• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Jumat, 28 Agustus 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

Dampak Membiarkan Emosi Jadi “Pengemudi”

Redaksi Harmoni oleh Redaksi Harmoni
Jumat, 28 Agustus 2026
in Hikmah
0 0
Dampak Membiarkan Emosi Jadi “Pengemudi”

Oleh : Febri Satria Yazid

Dalam banyak aspek kehidupan, kita sering mendengar nasehat, “jangan mengambil keputusan saat sedang emosi”. Nasehat ini bukan berarti kita harus menyingkirkan emosi, apalagi menganggap emosi sebagai sesuatu yang buruk. Emosi adalah bagian dari manusia yang memberi warna pada kehidupan, mengingatkan kita ketika ada sesuatu yang tidak beres, sekaligus dapat menjadi energi yang mendorong
kita untuk bertindak.

Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya emosi, melainkan pada siapa yang memegang kendali. Emosi boleh duduk di dalam kendaraan kehidupan kita, tetapi jangan biarkan ia menjadi pengemudi. Keputusan yang lahir dari kemarahan dapat membuat kita mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin kita katakan.

Keputusan yang lahir dari ketakutan dapat membuat kita kehilangan peluang. Keputusan yang lahir dari
kekecewaan dapat membuat kita memutus hubungan yang sesungguhnya masih bisa diperbaiki. Begitu
pula keputusan yang terlalu dipengaruhi kegembiraan dapat membuat kita mengabaikan risiko yang
seharusnya diperhitungkan.

Namun, keputusan emosional tidak selalu semata-mata disebabkan oleh gejolak hormon atau kondisi biologis. Ada banyak faktor yang bekerja di baliknya. Pengalaman masa lalu, tekanan yang sedang dihadapi, hubungan dengan orang lain, kelelahan, karakter pribadi, bahkan situasi tertentu dapat
memengaruhi cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan.

Seseorang yang pernah dikhianati mungkin lebih mudah curiga. Seseorang yang sedang berada di bawah tekanan mungkin menjadi lebih mudah tersulut. Orang yang kurang tidur dan kelelahan bisa kehilangan kejernihan dalam menilai persoalan. Bahkan seseorang yang biasanya tenang pun dapat
mengambil keputusan terburu-buru ketika berada dalam situasi yang sangat mendesak.

Sebelum menyalahkan diri sendiri atau orang lain karena sebuah keputusan emosional, ada baiknya kita
bertanya: “Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diriku?”. Pertanyaan itu sederhana, tetapi membutuhkan keberanian untuk menjawabnya dengan jujur.

Dalam perspektif spiritual, manusia tidak hanya diberi akal dan perasaan, tetapi juga diberi hati dan
kemampuan untuk memilih. Di situlah letak tanggung jawab kita. Kita tidak selalu mampu mengendalikan apa yang terjadi di luar diri kita, tetapi kita memiliki ruang untuk menentukan bagaimana kita meresponsnya.

Allah mengingatkan manusia agar tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Dalam QS. Al-Isra ayat 36, kita diajak untuk tidak mengikuti sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya.

Pesan ini relevan dalam setiap keputusan bahwa jangan biarkan sesuatu yang belum jernih di dalam pikiran
menjadi dasar tindakan yang besar.
Dalam bisnis, misalnya, ketika partner mengecewakan, pelanggan membatalkan pesanan, karyawan melakukan kesalahan, atau kondisi keuangan sedang tertekan, emosi mungkin datang terlebih dahulu,
merupakan hal yang wajar dan manusiawi.

Kita bisa marah, kecewa, sedih, tetapi yang perlu dihindari adalah mengambil keputusan besar sebelum hati kembali tenang, karena emosi adalah pembawa pesan, bukan pemberi keputusan.

Marah sedang memberi tahu bahwa ada batas yang dilanggar, takut mengingatkan adanya risiko dan kecewa menunjukkan bahwa ada harapan yang tidak terpenuhi. Namun pesan tersebut tetap harus diproses oleh akal, nilai, pengalaman, dan pertimbangan yang matang sebelum diterjemahkan menjadi sebuah keputusan. Di sinilah spiritualitas memiliki peran penting. Ketika hati sedang penuh, diam sejenak bukan berarti lemah. Berhenti sejenak untuk berdoa bukan berarti tidak bertindak. Menunda keputusan bukan berarti kehilangan keberanian. Justru, terkadang jeda adalah bentuk kedewasaan.

Ambillah waktu untuk menenangkan diri. Berwudu, salat, berdoa, berdzikir, atau sekadar mengambil napas dan memberikan ruang bagi pikiran untuk kembali jernih. Dalam keheningan itu, kita belajar memisahkan antara apa yang kita rasakan dan apa yang seharusnya kita lakukan.

Ada kalanya hati ingin membalas, tetapi iman mengajarkan memaafkan. Ada kalanya ego ingin menang sendiri, tetapi akal sehat mengajarkan mencari jalan terbaik. Ada kalanya kita ingin menyerah karena tekanan, tetapi keyakinan kepada Allah mengingatkan bahwa setiap masalah memiliki jalan keluar.

Inilah bentuk kedewasaan yang sesungguhnya: bukan menjadi manusia tanpa emosi, melainkan menjadi
manusia yang mampu mengelola emosi dengan kesadaran. Jangan kesampingkan emosi, tetapi kenali, dengarkan, dan pahami. Biarkan akal menjadi penunjuk
arah, pengalaman menjadi pelajaran, nilai menjadi kompas, dan iman menjadi cahaya yang menerangi perjalanan.

Dalam kehidupan pengambilan keputusan bukan sekadar tentang seberapa cepat kita bertindak, tetapi tentang seberapa jernih kita memahami alasan di balik keputusan itu. Kita mungkin tidak mampu mengendalikan semua keadaan. Kita tidak selalu bisa menghindari tekanan,
kekecewaan, konflik, kelelahan, ataupun perubahan keadaan.

Tetapi kita selalu memiliki kesempatan
untuk memilih respons yang lebih bijaksana. Jangan biarkan emosi menjadi pengemudi kehidupan, biarkan jadi penumpang yang didengar,
sementara akal, hati, dan iman tetap memegang kemudi. Keputusan yang lahir dari kejernihan mungkin tidak selalu menghasilkan jalan yang mudah, tetapi insyaallah akan membawa kita pada jalan yang lebih bermakna.(fsy)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Redaksi Harmoni

Redaksi Harmoni

Info Terkait

Langit Membuka Jalan, “Mastakung” jadi Kenyataan
Hikmah

Langit Membuka Jalan, “Mastakung” jadi Kenyataan

Jumat, 21 Agustus 2026
Mengangkatnya ke Langit, lalu Menjatuhkannya ke Tanah
Hikmah

Mengangkatnya ke Langit, lalu Menjatuhkannya ke Tanah

Jumat, 14 Agustus 2026
81 Tahun Merdeka, Kita Masih Terjajah oleh Hati yang Kehilangan Nurani.
Hikmah

81 Tahun Merdeka, Kita Masih Terjajah oleh Hati yang Kehilangan Nurani.

Jumat, 7 Agustus 2026
Membangun Perasaan Sosial di Era Individualisme
Hikmah

Membangun Perasaan Sosial di Era Individualisme

Jumat, 31 Juli 2026
Hikmah

Berani Menjadi Benar, Bukan Sekadar Disukai

Jumat, 24 Juli 2026
Mengukur Hidup dengan Timbangan Manfaat
Hikmah

Mengukur Hidup dengan Timbangan Manfaat

Jumat, 17 Juli 2026

Info Terbaru

Dampak Membiarkan Emosi Jadi “Pengemudi”

Dampak Membiarkan Emosi Jadi “Pengemudi”

Jumat, 28 Agustus 2026

Liputan Khusus Peluncuran Jejaring GENTING

Kamis, 27 Agustus 2026

Rayakan Ulang Tahun Emas ke-50, PT Dirgantara Indonesia Gelar Pagelaran Wayang Golek dan Wayang Kulit Semalam Suntuk

Kamis, 27 Agustus 2026

Wajada Dorong Generasi Muda Kenali Budaya dari Tiga Zona Jawa Barat

Rabu, 26 Agustus 2026

Video

  • All
  • Video

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Bandung 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Liputan Khusus “Gebyar Manasik Akbar” MHU

Senin, 15 Juni 2026
Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Jumat, 20 Maret 2026
Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Rabu, 18 Maret 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist