• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Jumat, 4 September 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

Rakyat Lebih Terbiasa Bertahan daripada Negara

TV Harmoni oleh TV Harmoni
Jumat, 4 September 2026
in Hikmah
0 0

Oleh : Febri Satria Yazid

Ada sebuah cara pandang yang menarik dari Emha Ainun Najib: “Indonesia adalah bagian dari desa saya.”

Kalimat ini sekilas terdengar sederhana. Namun jika direnungkan lebih dalam, ia menyimpan cara pandang yang sangat luas tentang hubungan manusia dengan tanah air.

Desa bukan sekadar wilayah geografis. Desa adalah ruang kehidupan tempat manusia belajar tentang keterbatasan, gotong royong, kesabaran, dan bagaimana bertahan hidup dengan apa yang tersedia.

Maka ketika Indonesia disebut sebagai bagian dari “desa”, sesungguhnya kita sedang diajak untuk melihat Indonesia bukan hanya sebagai negara dengan gedung-gedung pemerintahan, anggaran negara, proyek pembangunan, dan berbagai kebijakan.

Indonesia adalah kumpulan kehidupan rakyat yang setiap hari berjuang menghidupi dirinya sendiri.

Sebuah kenyataan yang sering luput kita sadari bahwa rakyat sebenarnya jauh lebih terlatih menghadapi keterbatasan daripada pemerintah.

Rakyat sudah terbiasa ketika penghasilan berkurang, mengurangi belanja, mencari alternative, menciptakan pekerjaan, mengandalkan kepercayaan, jaringan pertemanan dan keluarga.

Rakyat belajar bertahan bukan dari teori ekonomi, tetapi dari pengalaman hidup. Seorang pedagang kecil tahu bagaimana memutar uang yang sedikit agar tetap menghasilkan.

Seorang ibu tahu bagaimana membagi uang belanja agar cukup sampai akhir bulan. Seorang petani tahu bagaimana membaca cuaca dan musim.

Seorang pengusaha kecil tahu kapan harus bertahan, kapan harus mengurangi biaya, dan kapan harus banting setir.

Sementara negara sering kali berpikir dalam kelimpahan: ada anggaran, ada kewenangan dan sumber daya. Ketika sistem tidak berjalan, persoalannya menjadi besar karena negara terbiasa mengandalkan sistem.

Berbeda dengan rakyat, ketika sistem tidak datang, mereka membuat jalannya sendiri, bantuan belum sampai, rakyat saling membantu.

Jika pemerintah belum hadir, tetangga lebih dahulu mengetuk pintu. Saat keadaan sulit, gotong royong sering kali menjadi “jaring pengaman sosial” yang sesungguhnya.

Rakyat adalah subjek kehidupan. Bahkan sering kali rakyat mempunyai kecerdasan yang tidak tercatat dalam statistik negara yakni kecerdasan untuk bertahan hidup.

Ada ukuran lain yang lebih mendasar yaitu seberapa kuat manusia di dalamnya menghadapi kesulitan tanpa kehilangan martabat? Pembangunan yang sesungguhnya bukan hanya membuat jalan menjadi mulus, tetapi membuat manusia mampu berjalan di atas jalan kehidupan dengan kepala tegak.

Di sinilah spiritualitas menemukan tempatnya. Ikhtiar adalah wilayah manusia. Hasil adalah wilayah Tuhan. Manusia wajib merencanakan sebaik mungkin, bekerja sekeras mungkin, menggunakan akal secerdas mungkin.

Tetapi setelah semuanya dilakukan, masih ada wilayah yang berada di luar kemampuan manusia.

Jika Indonesia adalah bagian dari desa kita, maka sudah semestinya kita memandang bangsa ini seperti  memandang rumah sendiri.

Kalau ada yang rusak, kita perbaiki, ada yang lapar, kita beri makan, ada yang tertinggal, digandeng dan jika ada yang salah, diingatkan.

Bukan justru sibuk menyalahkan penghuni rumah sambil merasa diri paling benar. Pemerintah adalah bagian dari rakyat yang diberi amanah untuk mengelola sebagian urusan bersama.

Karena itu, hubungan rakyat dan pemerintah semestinya bukan hubungan antara yang berkuasa dan yang dikuasai, melainkan hubungan antara amanah dan yang diamanahi.

Barangkali kita terlalu sering mengejar menjadi negara yang besar, lupa menjadi bangsa yang baik.

Ingin terlihat maju, tapi lupa memastikan manusia di dalamnya merasa aman, ingin pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi lupa bertanya apakah pertumbuhan itu juga menghadirkan keadilan.

Membangun banyak hal, tetapi terkadang lupa bahwa yang paling penting untuk dibangun adalah manusia dan akhlaknya.

Mungkin sudah saatnya Indonesia kembali menemukan kesadaran “desa”-nya. Bukan berarti mundur dan menolak kemajuan. Tetapi membawa nilai-nilai desa ke dalam kehidupan negara dengan semangat gotong royong, kesederhanaan, kepedulian, musyawarah, rasa cukup, dan kesadaran bahwa manusia hidup bukan sendirian.

Mungkin benar, Indonesia adalah bagian dari desa kita dan jika Indonesia adalah desa kita, jangan hanya bertanya: “Apa yang sudah diberikan negara kepada saya?” Sesekali tanyakan pula “Apa yang
sudah saya berikan kepada desa besar bernama Indonesia?”

Indonesia akan menjadi lebih baik ketika rakyatnya sadar bahwa mereka adalah pemilik kehidupan ini, pemerintah sadar bahwa ia sedang memegang amanah, dan keduanya sama-sama menyadari bahwa di atas segala kekuasaan manusia, ada Tuhan yang menjadi tempat kembali. Kita boleh hidup dalam keterbatasan, tetapi jangan pernah hidup tanpa harapan.

Selama masih ada ikhtiar, persaudaraan, dan Tuhan dalam hati, keterbatasan bukanlah akhir dari perjalanan. Ini hanyalah cara Tuhan mengajarkan kepada manusia bahwa kekuatan sejati tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi sering tumbuh justru dari kemampuan menerima, berjuang, berbagi, dan berserah.(fsy

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
TV Harmoni

TV Harmoni

Info Terkait

Rakyat Lebih Terbiasa Bertahan daripada Negara
Hikmah

Rakyat Lebih Terbiasa Bertahan daripada Negara

Jumat, 4 September 2026
Dampak Membiarkan Emosi Jadi “Pengemudi”
Hikmah

Dampak Membiarkan Emosi Jadi “Pengemudi”

Jumat, 28 Agustus 2026
Langit Membuka Jalan, “Mastakung” jadi Kenyataan
Hikmah

Langit Membuka Jalan, “Mastakung” jadi Kenyataan

Jumat, 21 Agustus 2026
Mengangkatnya ke Langit, lalu Menjatuhkannya ke Tanah
Hikmah

Mengangkatnya ke Langit, lalu Menjatuhkannya ke Tanah

Jumat, 14 Agustus 2026
81 Tahun Merdeka, Kita Masih Terjajah oleh Hati yang Kehilangan Nurani.
Hikmah

81 Tahun Merdeka, Kita Masih Terjajah oleh Hati yang Kehilangan Nurani.

Jumat, 7 Agustus 2026
Membangun Perasaan Sosial di Era Individualisme
Hikmah

Membangun Perasaan Sosial di Era Individualisme

Jumat, 31 Juli 2026
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist