• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Senin, 5 Oktober 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

Di Antara Absurd dan Harapan

Redaksi Harmoni oleh Redaksi Harmoni
Jumat, 1 Mei 2026
in Hikmah
0 0
Di Antara Absurd dan Harapan

Oleh : Febri Satria Yazid

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, penuh tekanan, dan sering kali tak terduga, satu pertanyaan klasik kembali mengemuka yaitu tentang apa sebenarnya makna hidup ini? Pertanyaan ini bukan hanya milik para filsuf, tetapi juga milik kita semua, yang setiap hari berjuang, merencanakan, kecewa, lalu bangkit lagi.

Pemikiran Fahruddin Faiz memberikan satu gambaran menarik tentang manusia ideal. Ia adalah sosok yang berani menerima dan menghadapi situasi hidup dengan kemandirian (berdikari). Ia tidak hanya siap hidup, tetapi juga siap mati. Dalam arti, ia tidak terjebak dalam kecemasan berlebihan ketika realitas tidak sesuai rencana. Hidup baginya bukan sesuatu yang harus selalu berjalan sempurna, melainkan sesuatu yang harus dijalani dengan kesiapan mental dan keteguhan hati.

Sikap seperti ini terasa semakin relevan hari ini. Banyak orang mengalami stres, kecemasan, bahkan kehilangan arah karena realitas tidak sesuai ekspektasi. Padahal, menurut perspektif ini, ketenangan justru lahir dari penerimaan bahwa hidup memang tidak selalu bisa dikendalikan, tetapi selalu bisa dihadapi.

Namun, di sisi lain, kita juga mengenal pemikiran dari Albert Camus, filsuf Prancis abad ke-20 yang terkenal dengan gagasan absurdisme. Camus melihat kehidupan sebagai sesuatu yang absurd, tidak memiliki makna pasti, tidak memiliki tujuan yang jelas, dan sering kali bertentangan dengan harapan manusia.

Bagi Camus, manusia adalah makhluk yang selalu mencari makna, tetapi hidup tidak pernah benar-benar memberikan jawaban yang memuaskan. Di sinilah absurditas itu muncul berupa benturan antara harapan manusia akan makna dan kenyataan hidup yang terasa hampa.

Dalam kondisi seperti ini, manusia bisa mengambil dua jalan ekstrem. Pertama, menyerah, bahkan sampai mengakhiri hidup karena merasa semuanya sia-sia. Kedua, justru tetap hidup dengan penuh kesadaran akan absurditas itu, tetapi memilih untuk “memberontak” dengan cara menjalani hidup tanpa ilusi.

Camus menyebut fenomena bunuh diri sebagai salah satu respons terhadap absurditas hidup. Bahkan ia menyebut ada yang memilih “bunuh diri filosofis” yakni menyerah secara eksistensial karena tidak menemukan makna hidup. Menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi di negara miskin, tetapi juga di negara maju. Artinya, masalahnya bukan sekadar ekonomi, melainkan kegagalan dalam memaknai hidup itu sendiri.

Di titik ini, kita seperti berdiri di persimpangan yaitu antara pesimisme yang dingin dan harapan yang hangat.

Lalu datanglah perspektif dari Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur. Ia menawarkan jalan yang berbeda yaitu jalan yang tidak menolak realitas sulit, tetapi juga tidak terjebak dalam keputusasaan.

Menurut Cak Nur, hidup memiliki tujuan yang sangat jelas dan mulia yakni bertemu dengan Allah (liqā’). Makna hidup tidak ditemukan dalam kepastian duniawi, tetapi dalam proses menuju tujuan tersebut melalui iman dan amal baik.

Dalam pandangan ini, hidup bukanlah sesuatu yang absurd, melainkan penuh makna, meskipun sering kali tidak langsung kita pahami. Setiap peristiwa, baik maupun buruk, adalah bagian dari skenario Ilahi yang mengandung hikmah.

Di sinilah letak perbedaan mendasar. Jika Camus melihat hidup sebagai sesuatu yang kosong dari makna objektif, maka Cak Nur melihat hidup sebagai perjalanan yang sarat makna transenden.

Bahkan dalam praktik sederhana seperti zikir dengan mengucapkan Subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu akbar, tersimpan filosofi yang dalam. Ucapan Subhanallah  mengajarkan bahwa Allah Maha Suci dari segala prasangka buruk manusia. Artinya, apa pun yang terjadi dalam hidup ini bukanlah sesuatu yang sia-sia atau keliru.

Dengan kesadaran ini, manusia tidak lagi mudah terjebak dalam kebencian terhadap takdir. Ia belajar menerima, memahami, dan bahkan mensyukuri setiap kejadian sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.

Dalam konteks kekinian, pendekatan ini terasa sangat relevan. Di era media sosial, kita sering membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita ingin semuanya berjalan sesuai rencana seperti karier naik, keuangan stabil, keluarga harmonis. Ketika itu tidak terjadi, kita merasa gagal.

Boleh jadi, masalahnya bukan pada hidup kita, tetapi pada cara kita memaknainya. Belajar dari tiga perspektif ini, kita bisa menarik satu benang merah bahwa hidup memang tidak selalu masuk akal, tetapi bukan berarti tidak bermakna.

Menjadi manusia ideal bukan berarti bebas dari masalah, tetapi mampu menghadapi masalah tanpa kehilangan arah. Bukan berarti selalu bahagia, tetapi tidak tenggelam dalam keputusasaan. Bukan berarti memahami semua hal, tetapi tetap percaya bahwa ada makna di balik setiap peristiwa.

Hidup bukan soal menemukan jawaban yang pasti, tetapi tentang bagaimana kita menjalaninya dengan sikap yang tepat.(fsy)

Apakah kita memilih melihat hidup sebagai absurditas yang hampa? Ataukah sebagai perjalanan penuh makna yang belum sepenuhnya kita pahami?

Jawabannya mungkin tidak tunggal. Tetapi satu hal yang pasti: cara kita memandang hidup akan menentukan bagaimana kita menjalaninya.

Dan mungkin, di situlah makna itu sebenarnya lahir—bukan dari kepastian, tetapi dari kesediaan untuk terus berjalan, dengan harapan yang tetap menyala.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Redaksi Harmoni

Redaksi Harmoni

Info Terkait

Saat Panggilan Tuhan Tak Lagi Membuat Hati Kita Tergerak
Hikmah

Saat Panggilan Tuhan Tak Lagi Membuat Hati Kita Tergerak

Jumat, 2 Oktober 2026
Kita Hanya Melihat Satu Halaman
Hikmah

Kita Hanya Melihat Satu Halaman

Jumat, 2 Oktober 2026
Kehilangan Ternyata Jalan Menuju Pertemuan (Merasa Dirugikan oleh Takdir, Belajarlah dari Bunyamin)
Hikmah

Kehilangan Ternyata Jalan Menuju Pertemuan (Merasa Dirugikan oleh Takdir, Belajarlah dari Bunyamin)

Jumat, 25 September 2026
Belajar “Pulang” dari Kisah Nabi Yunus
Hikmah

Belajar “Pulang” dari Kisah Nabi Yunus

Jumat, 18 September 2026
Belajar tentang Integritas kepada Nabi Ayyub
Hikmah

Belajar tentang Integritas kepada Nabi Ayyub

Jumat, 11 September 2026
Kerusakan Bumi karena Ulah Manusia yang Salah
Hikmah

Kerusakan Bumi karena Ulah Manusia yang Salah

Rabu, 9 September 2026

Info Terbaru

Bagaimana Cara agar Hati tetap Utuh Iman tidak Runtuh? Ikuti “Tadabbur Ayat Chapter 2” bersama Teh Ufah Baheej

Minggu, 4 Oktober 2026
🔴 LIVE • MADRASAH LANSIA HUSNUL KHATIMAH CIMAHI : Sesi 10 | ANGKATAN 1 TAHUN 2026

🔴 LIVE • MADRASAH LANSIA HUSNUL KHATIMAH CIMAHI : Sesi 10 | ANGKATAN 1 TAHUN 2026

Minggu, 4 Oktober 2026
Ruang Belajar dan Bermain Kreativitas Bagi Masyarakat (CIPTAKAN INVESTASI ILMU SEJAK DINI)

Ruang Belajar dan Bermain Kreativitas Bagi Masyarakat (CIPTAKAN INVESTASI ILMU SEJAK DINI)

Sabtu, 3 Oktober 2026
KAJIAN SPESIAL • Menumbuhkan CINTA, Menguatkan KELUARGA.. • ABAH IFANK

KAJIAN SPESIAL • Menumbuhkan CINTA, Menguatkan KELUARGA.. • ABAH IFANK

Sabtu, 3 Oktober 2026

Video

  • All
  • Video

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Bandung 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Liputan Khusus “Gebyar Manasik Akbar” MHU

Senin, 15 Juni 2026
Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Jumat, 20 Maret 2026
Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Rabu, 18 Maret 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist