• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Jumat, 16 Oktober 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

Anak Baik Tidak Harus Selalu Menurut

Redaksi Harmoni oleh Redaksi Harmoni
Jumat, 16 Oktober 2026
in Hikmah
0 0
Anak Baik Tidak Harus Selalu Menurut

• Oleh : Febri Satria Yazid •


“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan
dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya .”
(QS. Al-Isr ’ [17]: 36)


Ayat ini relevan dengan gagasan bahwa anak perlu memahami alasan di balik suatu keputusan. Islam tidak mengajarkan manusia mengikuti sesuatu secara membuta tanpa pengetahuan dan pertimbangan.


Dalam pengasuhan, orang tua dapat membiasakan anak bertanya, mencari penjelasan, mempertimbangkan akibat, dan memahami nilai di balik aturan.

Anak tidak cukup hanya mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi juga perlu belajar mengapa suatu tindakan benar atau salah. Jangan sampai kita membesarkan anak yang pandai menyenangkan orang lain, tetapi kehilangan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri.

Ada satu anggapan yang masih cukup kuat dalam pola pengasuhan kita bahwa anak baik adalah anak yang selalu menurut kepada orang tua. Tidak membantah, tidak mempertanyakan keputusan, tidak menyampaikan keberatan, apalagi berani memilih jalan yang berbeda dari keinginan orang tuanya.

Anak yang diam dianggap santun. Anak yang mengikuti semua perintah dinilai berbakti. Sebaliknya, anak yang banyak bertanya sering dicap keras kepala, anak yang menyampaikan pendapat berbeda
dianggap melawan, dan anak yang menolak keinginan orang tua terkadang dinilai tidak tahu berterima
kasih.

Tanpa disadari, kita sedang membangun standar kebaikan yang terlalu sempit. Seolah-olah, untuk menjadi anak baik, seseorang harus menekan keinginannya sendiri demi menyenangkan orang lain.
Lantas, apakah selama ini kita benar-benar sedang mendidik anak menjadi manusia yang baik, atau justru sedang melatih mereka menjadi pribadi yang selalu mencari persetujuan orang lain?

Mari kita melihat lebih dalam. Ada anak yang menurut karena memahami alasan di balik sebuah aturan.

Ia mengerti bahwa menghormati orang tua merupakan bagian dari adab, bahwa kejujuran adalah nilai yang harus dijaga, dan bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi.

Namun, ada pula anak yang menurut karena takut dimarahi, tidak ingin mengecewakan orang tua, atau
khawatir kehilangan kasih sayang jika berani menyampaikan pendapat berbeda.
Jika pola ini berlangsung terus-menerus, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang pandai membaca keinginan orang lain, tetapi kesulitan mengenali kebutuhan dirinya sendiri. Ia terbiasa bertanya , “Apa
yang membuat orang lain senang kepadaku?” tetapi jarang bertanya , “Apa yang sebenarnya ku
pikirkan, rasakan, dan yakini?”

Dalam kehidupan dewasa, kebiasaan ini dapat terbawa ke berbagai situasi. Ia sulit menolak permintaan yang memberatkan, takut berbeda pendapat dengan atasan, tidak berani menyampaikan ketidaksetujuan kepada pasangan, bahkan rela mengorbankan prinsip demi mempertahankan penerimaan orang lain.

Tentu, tidak semua anak yang patuh akan mengalami hal tersebut. Namun, kita perlu memahami bahwa kepatuhan yang dibangun di atas rasa takut berbeda dari kepatuhan yang tumbuh melalui kesadaran.

Tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak mudah diatur, melainkan membantu mereka memiliki
kompas moral untuk menentukan arah hidupnya.

Penghormatan tidak harus menghilangkan kebebasan berpikir. Seorang anak dapat menghormati orang tuanya sekaligus memiliki pandangan yang berbeda. Ia dapat menyayangi keluarganya tanpa harus menyetujui seluruh keputusan keluarga.

Mengajarkan nilai berarti membantu anak memahami mengapa kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian itu penting.

Memaksakan kehendak berarti menuntut anak melakukan sesuatu sematamata karena orang tua menginginkannya, tanpa memberi ruang untuk memahami, bertanya, atau berdialog.

Orang tua tentu memiliki pengalaman hidup yang lebih panjang. Nasihat mereka penting dan layak dipertimbangkan.

Namun, pengalaman orang tua tidak otomatis menjadikan seluruh pilihan mereka sebagai satu-satunya jalan yang benar bagi anak.

Pengalaman orang tua sebaiknya menjadi bekal bagi anak untuk mengambil keputusan, bukan menjadi pagar yang membuatnya takut melangkah ke luar dari harapan keluarga.

Orang tua ingin anaknya hidup lebih nyaman, tidak mengalami kesulitan yang sama, memperoleh pendidikan yang lebih baik, dan memiliki masa depan yang lebih terjamin. Namun, niat baik tidak selalu
menghasilkan cara yang tepat.

Tatkala cita-cita orang tua berubah menjadi kewajiban mutlak bagi anak, kasih sayang dapat terasa seperti kontrak yang mengikat.

Anak seolah-olah harus membayar pengorbanan orang tua dengan cara menjalani kehidupan sesuai keinginan mereka.

Anak mungkin memilih jurusan bukan karena minatnya, melainkan karena takut mengecewakan keluarga.

Ia mungkin menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan dirinya karena merasa harus memenuhi harapan orang tua. Bahkan, dalam memilih pasangan hidup, ia bisa kehilangan keberanian
untuk menyuarakan pertimbangannya sendiri.

Anak bukan proyek untuk menyempurnakan kehidupan orang tuanya. Anak adalah manusia utuh yang
memiliki pikiran, perasaan, potensi, dan perjalanan hidupnya sendiri.

Tentu saja, gagasan bahwa anak tidak harus selalu menurut bukan berarti anak bebas bersikap kasar, mengabaikan aturan, atau menolak setiap nasihat.

Kebebasan berpikir harus berjalan bersama tanggung jawab. Keberanian berpendapat harus disertai kemampuan menghormati orang lain. Anak perlu memahami bahwa menyampaikan ketidaksetujuan berbeda dari merendahkan orang yang tidak sependapat.

Orang tua pun tetap berhak menetapkan batasan, terutama yang berkaitan dengan keselamatan, tanggung jawab, dan perilaku yang merugikan orang lain.
Batasan yang sehat tidak menutup ruang dialog.

Kalau anak bertanya, orang tua dapat menjelaskan.

Saat anak berbeda pendapat, orang tua dapat mendengarkan. Ketika anak melakukan kesalahan, orang
tua dapat mengoreksi tanpa harus merendahkan harga dirinya.

Dari ruang dialog seperti inilah anak belajar bahwa perbedaan bukan ancaman, bahwa kesalahan bisa
menjadi pelajaran, dan bahwa hubungan yang sehat tidak mengharuskan semua orang selalu sepakat.

Kita perlu mengubah pertanyaan dalam pengasuhan. Bukan hanya , “Apakah anak saya menurut?”,
tetapi juga , “Apakah anak saya memahami alasan di balik tindakannya? Apakah ia berani mengatakan yang benar? Apakah ia mampu menghormati orang lain tanpa kehilangan harga dirinya? Apakah ia bisa
mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas konsekuensinya ?”(fsy)

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Redaksi Harmoni

Redaksi Harmoni

Info Terkait

Ketenangan: Kombinasi Bawaan dan Hasil Tempaan
Hikmah

Ketenangan: Kombinasi Bawaan dan Hasil Tempaan

Jumat, 9 Oktober 2026
Saat Panggilan Tuhan Tak Lagi Membuat Hati Kita Tergerak
Hikmah

Saat Panggilan Tuhan Tak Lagi Membuat Hati Kita Tergerak

Jumat, 2 Oktober 2026
Kita Hanya Melihat Satu Halaman
Hikmah

Kita Hanya Melihat Satu Halaman

Jumat, 2 Oktober 2026
Kehilangan Ternyata Jalan Menuju Pertemuan (Merasa Dirugikan oleh Takdir, Belajarlah dari Bunyamin)
Hikmah

Kehilangan Ternyata Jalan Menuju Pertemuan (Merasa Dirugikan oleh Takdir, Belajarlah dari Bunyamin)

Jumat, 25 September 2026
Belajar “Pulang” dari Kisah Nabi Yunus
Hikmah

Belajar “Pulang” dari Kisah Nabi Yunus

Jumat, 18 September 2026
Belajar tentang Integritas kepada Nabi Ayyub
Hikmah

Belajar tentang Integritas kepada Nabi Ayyub

Jumat, 11 September 2026

Info Terbaru

Anak Baik Tidak Harus Selalu Menurut

Anak Baik Tidak Harus Selalu Menurut

Jumat, 16 Oktober 2026
TAMU KITA : PROBLEM LITERASI, MINAT BACA, DAN PERPUSTAKAAN

TAMU KITA : PROBLEM LITERASI, MINAT BACA, DAN PERPUSTAKAAN

Kamis, 15 Oktober 2026
🔴 LIVE • Kajian Akbar MT Yasmeena: “BAIK SANGKA SAMA ALLAH” bersama Ustadz Irfan Rizki Haas

🔴 LIVE • Kajian Akbar MT Yasmeena: “BAIK SANGKA SAMA ALLAH” bersama Ustadz Irfan Rizki Haas

Rabu, 14 Oktober 2026
🔴 LIVE • TAMU KITA “Semarak Lomba-Lomba & Deklarasi Cimahi Ramah Santri”

🔴 LIVE • TAMU KITA “Semarak Lomba-Lomba & Deklarasi Cimahi Ramah Santri”

Selasa, 13 Oktober 2026

Video

  • All
  • Video

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Bandung 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Liputan Khusus “Gebyar Manasik Akbar” MHU

Senin, 15 Juni 2026
Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Jumat, 20 Maret 2026
Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Rabu, 18 Maret 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist