Keluhan masyarakat mengenai kemacetan parah di persimpangan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Ibrahim Adjie akhirnya mendapat respons dari kalangan legislatif.
Kondisi arus lalu lintas di kawasan Samsat Kiaracondong, Kota Bandung, dinilai sudah semakin memprihatinkan akibat durasi lampu merah yang mencapai 12 menit.
Merespons persoalan tersebut, Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Tedy Rusmawan, kembali menyuarakan urgensi pembangunan jembatan layang (flyover) di titik tersebut sebagai langkah solutif jangka panjang untuk mengurai kepadatan kendaraan.
Kawasan simpang Samsat Kiaracondong memang menjadi salah satu rute paling padat di Kota Bandung, terutama pada jam keberangkatan dan kepulangan kerja.
Siklus lampu lalu lintas yang menyentuh angka 720 detik atau 12 menit kerap memicu antrean kendaraan yang mengular sangat panjang.
Saking lamanya waktu tunggu di area ini, warganet di media sosial bahkan sampai memberikan julukan miring seperti “lampu merah perenggut masa muda”.
Menanggapi fenomena tersebut, Tedy sempat berseloroh mengenai respons masyarakat.

“Bahkan ada yang bercanda bisa bikin mi dulu di situ,” kata Tedy.
Tedy menambahkan bahwa penanganan kemacetan di lokasi tersebut tidak lagi efektif jika hanya mengandalkan rekayasa atau langkah sementara.
Keberadaan flyover dipandang sebagai opsi yang paling masuk akal untuk memisahkan pertemuan arus kendaraan yang berpotensi mengunci di persimpangan.
Meski rencana pembangunan flyover ini sempat menggelinding beberapa tahun lalu dan kemudian meredup tanpa kejelasan, Komisi IV DPRD Jabar berkomitmen untuk menghidupkan kembali usulan proyek tersebut agar mendapatkan perhatian utama dari pemerintah daerah.
“Kami akan dorong lagi pembahasannya, mudah-mudahan bisa masuk prioritas di anggaran tahun 2027,” ujarnya.













