CIWALEN, CIANJUR — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 245 menghadirkan sejumlah upaya dalam menangani persoalan sampah di Kampung Pasirhuni RT 01/RW 10, Dusun 3, Desa Ciwalen, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur. Upaya tersebut diwujudkan melalui pembangunan tempat pembakaran sampah, pembuatan papan edukasi mengenai sampah, serta pemanfaatan galon bekas menjadi tong sampah.
Program ini menjadi bagian dari kepedulian mahasiswa KKN Kelompok 245 terhadap kondisi lingkungan sekaligus upaya mendorong masyarakat agar lebih sadar dalam mengelola sampah. Ketiga program tersebut dirancang tidak hanya untuk menyediakan fasilitas, tetapi juga memberikan edukasi dan mengajak masyarakat membangun kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan.
Salah satu fasilitas utama yang dibuat adalah tempat pembakaran sampah. Fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat dalam mengelola sampah yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari. Dengan tersedianya tempat khusus, masyarakat diharapkan tidak lagi membuang sampah sembarangan, khususnya ke sungai.
Kepala Dusun 3 Desa Ciwalen, Andi, menyambut baik adanya fasilitas tersebut. Ia berharap tempat pembakaran sampah dapat membantu meminimalisir kebiasaan membuang sampah ke sungai sekaligus menjadi contoh yang dapat diterapkan di wilayah lain.

“Semoga dengan adanya pembakaran sampah ini bisa meminimalisir membuang sampah ke sungai dan menjadi contoh untuk daerah lain,” ujar Andi.
Selain membangun tempat pembakaran sampah, mahasiswa KKN Kelompok 245 juga membuat papan edukasi sampah sebagai media informasi bagi masyarakat. Papan tersebut berisi pesan-pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya.
Keberadaan papan edukasi diharapkan dapat menjadi pengingat bagi masyarakat setiap kali beraktivitas di lingkungan sekitar. Dengan demikian, penanganan persoalan sampah tidak hanya dilakukan melalui penyediaan fasilitas, tetapi juga melalui peningkatan kesadaran masyarakat.

Upaya lainnya dilakukan melalui pemanfaatan galon bekas menjadi tong sampah. Galon yang sudah tidak digunakan dimanfaatkan kembali agar memiliki fungsi baru sebagai tempat membuang sampah. Selain sederhana, langkah tersebut menunjukkan bahwa barang bekas dapat dimanfaatkan kembali sekaligus mendukung upaya menjaga kebersihan lingkungan.
Ketua RW 10, Muhidin, berharap rangkaian kegiatan tersebut dapat memberikan edukasi kepada masyarakat dan mendorong perubahan kebiasaan dalam membuang sampah.
“Mudah-mudahan ini menjadikan edukasi bagi masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan,” ungkap Muhidin.
Sementara itu, Oim, salah seorang warga Kampung Pasirhuni, berharap keberadaan fasilitas yang dibuat mahasiswa dapat memberikan manfaat dan menjadi solusi bagi masyarakat sekitar.
“Saya sangat berharap semoga dengan adanya tempat pembakaran sampah ini menjadi solusi untuk masyarakat sekitar,” ujar Oim.
Melalui program tersebut, KKN Kelompok 245 berupaya menghadirkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas, tetapi juga edukasi dan pemanfaatan kembali barang yang masih memiliki nilai guna. Tempat pembakaran sampah berfungsi sebagai sarana pengelolaan, papan edukasi sebagai media penyadaran, sedangkan tong sampah dari galon menjadi bentuk sederhana pemanfaatan barang bekas.
Kehadiran ketiga fasilitas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan dan dirawat bersama oleh masyarakat. Mahasiswa KKN Kelompok 245 juga berharap program tersebut dapat terus berjalan meskipun masa pelaksanaan KKN telah selesai, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Program ini sekaligus menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan. Dari fasilitas sederhana yang dibuat bersama, diharapkan tumbuh kesadaran bahwa menjaga kebersihan bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
Dengan adanya tempat pembakaran sampah, papan edukasi, serta tong sampah hasil pemanfaatan galon bekas, KKN Kelompok 245 berharap Kampung Pasirhuni dapat menjadi salah satu contoh bahwa persoalan sampah dapat mulai ditangani melalui langkah-langkah sederhana, edukatif, dan melibatkan masyarakat secara langsung.
Reporter: Rahmat Salamet
Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam






