• Oleh : Febri Satria Yazid •
Dalam kehidupan modern, kita memiliki data, teknologi, kecerdasan buatan, analisis statistik, dan berbagai metode prediksi.
Semua itu tetap tidak membuat manusia mengetahui seluruh akibat dari
sebuah keputusan.
Data membantu kita membaca keadaan, tetapi tidak membuat kita mengetahui
seluruh rahasia masa depan.
Oleh karena itu, kita diminta untuk tidak menghakimi sesuatu hanya dari penampilan luarnya.
Tiga peristiwa dalam kisah Nabi Khidir mengajarkan perbedaan antara, apa yang tampak dan apa yang sebenarnya terjadi.
Ini sangat relevan dengan media sosial dan kehidupan dalam masyarakat. Kita melihat seseorang sukses, lalu mengira hidupnya sempurna, menilai seseorang gagal dan menganggap ia tidak mampu.
Ketika seseorang mengambil keputusan yang berbeda, kita langsung menganggapnya salah, padahal
kita hanya mengetahui potongan kecil kehidupan orang lain.
Bisa jadi kita hanya sedang melihat satu
halaman, sementara Allah mengetahui seluruh buku kehidupan kita.
Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa, tentang tiga peristiwa yang terjadi dan memberi syarat kepada Musa agar jangan bertanya sampai ia sendiri menjelaskan.
Dalam perjalanan, Musa menyaksikan tiga hal yang secara lahiriah sulit diterima. Pertama, Nabi Musa melihat Nabi Khidir melubangi sebuah perahu.
Kedua, Nabi Khidir membunuh seorang anak dan yang ketiga Nabi Khidir memperbaiki dinding rumah secara Cuma-Cuma. Kisah Nabi Khidir bersama Nabi Musa yang disebut dalam Al-Qur’an (surat AlKahfi ayat 60–82) adalah salah satu kisah yang sangat dalam tentang ilmu, kesabaran, keterbatasan
manusia dalam memahami takdir, dan cara Allah bekerja di balik sesuatu yang tampak buruk.
Tatkala Nabi Musa bertanya kenapa merusak perahu dengan melubangi, karena tindakan itu dapat membahayakan pemilik perahu dan dalam perjalanan berikutnya ketika Nabi Khidir membunuh
seorang anak, nabi Musa kembali mempertanyakan tindakan tersebut karena dinilai sebagai suatu
tindakan berat yang tidak dapat diterima.
Nabi Khidir mengingatkan tentang syarat yang disampaikan kepada nabi Musa untuk tidak bertanya.
Nabi Musa kemudian berjanji bahwa jika ia bertanya lagi, makai ia tidak akan mengikuti perjalanan
nabi Khidir selanjutnya.
Akhirnya nabi Khidir menjelaskan hakikat dibalik tiga peristiwa yakni perahu sengaja dibuat cacat agar tidak dirampas oleh seorang raja yang merampas setiap perahu yang masih baik. Kedua anak tersebut, menurut penjelasan Khidir, kelak akan membawa kedua orang tuanya kepada kedurhakaan, sedangkan
Allah hendak menggantinya dengan anak yang lebih baik dan peristiwa ketiga dinding rumah yang
diperbaiki menyimpan harta milik dua anak yatim.
Ayah mereka adalah orang saleh, dan Allah menjaga harta itu sampai mereka dewasa.
Kisah ini ditutup dengan penegasan bahwa tindakan Khidir itu bukan berdasarkan kehendaknya sendiri,
melainkan berdasarkan ilmu yang Allah berikan kepadanya.
Pelajaran yang sangat penting dari ketiga peristiwa tersebut adalah bahwa apa yang kita lihat belum tentu seluruh kenyataan. Perahu yang dilubangi terlihat sebagai kerugian, padahal kerusakan itu justru menjadi perlindungan.
Sebuah peristiwa yang kita anggap sebagai kegagalan bisa saja menjadi jalan untuk menghindarkan kita dari sesuatu yang jauh lebih buruk. Manusia melihat peristiwa; Allah
mengetahui keseluruhan perjalanan.
Ilmu manusia selalu memiliki batas. Nabi Musa adalah seorang nabi dan rasul. Namun dalam kisah ini,
beliau tetap diperintahkan belajar kepada seorang hamba Allah yang memiliki pengetahuan tertentu.
Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang status Khidir apakah seorang Nabi atau Wali, pesan terpenting adalah menunjukkan bahwa semakin berilmu seseorang, seharusnya semakin sadar terhadap keterbatasan ilmunya. Salah satu bentuk kedewasaan adalah kemampuan mengatakan, “Saya belum
tahu seluruh ceritanya.”
Kesabaran diperlukan ketika kita belum memahami. Nabi Musa beberapa kali tidak mampu menahan
diri untuk bertanya.
Secara manusiawi, hal itu sangat wajar. Kita ingin segera mendapatkan penjelasan, tetapi kisah ini mengajarkan bahwa ada keadaan tertentu ketika kita perlu bersabar sebelum
mendapatkan jawabannya.
Tidak semua kehilangan adalah keburukan, hal ini menarik jika dikaitkan dengan kehidupan manusia.
Begitu ada sesuatu yang hilang dari kita, lalu kita merasa, “Mengapa Allah mengambilnya?” Padahal bisa jadi sesuatu tersebut memang tidak baik bagi perjalanan kita.
Begitu pula dengan pintu yang tertutup.
Kadang kita terlalu sibuk mengetuk pintu yang tertutup, sampai lupa melihat bahwa Allah mungkin sedang mengarahkan kita kepada pintu lain.
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha. Kita tetap harus menggunakan akal, ilmu, pengalaman, musyawarah, dan ikhtiar.
Setelah itu, kita menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Ada sesuatu yang tidak kita mengerti sekarang, tetapi mungkin baru kita pahami kemudian.
Waktu sering menjadi alat yang membuka makna.
Kebaikan yang dilakukan hari ini bisa menjadi perlindungan bagi generasi berikutnya Kisah dinding rumah dua anak yatim memiliki dimensi yang sangat menarik.
Ayah mereka disebut sebagai orang saleh, dan Allah menjaga harta anak-anak tersebut.
Terlepas dari berbagai penafsiran ulama tentang makna detailnya, kisah ini memberi pelajaran tentang tanggung jawab lintas generasi.














