• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Jumat, 24 Juli 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

Berani Menjadi Benar, Bukan Sekadar Disukai

TV Harmoni oleh TV Harmoni
Jumat, 24 Juli 2026
in Hikmah
0 0

Oleh : Febri Satria Yazid
Pemerhati sosial

“Saya tidak bisa memberimu rumus yang pasti untuk meraih kesuksesan, tetapi saya bisa memberimu rumus untuk kegagalan, yaitu berusaha menyenangkan semua orang setiap saat.”
— Herbert Bayard Swope



Ungkapan Herbert Bayard Swope mengandung pelajaran hidup yang sangat dalam. Banyak orang menghabiskan waktu, tenaga, bahkan mengorbankan prinsip hidup hanya agar diterima dan disukai oleh semua orang.

Semakin keras seseorang berusaha menyenangkan setiap orang, semakin besar kemungkinan ia kehilangan arah, jati diri, bahkan kebahagiaannya sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menghadapi situasi yang mengharuskan kita memilih. Apakah  kita akan mengikuti suara hati yang benar, atau mengikuti keinginan orang lain demi memperoleh pujian dan pengakuan?

Pilihan inilah yang sering menjadi titik awal keberhasilan atau justru kegagalan. Islam memberikan panduan yang sangat jelas mengenai hal ini.

Seorang Muslim diajarkan untuk mencari ridha Allah, bukan menjadikan penilaian manusia sebagai tujuan utama hidup.

Ketika seseorang menempatkan ridha Allah di atas segala-galanya, ia akan memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang benar meskipun tidak selalu populer.

Allah SWT berfirman: “Dan keridaan Allah itu lebih besar.” (QS. At-Taubah: 72)

Ayat ini mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan seorang mukmin bukanlah banyaknya orang yang memuji atau menyukainya, melainkan apakah Allah meridhai setiap langkah yang diambil.

Rasulullah SAW juga bersabda: “Barang siapa mencari keridaan Allah meskipun manusia membencinya, maka Allah akan mencukupkannya dari manusia. Dan barang siapa mencari keridaan manusia dengan kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkannya kepada manusia.” (HR. Ibnu Hibban)

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat relevan dengan kehidupan modern. Ketika seseorang  terlalu bergantung pada penilaian manusia, hidupnya akan dipenuhi kecemasan.

Ia takut dikritik, takut ditolak, takut mengecewakan orang lain, sehingga akhirnya tidak berani mengambil keputusan yang benar.

Sebaliknya, orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan utama akan memiliki ketenangan batin. Ia tetap menghormati pendapat orang lain, tetapi tidak menjadikan pujian maupun celaan sebagai penentu arah hidupnya.

Namun, bukan berarti Islam mengajarkan kita untuk bersikap kasar, egois, atau tidak peduli terhadap perasaan orang lain. Islam justru mengajarkan akhlak yang mulia, kelembutan, dan kasih sayang.

Yang perlu dibedakan adalah antara berbuat baik kepada semua orang dengan berusaha menyenangkan semua orang.

Kita diperintahkan untuk bersikap santun, membantu sesama, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, berlaku adil, dan menjaga hubungan yang baik dengan masyarakat.

Baca juga  Disiplin dan Dignity Sebagai Laku Hidup

Akan tetapi, berusaha menyenangkan semua orang sering kali membuat seseorang mengorbankan nilai-nilai yang benar.

Misalnya, seorang pegawai diminta memalsukan laporan demi menyenangkan atasannya. Seorang pengusaha diminta memberikan suap agar proyeknya disetujui. Seorang teman diminta ikut melakukan perbuatan yang salah agar tidak dianggap tidak setia.

Dalam kondisi seperti ini, seorang Muslim harus memiliki keberanian untuk berkata, “Tidak.”

Keberanian menolak kebatilan bukanlah bentuk permusuhan, melainkan wujud keteguhan iman. Integritas berarti tetap melakukan yang benar meskipun harus menghadapi risiko tidak disukai.

Dalam dunia kerja maupun bisnis, prinsip ini memiliki makna yang sangat besar. Tidak semua pelanggan akan puas. Tidak semua rekan kerja akan sepakat dengan keputusan kita. Tidak semua mitra
akan menyukai ketegasan kita dalam menjaga kejujuran.

Jika seorang pengusaha terus-menerus mengikuti semua keinginan pelanggan tanpa mempertimbangkan aturan, kualitas, dan etika, lambat laun usahanya akan kehilangan identitas.

Sebaliknya, bisnis yang dibangun di atas kejujuran, amanah, dan profesionalisme mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk berkembang, tetapi akan memiliki fondasi yang kuat dan mendapatkan kepercayaan jangka panjang.

Begitu pula dalam kehidupan keluarga. Orang tua yang selalu memenuhi semua keinginan anak bukan berarti sedang menyayangi anaknya. Justru kasih sayang yang benar terkadang diwujudkan dengan mengatakan “tidak” ketika permintaan anak dapat merusak karakter atau masa depannya.

Dalam pergaulan pun demikian. Tidak semua ajakan teman harus diikuti. Menolak ajakan yang bertentangan dengan nilai agama bukan berarti memutuskan persahabatan, melainkan menjaga diri agar tetap berada di jalan yang benar.

Kesuksesan sejati lahir dari kemampuan menjaga prinsip di tengah tekanan. Orang yang memiliki integritas akan tetap jujur meskipun tidak diawasi, tetap amanah meskipun memiliki kesempatan untuk berkhianat, dan tetap rendah hati ketika memperoleh keberhasilan.

Jangan jadikan penerimaan manusia sebagai ukuran keberhasilan. Jadikanlah kebenaran sebagai kompas, integritas sebagai pegangan, dan ridha Allah sebagai tujuan akhir.

Kesuksesan bukanlah ketika semua orang memuji kita, melainkan ketika kita mampu mempertahankan nilai-nilai kebenaran dalam setiap keputusan yang kita ambil.

Sebaliknya, kegagalan sering kali dimulai ketika kita rela mengorbankan prinsip hanya demi memperoleh tepuk tangan manusia.(fsy)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Tags: Febri Satria Yazid
TV Harmoni

TV Harmoni

Info Terkait

Mengukur Hidup dengan Timbangan Manfaat
Hikmah

Mengukur Hidup dengan Timbangan Manfaat

Jumat, 17 Juli 2026
RUMAH RADEN SALEH
Hikmah

RUMAH RADEN SALEH

Selasa, 14 Juli 2026
PUYENG BERBAHASA
Hikmah

PUYENG BERBAHASA

Senin, 13 Juli 2026
Upgrade Diri Dimulai dari Mengenal Siapa Dirimu
Hikmah

Upgrade Diri Dimulai dari Mengenal Siapa Dirimu

Jumat, 10 Juli 2026
Emas Muktamar
Hikmah

Emas Muktamar

Rabu, 8 Juli 2026
Cerita Pak Lambang
Hikmah

Cerita Pak Lambang

Rabu, 8 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist