Oleh : Febri Satria Yazid
Ada fenomena menarik dalam hubungan sosial yang sering kita jumpai, tetapi jarang kita renungkan secara mendalam yaitu seseorang yang dahulu begitu mengagumi, memuji, membela, bahkan
menempatkan seseorang hampir seperti “idola”, tiba-tiba berubah menjadi orang yang paling keras mencela dan membencinya.
Kemarin memuji setinggi langit dan membelanya ketika orang lain mengkritik . Hari ini, seolah-olah tidak ada sedikit pun kebaikan pada diri orang yang awalnya dikagumi, sekarang berbalik menjadi
orang yang paling rajin mencari kesalahan.
Bahkan, dalam ungkapan yang lebih ekstrim, orang yang dahulu dielu-elukan seakan ingin “diludahi”. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kekaguman hampir selalu melahirkan ekspektasi, menempatkan orang lain terlalu tinggi, bukan hanya melihat siapa orang tersebut,tetapi juga membangun gambaran ideal tentangnya.
Berharap orang yang dikagumi selalu benar, selalu baik, selalu konsisten, selalu memenuhi harapan, dan selalu sesuai dengan citra yang telah terbentuk di dalam pikirannya.
Masalah muncul ketika realitas tidak lagi sesuai dengan gambaran tersebut. Seseorang yang dianggap sempurna ternyata memiliki kelemahan. Orang yang dianggap sangat tulus ternyata pernah
mengecewakan. Orang yang dianggap paling dapat dipercaya ternyata mengambil keputusan yang tidak
sesuai harapan. Di titik itulah kekaguman mulai retak.
Kekecewaan terhadap orang yang tidak terlalu kita kenal biasanya mudah dilewati. Namun, kekecewaan terhadap orang yang pernah kita puja terasa jauh lebih menyakitkan. Mengapa?
Karena yang runtuh bukan hanya hubungan dengan orang tersebut, tetapi juga gambaran yang selama
ini kita bangun tentang dirinya.
Ada konflik di dalam diri: “Bagaimana mungkin orang yang selama ini
saya anggap hebat ternyata bisa melakukan hal seperti itu?”
Semakin tinggi seseorang ditempatkan, semakin besar pula jurang ketika ia jatuh dari tempat tersebut.
Karena itu, tidak mengherankan jika orang yang dahulu paling mengagumi terkadang justru menjadi
orang yang paling kecewa.
Dalam psikologi, terdapat fenomena yang sering disebut idealization and devaluation—kecenderungan
melihat seseorang secara sangat ideal, kemudian berbalik menilai orang yang sama secara sangat negatif
ketika ekspektasi tidak terpenuhi.
Yang menarik, perubahan tersebut tidak selalu terjadi karena orang yang bersangkutan berubah secara
drastis. Kadang-kadang yang berubah adalah cara kita memandangnya.
Dahulu kesalahannya dianggap kecil. Kini kesalahan yang sama dianggap sebagai bukti bahwa ia memang buruk.
Dahulu kekurangannya dianggap manusiawi. Kini kekurangan itu dijadikan alasan untuk merendahkannya.
Dahulu keberhasilannya dianggap luar biasa. Kini keberhasilan yang sama mungkin dianggap sebagai keberuntungan atau bahkan sesuatu yang patut dicurigai.
Realitasnya mungkin tidak berubah sedrastis.persepsi kita, tetapi persepsi telah berubah. Pertanyaan yang lebih menarik adalah mengapa seseorang tidak cukup berkata, “Saya kecewa dan tidak
lagi mengaguminya”? Mengapa harus berubah menjadi kebencian? Salah satu jawabannya adalah kebutuhan manusia untuk membenarkan perubahan sikapnya sendiri.
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun memuji, membela, mengikuti, atau bahkan
mengorbankan sesuatu demi orang yang dikaguminya, kemudian kecewa.
Jika kita mengakui bahwa orang tersebut sebenarnya tidak seburuk yang kita pikirkan, kita harus berhadapan dengan pertanyaan: “Lalu mengapa dulu saya begitu mengaguminya?”
Pertanyaan itu bisa menyakitkan ego. Maka, salah satu jalan termudah adalah melakukan pembalikan
total “Bukan saya yang salah menilai, tetapi dia memang dari dulu buruk.” Dengan demikian, kebencian terkadang bukan semata-mata tentang keburukan orang lain. Ia bisa menjadi mekanisme
untuk membenarkan keputusan dan perasaan kita sendiri.
Sering kali, semakin tinggi seseorang pernah menempatkan orang lain, semakin besar pula kemarahan ketika harapannya runtuh. Orang yang dahulu dianggap panutan bisa berubah menjadi simbol
kekecewaan, yang dahulu dipercaya bisa dianggap sebagai pengkhianat dan yang dahulu dibela bisa menjadi orang yang diserang.
Karena itu, jangan selalu menganggap bahwa kebencian yang sangat besar berarti tidak pernah ada
kekaguman. Dalam beberapa kasus justru sebaliknya. Kebencian yang sangat kuat bisa lahir dari
kekaguman yang pernah sangat besar, kemudian berubah menjadi luka dan kekecewaan.
Tidak semua perubahan sikap berarti kemunafikan Kita juga harus berhati-hati bahwa tidak setiap orang
yang dahulu mengagumi kemudian menjauh adalah orang yang tidak konsisten. Manusia boleh saja
berubah pandangan.
Seseorang boleh menemukan fakta baru, mengalami pengalaman buruk, atau menyadari bahwa penilaiannya dahulu ternyata keliru. Itu adalah bagian dari proses kedewasaan. Yang patut dipertanyakan bukan perubahan sikapnya, melainkan cara perubahan itu dilakukan.
Berhenti mengagumi adalah hak, tetapi ketika kekecewaan berubah menjadi penghinaan, fitnah, pembunuhan karakter, atau upaya sistematis untuk menjatuhkan orang yang dahulu dipuja, kita perlu bertanya: Apakah ini benar-benar kritik terhadap orang lain, atau sebenarnya sedang terjadi pergulatan
dengan ego diri sendiri?
Lebih berbahaya lagi apabila hubungan sebelumnya sangat dekat, memiliki lebih banyak informasi, cerita, dan pengalaman untuk digunakan ketika hubungan berubah menjadi konflik. Di sinilah
pentingnya membangun hubungan bukan atas dasar pemujaan, melainkan atas dasar kepercayaan, nilai,
profesionalisme, dan keterbukaan.
Sebab hubungan yang dibangun di atas pemujaan sering kali rapuh.
Pelajaran terpentingnya adalah jangan menempatkan manusia terlalu tinggi. Tidak ada manusia yang
sempurna. Orang yang hari ini kita kagumi tetap memiliki kekurangan. Orang yang hari ini mengecewakan kita juga mungkin masih memiliki kebaikan.
Lebih sehat melihat manusia sebagai manusia: ada kelebihan, ada kekurangan, ada keberhasilan, ada kesalahan, ada kebaikan, ada kelemahan. Dengan cara pandang seperti itu, ketika seseorang
mengecewakan kita, kita tidak perlu menghancurkan seluruh gambaran tentang dirinya.
“Saya kecewa terhadap sikapnya, tetapi saya tidak harus membenci seluruh dirinya.”. Hubungan sosial yang sehat tidak dibangun dari pemujaan, tetapi dari penghargaan yang realistis. Jangan mengagumi seseorang sampai kehilangan kemampuan untuk melihat kekurangannya.
Jangan membenci seseorang sampai kehilangan kemampuan untuk mengakui kebaikannya. Sebab orang yang hari ini kita puja belum tentu selalu benar. Dan orang yang hari ini kita benci belum tentu
seluruh hidupnya salah.(fsy)














