni 1948 ini, biasa dikenal dikalangan orang radio dengan nama “Bang Yoppie”. Menghabiskan masa kecil, belia hingga dewasa dan bersekolah sejak 1955 di Bandung, menjadikan Yoppie bangga sebagai “Urban” atau Urang Bandung.
Kendati industri penyiaran sedang ‘tidak baik – baik saja’, ia meyakini radio akan bisa terus hidup dan bahkan berkembang jika para pegiatnya, mampu adaptasi dengan perubahan yang terjadi.
Tantangan itu ia buktikan dengan menjadikan radio yang dipimpinnya, yakni Urban Radio Bandung, menjadi “radio visual” yang tak hanya bisa dinikmati melalui audio atau suara saja.

Yoppie menekuni industri radio pada 80an, saat mulai mengelola Radio Contesa Bandung Raya. Tak mudah saat itu, meski iklan radio sedang booming, ia mengku pada awalnya hampir empat tahun dibuat sempoyongan lantaran radio yang baru dikelolanya belum menghasilkan apapun.
Namun usaha tiada henti ternyata tak mengkhianati hasil. Yoppie yang sebelumnya pada 70an sebagai kontraktor/ pemborong proyek itu, bisa merasakan ‘manisnya’ mengelola radio yang kini dikenal dengan Urban Radio di jalan Anyer Bandung, pada 90an hingga 2000an.
Kiprahnya tak terhenti pada mengelola radio sendiri, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua PRSSNI Bandung, selanjutnya tiga periode berturut turut, sejak 2015 hingga kini memimpin PRSSNI Jabar.
Ia berpesan, periode ini adalah terakhir memimpin 100 lebih radio anggota se Jabar. Selanjutnya, selama satu dekade Yoppie telah mendorong anak – anak muda generasi pengelola radio untuk tampil kedepan.
Ia mememelopori diadakannya riset pendengar, yang akhirnya diikuti oleh PRSSNI Daerah lain, dimana data hasil riset itu sangat dibutuhkan oleh klien. Yoppie pula yang melecut kawan – kawannya anggota PRSSNI untuk selalu inovasi diantaranya dengan terobosan “Radio Visual” agar radio semata tak tetap hidup saja, namun juga berkembang saat zaman sudah memaksa masuki “digitalisisasi”.
Sebanyak 16 kategori penghargaan pada KPID Jabar Award 2025.
Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat pada Malam Anugerah Penyiaran 2025, merupakan ajang tahunan yang memasuki edisi ke-18 memberi apresiasi bagi lembaga penyiaran radio dan televisi yang konsisten menyuarakan kepentingan publik, budaya lokal, dan keberlanjutan lingkungan.
Terdapat 16 kategori penghargaan, mencakup radio, televisi, dan kategori umum. Mengusung tema “Penyiaran Motekar Menuju Jawa Barat Istimewa”, Anugerah Penyiaran merupakan ajang penghargaan untuk program siaran terbaik bagi lembaga penyiaran radio dan televisi se-Jawa Barat.
Selain kategori program, Anugerah Penyiaran juga menghadirkan penghargaan untuk Presenter/Reporter Terfavorit, Lifetime Achievement, serta Kepala Daerah dan Industri Peduli Penyiaran.
Sebelumnya saat Konfrensi Pers di Gedung Sate Bandung Jumat (7/11/2025), Ketua Pelaksana Anugerah Penyiaran KPID Jabar 2025, Dede Kania, menyebutkan tahun ini terdapat 103 karya yang masuk seleksi, terdiri dari 57 karya radio dan 46 karya televisi.
Dede menyebut, pihaknya melihat geliat luar biasa dari insan penyiaran di Jawa Barat. “Lembaga Penyiaran tak hanya menyuguhkan hiburan, tapi juga mengangkat isu-isu strategis seperti lingkungan hidup, perempuan dan anak, serta kearifan lokal,” ungkap Dede .
Sementara Ketua KPID Jabar Adiyana Slamet menegaskan tema Motekar yang diusung kali ini merupakan gambaran bahwa transformasi digital harus diikuti oleh lembaga penyiaran agar mampu terus bersaing.
“Motekar itu adalah sisi value Sunda yang kemudian harus diadopsi. Artinya bahwa transformasi digital ini harus diikuti kawan-kawan lembaga penyiaran. Tidak boleh tertinggal dengan model bisnis yang baru ini. Maka kreativitas itu harus coba ditonjolkan,” kata Adiyana Slamet. [gp_ast]














