• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Senin, 5 Oktober 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

Membangun Perasaan Sosial di Era Individualisme

Redaksi Harmoni oleh Redaksi Harmoni
Jumat, 31 Juli 2026
in Hikmah
0 0
Membangun Perasaan Sosial di Era Individualisme


Oleh : Febri Satria Yazid

*pemerhati sosial

Hubungan antarmanusia menghadapi tantangan yang semakin besar. Kemajuan teknologi memang memudahkan komunikasi, tetapi belum tentu mempererat kedekatan emosional. Tidak sedikit orang yang memiliki ribuan teman di media sosial, namun tetap merasa kesepian.

Banyak pula komunitas
yang terlihat aktif, tetapi di dalamnya dipenuhi rasa curiga, persaingan, dan kepentingan pribadi.

Realitas ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar
interaksi, yaitu perasaan sosial.
Psikolog Alfred Adler menjelaskan bahwa hampir seluruh persoalan manusia berakar pada hubungan interpersonal.

Dari hubungan itulah lahir kebahagiaan atau ketidak nyamanan. Ketika seseorang mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain, ia akan merasakan kehidupan yang lebih
bermakna. Sebaliknya, ketika hubungan dipenuhi konflik, rasa tidak percaya, dan egoisme, kebahagiaan menjadi semakin sulit diraih.


Perasaan sosial dapat dipahami sebagai kesadaran bahwa setiap manusia adalah bagian dari kehidupan bersama. Bukan hanya tentang rasa simpati atau empati, melainkan juga kesediaan untuk hidup
berdampingan, saling membantu, dan merasa memiliki tempat di tengah masyarakat.

Perasaan sosial tumbuh ketika seseorang tidak lagi hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi mulai melihat keberadaan
orang lain sebagai bagian dari kehidupannya.

Masyarakat sesungguhnya terbentuk dari unit terkecil yang sangat sederhana, yaitu “aku dan kamu”. Dari hubungan dua individu inilah lahir keluarga, kelompok, komunitas, hingga bangsa. Oleh karena
itu, kualitas sebuah masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas hubungan antarmanusia di dalamnya.

Ketika setiap individu hanya mengejar kepentingan pribadi, kehidupan sosial akan kehilangan maknanya. Namun ketika setiap orang mulai peduli terhadap sesamanya, masyarakat akan menjadi
tempat yang aman dan menumbuhkan rasa memiliki.

Sayangnya, banyak orang masih terjebak dalam kebutuhan untuk selalu diakui oleh lingkungannya. Mereka takut ditolak, takut dikucilkan, atau takut kehilangan status sosial. Akibatnya, energi hidup
lebih banyak dihabiskan untuk menjaga citra dibandingkan membangun hubungan yang tulus.


Kehidupan menjadi monoton karena perhatian hanya berputar pada diri sendiri dan lingkungan yang
itu-itu saja.

Menurut Adler, kekosongan batin sering kali muncul ketika seseorang gagal menjalankan tanggung jawab sosialnya. Hidup yang hanya berpusat pada kepentingan pribadi pada akhirnya melahirkan rasa hampa.

Sebaliknya, orang yang aktif memberi manfaat kepada orang lain biasanya memiliki tujuan hidup yang lebih jelas dan kebahagiaan yang lebih mendalam.


Salah satu fondasi utama perasaan sosial adalah kepercayaan. Kepercayaan membuat seseorang memandang orang lain sebagai rekan seperjuangan, bukan sebagai ancaman. Dari sinilah tumbuh rasa nyaman yang membuat seseorang berkata, “Aku merasa diterima di sini.”
Dalam lingkungan yang sehat, setiap orang dapat menyampaikan pendapat tanpa rasa takut.

Tidak ada kecurigaan berlebihan, tidak ada kekhawatiran dimanfaatkan, apalagi upaya pembunuhan karakter
melalui penyebaran opini negatif. Kepercayaan menciptakan ruang bagi setiap individu untuk berkembang dan berkontribusi.

Sebaliknya, ketika kepercayaan hilang, rasa curiga mulai mendominasi. Orang menjadi mudah berprasangka, sulit bekerja sama, bahkan membentuk kelompok-kelompok kecil yang hanya
mempercayai lingkarannya sendiri.

Polarisasi seperti ini semakin sering terlihat dalam kehidupan masyarakat modern, baik di lingkungan kerja, organisasi, komunitas, maupun media sosial. Akibatnya, tujuan bersama menjadi sulit diwujudkan karena setiap kelompok lebih sibuk mempertahankan kepentingannya masing-masing.


Perasaan sosial juga menuntut seseorang untuk menjadi bagian dari solusi. Ketika melihat persoalan kecil sekalipun, ia tidak menambah masalah, melainkan hadir untuk membantu menyelesaikannya.


Sikap seperti inilah yang membuat keberadaan seseorang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh lingkungan. Perasaan sosial tidak cukup hanya dibangun melalui penerimaan diri atau keyakinan kepada orang lain,
tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata berupa kontribusi. Kontribusi berarti memberikan sesuatu yang bernilai bagi orang lain, baik berupa waktu, tenaga, ilmu, pengalaman, maupun perhatian.


Saat seseorang membantu orang lain mencapai keberhasilan atau bersama-sama menciptakan sesuatu
yang bermanfaat, sesungguhnya ia sedang memperkuat kualitas kemanusiaannya sendiri.

Al-Qur’an menegaskan prinsip yang sama dalam Surah Al-Isra ayat 7, bahwa apabila manusia berbuat baik, sesungguhnya kebaikan itu kembali kepada dirinya sendiri. Artinya, setiap kontribusi yang
diberikan kepada masyarakat pada akhirnya akan membentuk kualitas kehidupan pribadi yang lebih
baik.

Kebahagiaan bukanlah hasil dari keberhasilan mengumpulkan harta, jabatan, atau pengakuan sosial
semata. Kebahagiaan lahir ketika seseorang mampu keluar dari belenggu ego dan mulai membangun hubungan yang sehat dengan sesama. Perasaan sosial mengajarkan bahwa kehidupan bukan sekadar tentang “aku”, tetapi tentang “kita”.

Ketika setiap individu merasa memiliki tanggung jawab untuk saling membantu, saling percaya, dan saling menguatkan, masyarakat akan menjadi tempat yang
menghadirkan rasa aman, nyaman, dan penuh harapan.(fsy)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Redaksi Harmoni

Redaksi Harmoni

Info Terkait

Saat Panggilan Tuhan Tak Lagi Membuat Hati Kita Tergerak
Hikmah

Saat Panggilan Tuhan Tak Lagi Membuat Hati Kita Tergerak

Jumat, 2 Oktober 2026
Kita Hanya Melihat Satu Halaman
Hikmah

Kita Hanya Melihat Satu Halaman

Jumat, 2 Oktober 2026
Kehilangan Ternyata Jalan Menuju Pertemuan (Merasa Dirugikan oleh Takdir, Belajarlah dari Bunyamin)
Hikmah

Kehilangan Ternyata Jalan Menuju Pertemuan (Merasa Dirugikan oleh Takdir, Belajarlah dari Bunyamin)

Jumat, 25 September 2026
Belajar “Pulang” dari Kisah Nabi Yunus
Hikmah

Belajar “Pulang” dari Kisah Nabi Yunus

Jumat, 18 September 2026
Belajar tentang Integritas kepada Nabi Ayyub
Hikmah

Belajar tentang Integritas kepada Nabi Ayyub

Jumat, 11 September 2026
Kerusakan Bumi karena Ulah Manusia yang Salah
Hikmah

Kerusakan Bumi karena Ulah Manusia yang Salah

Rabu, 9 September 2026

Info Terbaru

Bagaimana Cara agar Hati tetap Utuh Iman tidak Runtuh? Ikuti “Tadabbur Ayat Chapter 2” bersama Teh Ufah Baheej

Minggu, 4 Oktober 2026
🔴 LIVE • MADRASAH LANSIA HUSNUL KHATIMAH CIMAHI : Sesi 10 | ANGKATAN 1 TAHUN 2026

🔴 LIVE • MADRASAH LANSIA HUSNUL KHATIMAH CIMAHI : Sesi 10 | ANGKATAN 1 TAHUN 2026

Minggu, 4 Oktober 2026
Ruang Belajar dan Bermain Kreativitas Bagi Masyarakat (CIPTAKAN INVESTASI ILMU SEJAK DINI)

Ruang Belajar dan Bermain Kreativitas Bagi Masyarakat (CIPTAKAN INVESTASI ILMU SEJAK DINI)

Sabtu, 3 Oktober 2026
KAJIAN SPESIAL • Menumbuhkan CINTA, Menguatkan KELUARGA.. • ABAH IFANK

KAJIAN SPESIAL • Menumbuhkan CINTA, Menguatkan KELUARGA.. • ABAH IFANK

Sabtu, 3 Oktober 2026

Video

  • All
  • Video

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Bandung 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Liputan Khusus “Gebyar Manasik Akbar” MHU

Senin, 15 Juni 2026
Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Jumat, 20 Maret 2026
Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Rabu, 18 Maret 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist