Bandung – Masih banyak anak-anak di pedesaan yang memiliki bakat dan potensi besar, namun belum mampu berkembang secara optimal karena keterbatasan akses terhadap pendidikan yang berkualitas.
Kesenjangan fasilitas dan kesempatan belajar antara desa dan kota menjadi salah satu tantangan yang harus segera diatasi untuk mewujudkan pemerataan pendidikan di Indonesia.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program talkshow Tamu Kita di TV Harmoni pada 8 Juni 2026 bersama H. Jajang Rohana, S.Pd.I., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, yang mengulas persoalan aksesibilitas pendidikan bagi masyarakat pedesaan.
Pembahasan tersebut berangkat dari fakta yang pernah ditemui TV Harmoni mengenai seorang siswi asal sebuah desa di Kabupaten Garut yang memiliki bakat luar biasa dalam bidang public speaking, khususnya storytelling.

Setelah mendapatkan perhatian dan dukungan dari sebuah yayasan yang memfasilitasinya menempuh pendidikan di Kota Bandung, siswi tersebut berhasil meraih juara pertama tingkat SMP dalam
sebuah kompetisi di Kota Bandung.
Menurut Jajang Rohana, kisah tersebut menunjukkan bahwa banyak anak-anak desa memiliki potensi yang tidak kalah dengan anak-anak di perkotaan.
Namun, keterbatasan akses pendidikan sering kali menjadi penghambat berkembangnya bakat mereka.
“Setelah persoalan guru, tantangan berikutnya dalam dunia pendidikan adalah aksesibilitas terhadap sarana pendidikan. Banyak fasilitas pendidikan yang terkonsentrasi di perkotaan, sementara di desa jumlah dan kualitasnya masih terbatas. Kondisi ini menyulitkan masyarakat desa untuk menyekolahkan anak-anak mereka,” ujar Jajang.
Ia menjelaskan bahwa persoalan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan biaya sekolah atau SPP.
Bagi masyarakat pedesaan, terutama keluarga petani, biaya transportasi, tempat tinggal, hingga kebutuhan pendukung lainnya sering kali menjadi beban yang tidak ringan.
“Ironisnya, banyak petani yang kondisi ekonominya masih terbatas karena nilai tukar petani yang rendah. Mereka kesulitan menyekolahkan anak-anaknya bukan hanya karena biaya pendidikan, tetapi juga biaya transportasi dan biaya kos ketika harus bersekolah jauh dari tempat tinggal,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kehadiran negara dalam memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan kesempatan pendidikan yang setara tanpa dibatasi oleh letak geografis maupun kondisi ekonomi keluarga.
Dalam kesempatan itu, Jajang juga menanggapi munculnya istilah sekolah unggulan yang kerap menjadi perbincangan di masyarakat.
Menurutnya, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta pada dasarnya harus memiliki kualitas yang sama-sama baik dan mampu memberikan layanan pendidikan terbaik bagi peserta didik.
“Pada prinsipnya, sekolah negeri maupun sekolah swasta harus sama-sama unggul. Pendidikan tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sekolah negeri, sekolah swasta, serta dukungan dari masyarakat dan orang tua,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya berorientasi pada sekolah negeri semata.
Menurutnya, sekolah swasta memiliki peran yang sangat penting dalam membantu memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang belum memiliki fasilitas pendidikan yang memadai.
“Orang tua jangan hanya berorientasi pada sekolah negeri. Yang paling penting adalah kualitas pendidikan yang diterima anak. Negara juga harus hadir untuk memastikan setiap anak memperoleh akses pendidikan yang layak, di mana pun mereka berada,” tegasnya.
Menutup perbincangan, Jajang Rohana menekankan bahwa pemerataan pendidikan merupakan kunci untuk melahirkan generasi unggul dari seluruh pelosok negeri.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, sekolah negeri, sekolah swasta, dan masyarakat, potensi anak-anak Indonesia, baik di kota maupun di desa, dapat berkembang secara optimal demi kemajuan bangsa di masa depan.






