Semua orang Indonesia pasti tahu merek sepatu Bata. Jika mendengar merk sepatu bata maka akan identik dengan sepatu semua kalangan dan umur yang kualitasnya jempolan.
Bata pernah meraih kejayaannya di Indonesia selama beberapa dekade. Namun kabar terbaru Bata telah resmi menutup pabriknya yang berlokasi di Purwakarta.
Bata memiliki sejarah panjang dalam industri sepatu dan sandal di tanah air sejak pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1931
Mengingat panjangnya sejarah merk sepatu ini di Indonesia hingga banyak yang mengira Bata adalah produk dalam negeri. Padahal, produk ini berasal dari Cekoslovakia, dengan pendirinya adalah keluarga Tomas, Anna, dan Antonin Bata.
Keluarga Bata ini telah mengoperasikan sekitar 4 unit bisnis internasional yakni Bata Eropa, Bata Asia Pasifik-Afrika, Bata Amerika Latin, dan Bata Amerika Utara.
Masuknya Bata ke Indonesia dimulai dengan kerjasama Bata dengan perusahaan Belanda NV. Netherlandsch-Indisch, sebagai importir sepatu yang beroperasi di Tanjung Priok.
Kemudian Tomas Bata mendirikan pabrik Sepatu di tengah perkebunan karet di area Kalibata yang mulai melakukan produksi sepatu mulai tahun 1940.
Sebelum tahun 1978, status Bata di Indonesia adalah perusahaan penanaman modal asing (PMA), sehingga tidak diperbolehkan untuk menjual produknya langsung ke pasar. Bata menjual produknya melalui para penyalur khusus dengan sistem konsinyasi.
Status tersebut berubah pada 1 Januari 1978 ketika izin dagang Bata didapatkan dan PT Sepatu Bata menjadi perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN).
Pada 24 Maret 1982, Bata resmi menjadi perusahaan publik dan tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Pada 1994, Bata pabrik sepatu di Purwakarta selesai dibangun. Sebagai salah satu pabrik terbesar di Indonesia. memiliki spesialisasi produksi sepatu untuk pasar Indonesia dan luar negeri
Namun sejak 30 April 2024 Bata telah menghentikan operasional pabriknya di Purwakarta.
Disebutkan Manajemen PT Sepatu Bata Tbk telah melakukan berbagai upaya selama empat tahun terakhir di tengah kerugian dan tantangan industri akibat pandemi dan perubahan perilaku konsumen yang begitu cepat.
Foto: Arsip Perpustakaan Nasional














