• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Jumat, 7 Agustus 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

81 Tahun Merdeka, Kita Masih Terjajah oleh Hati yang Kehilangan Nurani.

Redaksi Harmoni oleh Redaksi Harmoni
Jumat, 7 Agustus 2026
in Hikmah
0 0
81 Tahun Merdeka, Kita Masih Terjajah oleh Hati yang Kehilangan Nurani.

Oleh : Febri Satria Yazid


” Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena
melawan bangsamu sendiri.” -Ir. Soekarno

Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka. Bendera Merah Putih berkibar di setiap sudut negeri. Lagu kebangsaan dinyanyikan dengan penuh kebanggaan. Berbagai pembangunan telah mengubah
wajah bangsa. Namun di balik kemajuan itu, masih tersimpan pertanyaan yang mengusik hati, benarkah kita telah benar-benar merdeka?


Ucapan Bung Karno di atas terasa semakin relevan. Bapak Proklamator seolah telah melihat jauh ke depan bahwa musuh terbesar bangsa setelah kemerdekaan bukan lagi tentara asing, melainkan hilangnya empati, lunturnya integritas, dan melemahnya rasa kemanusiaan di antara sesama anak
bangsa.

Beberapa waktu lalu, masyarakat kembali terusik oleh berbagai peristiwa yang menyayat hati. Salah
satunya adalah kisah Yurizal yang ramai diberitakan. Menurut berbagai laporan media, sebelum meninggal dunia ia diduga mengalami kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan dan keluarganya
juga menyampaikan adanya perlakuan yang dianggap tidak manusiawi, termasuk dugaan penghinaan terkait penggunaan BPJS. Kasus tersebut masih menjadi perhatian publik dan menjadi bahan evaluasi berbagai pihak.


Terlepas dari proses hukum maupun klarifikasi yang berjalan, satu hal yang tidak dapat diabaikan adalah munculnya rasa takut di tengah masyarakat. Banyak orang mulai bertanya, apakah ketika mereka datang ke rumah sakit dengan kartu BPJS, mereka akan diperlakukan sama dengan pasien non BPJS?
Pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar administrasi, melainkan menyangkut kepercayaan publik.

Ironisnya, di era penjajahan Belanda dan Jepang, rakyat memang mengalami penderitaan akibat
penindasan dari bangsa lain. Kini, di negeri yang telah merdeka, luka justru terkadang datang dari sesama warga negara. Bentuknya mungkin bukan lagi cambuk atau senjata, melainkan pelayanan yang
tidak adil, penyalahgunaan wewenang, korupsi, pungutan liar, perundungan, diskriminasi, hingga hilangnya kepedulian terhadap penderitaan orang lain.

Tidak sedikit masyarakat kecil yang harus berjuang memperoleh hak-haknya. Ada yang kehilangan kesempatan berobat karena birokrasi yang rumit, ada yang menjadi korban praktik korupsi sehingga
pembangunan tidak dinikmati secara merata, ada pula yang kehilangan kepercayaan terhadap institusi karena merasa tidak diperlakukan secara adil. Semua itu adalah bentuk “penjajahan” baru yang tidak menggunakan senapan, tetapi mampu melukai martabat manusia.

Kemerdekaan sejatinya bukan hanya bebas dari kekuasaan bangsa asing. Kemerdekaan adalah ketika setiap warga negara merasa dihargai sebagai manusia, seorang pasien diterima dengan ramah tanpa melihat jenis pembiayaannya, aparat melayani tanpa meminta imbalan, pejabat mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi, guru mendidik dengan kasih, pengusaha berbisnis dengan jujur, dan masyarakat saling menguatkan.

Bung Karno memahami bahwa membangun karakter bangsa jauh lebih sulit daripada merebut kemerdekaan. Mengusir penjajah membutuhkan keberanian. Namun mengalahkan keserakahan, egoisme, dan hilangnya nurani membutuhkan perjuangan yang berlangsung setiap hari.

Di usia ke-81 kemerdekaan Indonesia, tantangan terbesar bukan lagi mempertahankan wilayah, melainkan mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. Kita membutuhkan lebih banyak orang yang memilih membantu daripada menghina, mendengar daripada menghakimi, dan melayani daripada
merasa dilayani.

Pelayanan publik, terutama pelayanan kesehatan, memiliki dimensi yang sangat mulia. Seorang tenaga kesehatan bukan sekadar menjalankan profesi, tetapi juga mengemban amanah kemanusiaan.

Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu menghargai para tenaga kesehatan yang setiap hari bekerja di bawah
tekanan besar. Sistem yang baik membutuhkan profesionalisme, pengawasan, dan saling menghormati
dari semua pihak.

Kasus-kasus yang menyita perhatian publik hendaknya menjadi pelajaran bersama, bukan sekadar bahan kemarahan sesaat. Setiap dugaan pelanggaran perlu diproses secara adil sesuai hukum, sementara setiap kelemahan sistem harus diperbaiki agar tidak terulang. Dari setiap tragedi, bangsa ini semestinya belajar untuk membangun pelayanan yang lebih manusiawi.

Kemerdekaan tidak akan bermakna jika rakyat masih sulit mendapatkan keadilan, orang miskin merasa minder untuk berobat dan jabatan lebih dihormati daripada kemanusiaan.

Mungkin inilah yang dimaksud Bung Karno. Perjuangan generasi penerus bukan lagi mengangkat bambu runcing, tetapi mengangkat kembali nilai-nilai kejujuran, empati, keadilan, dan tanggung jawab.

Musuh kita bukan lagi tentara asing, melainkan sikap apatis, penyalahgunaan kekuasaan, dan hati yang mulai kehilangan belas kasih.

Di usia 81 tahun Indonesia merdeka, apakah kita sudah menjadi bagian dari solusi, atau justru tanpa sadar menjadi bagian dari persoalan? Ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya dilihat dari gedung- gedung yang menjulang atau jalan-jalan yang mulus, tetapi dari bagaimana bangsa itu memperlakukan
manusia yang paling lemah di antara mereka.

Jika setiap anak bangsa mampu menjaga nurani, menghormati martabat sesama, dan menempatkan kemanusiaan di atas segala kepentingan, maka cita-cita para pendiri bangsa akan semakin mendekati
kenyataan.

Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya yaitu bebas dari ketidakadilan yang lahir dari tangan bangsa sendiri, bukan hanya bebas dari penjajah.(fsy)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Redaksi Harmoni

Redaksi Harmoni

Info Terkait

Membangun Perasaan Sosial di Era Individualisme
Hikmah

Membangun Perasaan Sosial di Era Individualisme

Jumat, 31 Juli 2026
Hikmah

Berani Menjadi Benar, Bukan Sekadar Disukai

Jumat, 24 Juli 2026
Mengukur Hidup dengan Timbangan Manfaat
Hikmah

Mengukur Hidup dengan Timbangan Manfaat

Jumat, 17 Juli 2026
RUMAH RADEN SALEH
Hikmah

RUMAH RADEN SALEH

Selasa, 14 Juli 2026
PUYENG BERBAHASA
Hikmah

PUYENG BERBAHASA

Senin, 13 Juli 2026
Upgrade Diri Dimulai dari Mengenal Siapa Dirimu
Hikmah

Upgrade Diri Dimulai dari Mengenal Siapa Dirimu

Jumat, 10 Juli 2026

Info Terbaru

81 Tahun Merdeka, Kita Masih Terjajah oleh Hati yang Kehilangan Nurani.

81 Tahun Merdeka, Kita Masih Terjajah oleh Hati yang Kehilangan Nurani.

Jumat, 7 Agustus 2026
Harmoni Wastra Nusantara Resmi Dibuka, Hadirkan 60 Booth UMKM dan Brand Fashion dari Berbagai Daerah

Harmoni Wastra Nusantara Resmi Dibuka, Hadirkan 60 Booth UMKM dan Brand Fashion dari Berbagai Daerah

Kamis, 6 Agustus 2026
Hampir 90 Persen Wilayah Pangandaran Blank Spot Siaran, KPID Jabar Bakal Bawa Masalah Ini ke Pusat

Hampir 90 Persen Wilayah Pangandaran Blank Spot Siaran, KPID Jabar Bakal Bawa Masalah Ini ke Pusat

Rabu, 5 Agustus 2026
HARMONI WASTRA NUSANTARA : Pameran Batik, Tenun, Bordir, Fashion, & Craft

HARMONI WASTRA NUSANTARA : Pameran Batik, Tenun, Bordir, Fashion, & Craft

Rabu, 5 Agustus 2026

Video

  • All
  • Video

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Bandung 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Liputan Khusus “Gebyar Manasik Akbar” MHU

Senin, 15 Juni 2026
Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Jumat, 20 Maret 2026
Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Rabu, 18 Maret 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist