Apa yang kamu rasakan ketika sudah menginjak usia dewasa?
Rasa cemas, overthinking, dan hilang arah seakan menjadi satu. Saat ini, kita mulai
tersadar bahwa menjadi dewasa tak seindah yang dibayangkan.
Dulu, ketika guru menanyakan “Apa cita-citamu saat dewasa?”
Sontak anak-anak menjawab “Aku ingin jadi dokter, Bu Guru!” “Aku ingin jadi pilot!”
“Aku ingin jadi polisi!” Jawaban-jawaban itu terdengar hebat ketika diucapkan oleh
anak-anak seusianya.
Namun, semakin bertambah dewasa, mimpi yang dulu terasa begitu dekat perlahan bisa berubah.
Ada yang tetap mengejar cita-cita masa kecilnya, ada pula yang memilih jalan berbeda.
Perubahan itu bukan berarti kita gagal, melainkan bagian dari proses ketika kita mulai mengenal diri sendiri dan memahami apa yang benar-benar
kita inginkan.
Tak ada yang perlu disalahkan atau disesalkan selama kita sudah
berusaha.
Hal tersebut menjadi bagian dari proses pendewasaan, ketika kita mulai
belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan apa yang dulu dibayangkan.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan quarter life crisis?
Istilah ini menggambarkan fase ketika seseorang mulai merasa bingung, cemas, dan mempertanyakan arah hidupnya.
Fase tersebut dapat muncul ketika seseorang mulai dihadapkan pada berbagai pilihan dan tuntutan mengenai pendidikan, pekerjaan, hubungan, hingga masa depan.
Lantas, apa yang membuat seseorang mengalami fase ini?
Setiap orang memiliki kemampuan dan kondisi yang berbeda.
Tekanan terhadap masa depan, ekspektasi hidup yang cukup tinggi, serta perasaan tertinggal dibandingkan dengan orang lain bisa membuat kita merasa semakin terbebani.
“Setelah lulus aku mau kerja di mana ya?”
“Apakah pilihan yang aku ambil sudah benar?” “Rasanya hanya aku yang berjuang sendiri.”
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu bisa muncul ketika kita mulai memikirkan masa
depan dan membandingkan pencapaian diri dengan orang lain.
Terkadang, tekanan bukan hanya datang dari lingkungan, tetapi juga dari standar
yang kita buat sendiri.
Misalnya, merasa harus mencapai sesuatu di usia tertentu.
Perasaan tersebut bisa semakin kuat ketika melihat pencapaian orang lain di mediasosial.
Banyak orang terlihat sudah lebih maju. Padahal, apa yang ditampilkan di
media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka.
Ada pula proses dan jerih payah yang tidak ditampilkan.
Jangan menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan diri sendiri.
Setiap orang memiliki titik awal, proses, dan waktunya masing-masing.
Belummencapai sesuatu yang diinginkan bukan berarti kita gagal.
Pada titik inilah kita harus memberi ruang pada diri sendiri untuk terus mencoba dan
menerima bahwa perjalanan setiap orang berbeda.
Jangan sungkan untuk membagikan perasaan kepada orang terdekat.
Sebab, menjadi dewasa bukan soal
seberapa cepat kita sampai, tetapi bagaimana kita terus berjalan meski belum tahusepenuhnya ke mana harus melangkah.
Penulis : Nihlah Adzra M.














