• Oleh: Febri Satria Yazid •
Pernahkah kita bertemu seseorang yang tetap mampu bersikap tenang dalam situasi sulit? Ketika orang
lain mulai panik, ia justru berpikir jernih. Ketika disalahkan, ia tidak buru-buru membalas.
Ketika menghadapi masalah, ia tidak mudah kehilangan arah.
Kita mungkin berkata, “Memang dia orangnya tenang dari sananya.” Ungkapan itu ada benarnya.
Ketenangan memang dapat menjadi bagian dari temperamen yang telah melekat sejak seseorang
dilahirkan.
Namun, ketenangan yang matang tidak selalu semata-mata merupakan bawaan.
Ada orang yang sejak kecil memang tidak mudah panik, tidak impulsif, lebih suka mengamati sebelum bereaksi, dan mampu mengendalikan emosinya. Namun, ketenangan bawaan belum tentu otomatis menjadi kebijaksanaan.
Sebaliknya, ada orang yang sejak kecil mudah marah, sensitif, atau cepat bereaksi. Tetapi pengalaman
hidup perlahan mengajarinya mengendalikan diri, memahami keadaan, dan memilih respons yang lebih
bijaksana. Dari proses itulah, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih tenang.
Setiap manusia memiliki temperamen yang berbeda. Ada yang aktif dan ekspresif, ada yang pendiam
dan penuh pertimbangan. Ada yang cepat bereaksi, ada pula yang terbiasa menahan diri sebelum
mengambil keputusan. Perbedaan tersebut merupakan bagian dari keunikan manusia.
Orang yang memiliki temperamen tenang biasanya lebih mampu menjaga jarak dari situasi yang memancing emosi. Namun, tenang tidak selalu berarti matang. Ada orang yang tampak tenang karena
tidak peduli. Ada pula yang diam karena tidak tahu harus berbuat apa.
Sebaliknya, seseorang yang dahulu mudah terpancing emosi dapat berubah menjadi pribadi yang
matang setelah melewati berbagai pengalaman. Di sinilah kehidupan memainkan perannya sebagai
guru.
Kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan. Ada kegagalan, kehilangan, kekecewaan,
pengkhianatan, kesulitan ekonomi, perpisahan, dan berbagai peristiwa yang memaksa kita berhadapan
dengan kenyataan.
Kegagalan mengajarkan bahwa tidak setiap kesalahan adalah akhir. Kehilangan mengajarkan bahwa tidak semua yang kita cintai dapat kita miliki selamanya. Kekecewaan mengajarkan bahwa tidak semua harapan harus menjadi kenyataan. Dari berbagai pengalaman itu, seseorang perlahan belajar mengubah
cara merespons kehidupan.
Jika hari ini kita melihat seseorang yang begitu tenang menghadapi kehidupan, jangan buru-buru menganggap bahwa ia sekadar beruntung karena terlahir dengan sifat tersebut.
Boleh jadi ia memang membawa benih ketenangan. Bisa juga, kehidupanlah yang mengajarinya bagaimana menumbuhkan
benih itu menjadi kebijaksanaan.
Ketenangan bukan hanya tentang bagaimana seseorang menghadapi dunia, melainkan tentang bagaimana ia berdamai dengan dirinya sendiri dan menerima bahwa tidak semua hal dalam kehidupan harus berada dalam kendalinya.(fsy)














