BANDUNG — Kementerian Sosial Republik Indonesia bekerjasama dengan komunitas Entrepreneur Modest Indonesia (EMI) dan Bank Mandiri menyelenggarakan rangkaian kegiatan persiapan bertajuk Road to Hari Disabilitas Internasional 2026.
Acara ini berlangsung di Mandiri , Jl. Soekarno Hatta No. 574, Kota Bandung, pada Selasa, (6/10/2026), mulai pukul 09.00 WIB.
Agenda ini dirancang sebagai wadah kolaborasi untuk mendorong inklusivitas serta kemandirian ekonomi dan ekspresi seni bagi para penyandang disabilitas di Indonesia.
Rangkaian acara meliputi sosialisasi peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI), kurasi karya fashion show, kurasi pameran (exhibition), serta ajang silaturahmi dan ramah tamah.
Dorong Kemandirian, Kolaborasi Karya, dan Kebanggaan Disabilitas Pendamping Menteri Sosial Republik Indonesia, Dra. Hj. Fatma Saifullah Yusuf, menegaskan pentingnya menjalin silaturahmi dan membangun kolaborasi bersama para desainer untuk mengangkat karya-karya penyandang disabilitas.
Dalam wawancaranya, Dra. Hj. Fatma Saifullah Yusuf sebagai pendamping Menteri Sosial Republik Indonesia menyampaikan harapannya agar para desainer kota Bandung bisa mengkolaborasikan karyanya dengan karya penyandang disabilitas.
“Harapannya teman-teman bisa berkolaborasi dengan hasil karya disabilitas, baik itu dari produk batik-nya atau lukis-nya kemudian dibuat sebuah karya. Boleh karya sepatu, boleh dompet, boleh tas, boleh baju, dan kita lihat tadi kita sudah kurasi, dan mudah-mudahan hasil dari kurasi ini nanti bisa ikut bergabung di HDI 2026 di bulan Desember yang akan datang” lanjutnya.
Senada dengan hal tersebut, Pendamping Wakil Menteri Sosial Republik Indonesia, Intan Agus Jabo (Intan Nurul Fadhilah), turut mengajak para desainer lokal Bandung untuk terlibat aktif.
“Hari ini bersama dengan desainer-desainer Bandung mengajak untuk berkolaborasi bersama. Selamat berkarya.” Ujarnya.
Sementara itu, pengurus pendamping disabilitas juga memaparkan visi utama
pembentukan karakter percaya diri para seniman disabilitas.
“Pengin dia menjadi lebih mandiri, punya rasa percaya diri, senang, bahagia, karyanya itu bisa dibanggakan oleh orang lain.” Ungkapnya.
Beliau juga menekankan pentingnya eksplorasi beragam motif dan media karya, tidak hanya terbatas pada seni batik.
“Kebetulan yang saya kenal kan masih batik-batik yang memang saya sampaikan tadi. Tapi kan mestinya banyak sekali disabilitas yang memang sudah memiliki karya. Boleh dilanjut di pembordiran, menjadikan produk. Misalnya desain seperti buatan Cimahi ada biota laut, mau diambil ikannya gitu maksudnya. Ada yang non-muslim, ada yang Chinese, dan lain sebagainya.” tuturnya.
Evaluasi Kurasi Busana dan Kehadiran Peserta Lintas Organisasi
Ketua Umum Entrepreneur Modest Indonesia (EMI), Hanny Lovelly,
mengapresiasi tinggi antusiasme para peserta yang mengikuti sesi audiensi dan kurasi. Hanny Lovelly menyampaikan perkembangan jalannya kegiatan.
“Alhamdulillah hari ini sudah melaksanakan audiensi dan kurasi untuk acara Hari Disabilitas Internasional bersama Pendamping Menteri Sosial dan juga Ibu Wakil Menteri Sosial. Alhamdulillah diikuti oleh member EMI, member APPMI, IFC, dan juga ada dari IPBM. Alhamdulillah hari ini mungkin kurang lebih sekitar ada 100 orang yang hadir, dan produknya bagus-bagus sekali yang mengikuti kurasi tadi. Dan mudah-mudahan semuanya bisa lulus kurasi dan bisa mengikuti event Hari Disabilitas Internasional pada tanggal 3 Desember nanti” paparnya.
“Mudah-mudahan dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, semua pelaku UMKM kreatif bisa lebih kreatif lagi, bisa bekerjasama lagi dengan lebih banyak orang yang lebih banyak bermanfaat, khususnya dengan anak-anak disabilitas” ujarnya.
Mengenai kurasi busana, arahan teknis juga diberikan agar rancangan pakaian disesuaikan dengan tren pasaran yang ringan dan semi-formal
“Kepanjangan, jadi tidak terlalu besar ya mungkin karena desain untuk peragawati seperti itu. Tapi kalau busana muslimnya mungkin yang ringan mungkin mau, mungkin secara desain ya. Waktu itu busana muslimnya agak berat menurut saya, sehingga tidak terlalu diminati. Yang diminati itu yang ready to wear untuk ngantor, untuk hangout, untuk acara-acara kita kayak gini yang santai, semi formal.” Ungkapnya.
Bagi peserta yang belum lolos kurasi langsung, panitia tetap menyediakan skema evaluasi susulan.
“Ketika nanti ternyata pengin bikin yang lebih bagus bilamana memang tidak lolos kurasi, monggo nanti difoto aja, nanti akan dikurasi by photo melalui Mbak Jenny Cahyawati. Tidak apa-apa, kita kasih kesempatan tidak lolos barangkali ingin tetap meramaikan untuk HDI 2026. Bikin lagi yang bagus, boleh loh disampaikan nanti.” lanjutnya.
Ruang Ekspresi Seni dan Panggung Utama HDI 2026 Puncak peringatan Hari Disabilitas Internasional pada Desember mendatang akan menyediakan galeri lukisan dan panggung penampil bagi ratusan anak-anak disabilitas dari berbagai komunitas.
“Nanti ada galeri lukisan. Nah itu nanti akan kita bikin semacam anak-anak semuanya melukis, baik itu difabel atau non-difabel. Jadi mereka tetap ada kegiatan melukis khusus untuk area lukisan. Kemudian ada pelatihan-pelatihan juga yang kemudian kita berikan kesempatan dia di panggung utama” ujarnya.
“Mereka bisa memainkan musik, menari, menyanyi, dan lain sebagainya sesuai dengan organisasi yang kita undang hari itu. Misalnya jam 10 pagi anak-anak
dari Down Syndrome, siang anak-anak dari Cerebral Palsy, dan sore anak-anak dari Tuna Rungu. Mereka punya kelompok masing-masing dan bisa melakukan kegiatan apapun.” pungkasnya.
Penulis: Nazwar Fathurrohman














