BANDUNG – Di tengah gempuran media sosial dan pergeseran konsumsi informasi dari TV dan radio ke platform digital, mahasiswa dituntut tidak hanya cerdas mengonsumsi berita, tapi juga jeli melihat peluang karier.
Hal ini melatarbelakangi Kuliah Umum bertema “5+1 Broadcasting Perspective Digital Era” hasil kolaborasi STIKOM Bandung dengan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat.
Kegiatan yang merupakan implementasi mata kuliah praktik penyiaran dan tindak lanjut implementation agreement KPID Jabar – STIKOM Bandung ini digelar Senin, 10 Agustus 2026, pukul 08.00-12.00 WIB di Bandung Creative Hub (BCH), Jl. Laswi No. 7 Kota Bandung.
Diikuti sekitar 100 mahasiswa, dengan target utama mahasiswa Semester 6.Jembatan Teori dan IndustriKetua Pelaksana, M. Rizki Alfiansyah menegaskan acara ini dirancang sebagai jembatan antara teori akademik dengan realitas industri penyiaran modern.
“Kita menjunjung supaya lebih pandai lagi dalam mengelola berita dan melihat peluang prospek kerja ke depannya di tengah gempuran media sosial,” ujarnya.
Ia memaparkan empat tujuan strategis: 1) Adaptasi Media dari TV/Radio ke medsos, 2) Literasi Kritis agar tidak terjebak disinformasi, 3) Proyeksi Karir di industri penyiaran modern, dan 4) Implementasi praktik akademik.
Pemilihan mahasiswa semester 6 didasarkan pada kebutuhan tingkat akhir untuk memahami literasi media secara komprehensif sebelum terjun ke dunia kerja.KPID Jabar Buka Data Riset 5+1Ketua KPID Jawa Barat, Dr. Adiyana Slamet, S.IP., M.Si., menyampaikan forum ini menjadi diseminasi riset terbaru KPID Jabar soal pola konsumsi media Gen Z.

Riset ini menggunakan metodologi 5+1, yakni membedah dampak media melalui enam dimensi: Pancagatra Ketahanan Nasional (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Hankam) plus 1 Aspek Psikologi untuk melihat pengaruh frekuensi menonton/mendengarkan terhadap kondisi mental Gen Z.”Ini bentuk nyata dari implementation agreement antara KPID Jawa Barat dan STIKOM Bandung. Melalui buka data hasil riset terbaru, kita berikan gambaran transparan keterlibatan generasi muda dengan media konvensional. Ini ikhtiar strategis memahami posisi televisi dan radio di tengah gempuran digital,” jelas Adiyana.
Fokus riset adalah mengukur dampak positif-negatif paparan konten TV dan radio terhadap Gen Z, yang diharapkan berlanjut pada pembedahan data mendalam untuk mewujudkan ekosistem penyiaran yang sehat dan relevan.
Momentum Regulator, Industri, Akademisi, MahasiswaWakil Ketua 1 STIKOM Bandung, Muhammad Farid, S.Sos., M.I.Kom dalam sambutannya menegaskan kuliah umum ini adalah bagian dari Ujian Akhir Semester (UAS) yang berbasis praktik, sekaligus momentum mempertemukan empat pilar: regulator (KPID Jabar), pelaku industri penyiaran (TV dan radio), akademisi, dan mahasiswa.”Antara industri dan perguruan tinggi itu punya korelasi yang jelas.
Masa depan industri penyiaran sangat bergantung dengan kita dan kita pun bergantung dengan serapan tenaga kerja,” katanya.Sementara Ketua STIKOM Bandung, Dr. Deddy Djamaluddin, M.S., menyoroti bahaya algoritma di era konvergensi digital.”Era digital didominasi algoritma. Algoritma itu adalah rasa, adalah nilai kapitalis yang mengarahkan mana yang paling penting dan belum tentu sesuai dengan nilai kita. Identitas kita menjadi blur,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan transformasi AI sebagai komunikator yang bisa memprovokasi dan mempenetrasi tanpa disadari, sehingga sikap kritis dan etika menjadi penting.
“Penelitian KPID soal penetrasi nilai Pancasila di media itu luar biasa. Saya berharap memberi pencerahan bagi dunia pendidikan sebagai center of research,” tutupnya.














