Oleh: Febri Satria Yazid
Ada manusia yang begitu mudah mengucapkan Alhamdulillah ketika hidup sedang baik-baik saja.
Ketika rezeki mengalir, keluarga berkumpul, tubuh sehat, usaha berkembang, rumah terasa hangat, dan masa depan terlihat menjanjikan, lidah begitu ringan memuji Allah.
Bagaimana jika semuanya tiba-tiba berubah, rekening yang selama ini cukup mulai kosong, usaha yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan bulan, orang-orang yang kita cintai satu per satu pergi, tubuh yang selama ini kuat tiba-tiba tak lagi mampu diajak bekerja?
Bagaimana jika kita berdoa, tetapi
pertolongan yang kita tunggu seolah tak kunjung datang? Di sinalah iman tidak lagi sekadar kata, kesabaran tidak lagi sekadar nasihat dan integritas iman diuji.
Kisah Nabi Ayyub AS bukan hanya kisah tentang seorang nabi yang sabar menghadapi penyakit.
Lebih dari itu, kisah beliau adalah kisah tentang kesetiaan kepada Allah ketika hampir seluruh alasan duniawi untuk merasa bahagia telah direnggut.
Nabi Ayyub pernah berada dalam keadaan penuh kenikmatan, harta, keluarga, kesehatan, semuanya
ada.
Kehidupan berjalan baik, namun kemudian, tiba-tiba mengalami peristiwa yang di luar dugaannya.
Harta ludes dalam sekejap, kehilangan keluarga, tubuh yang sehat ditimpa penyakit berat dalam waktu
yang panjang.
Kehidupan sedang mengajukan satu pertanyaan yang sangat tajam, “apakah engkau mencintai Allah
karena karunia-Nya, atau karena Allah itu memang layak dicintai?” Inilah titik paling dalam dari integritas.
Integritas bukanlah tetap baik ketika keadaan menguntungkan kita, tetapi tetap menjadi orang yang sama ketika kenikmatan itu sudah tidak ada.
Banyak orang merasa dekat dengan Allah ketika hidupnya sedang indah, rezeki bertambah, keluarga utuh, lalu berkata, “Allah sayang kepada saya.” dan yang bersangkutan semakin rajin bersyukur, dia
merasa Allah sedang memeluk kehidupannya.
Bagaimana kalau bisnis bangkrut, hutang datang, tubuh mulai sakit, rencana berantakan, doa belum juga menemukan jawaban dan malah muncul pertanyaan, “Mengapa Allah melakukan ini kepadaku?”.
Di sinilah kisah Nabi Ayyub menjadi cermin. Beliau kehilangan banyak hal, tetapi beliau tidak kehilangan Allah.
Hubungannya dengan Allah tidak ikut runtuh bersama runtuhnya kenikmatan dunia. Al-Qur’an mengabadikan doa Nabi Ayyub: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan
Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)Nabi Ayyub mengakui rasa sakitnya, tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja dan mengatakan bahwa dirinya sedang
ditimpa penyakit.
Nabi Ayyub tidak berkata, “Mengapa Engkau melakukan ini kepadaku?”, tetapi justru berkata : “Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang.”
Inilah integritas iman. Ketika keadaan
berubah, keyakinan tidak ikut berubah, tidak mengukur kasih sayang Allah dari kenikmatan.
Kita sering keliru membaca kehidupan, mengira ketika mendapatkan sesuatu berarti Allah sedang menyayangi kita dan ketika kehilangan sesuatu, kita mengira Allah sedang meninggalkan kita.
Padahal tidak selalu demikian, ada kehilangan yang justru mendewasakan dan kesulitan yang dialami untuk
membersihkan hati.
Adakalanya kegagalan yang menyelamatkan kita dari jalan yang salah, ada sesuatu yang tidak sesuai
dengan keinginan kita, tetapi justru membawa kita kembali kepada Tuhan. Manusia hanya melihat halaman hari ini, beda dengan Allah mengetahui keseluruhan cerita.
Kesabaran Nabi Ayyub bukanlah duduk diam tanpa usaha. Nabi Ayyub tetap menjaga kehormatan diri, tetap berdoa, tetap berprasangka baik kepada Allah, sambil menerima bahwa ada sesuatu yang berada di luar kemampuan manusia.
Pertolongan itu akhirnya datang.
Allah memerintahkan Nabi Ayyub menghentakkan kakinya ke bumi.
Kemudian memancarlah air yang menjadi sarana penyembuhan baginya.
Kesehatannya dipulihkan dan
karunia Allah dikembalikan kepadanya.
Pelajaran kehidupan yang dapat kita petik adalah ketika hari ini hidup tidak berjalan seperti yang kita harapkan, jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa Allah sedang menjauh.
Nabi Ayyub mengajarkan
sebuah rahasia kehidupan yang sangat dalam bahwa seorang hamba boleh kehilangan banyak hal, tetapi
jangan sampai kehilangan Allah.
Kebahagiaan sejati bukanlah ketika kita memiliki semua yang kita inginkan, tetapi ketika hati tetap memiliki Allah dalam keadaan apa pun, itulah integritas iman.
Nabi Ayyub telah menunjukkan kepada kita bahwa yang menentukan kekuatan seorang hamba bukanlah seberapa banyak yang masih dimilikinya, tetapi kepada siapa hatinya tetap berpaut ketika
semuanya telah hilang.
Allah tidak pernah menyia-nyiakan kesabaran orang-orang yang tetap setia
kepada-Nya.(fsy)






