Salah satu persoalan yang menimpa Kota Bandung dan perlu untuk diperhatikan dunia pendidikan serta keagamaan adalah persoalan LGBT.
Inilah yang menjadi perhatian Dr. H. Edwin Senjaya, S.E., M.M., Pimpinan DPRD Kota Bandung, saat berkesempatan bersilaturahmi dengan jamaah MTUQ (Majelis Taklim Ummahatul Qur’ani) pimpinan Ibu Vivi Qur’ani pada Jumat, (16/10/2026).

Narasumber menyampaikan uraiannya yang menjadi keprihatinan bersama tentang fenomena merebaknya kasus LGBT di beberapa kota di Jawa Barat, terutama di Kota Bandung.
Selepas memperlihatkan tayangan video kepada jamaah MTUQ di bawah asuhan Ibu Vivi Qur’ani—video yang memperlihatkan sosok seorang anak laki-laki di dalam kelas yang berperilaku tidak sesuai dengan fitrahnya.
Anak tersebut digambarkan sedang melakukan gerakan berjoget dan mengenakan riasan wajah (make-up) yang tidak wajar.

Tayangan video ditutup dengan solusi agar soal pendidikan fisik juga dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter maskulin anak laki-laki.
“Angka-angka dalam (tayangan video kasus LGBT) ini mungkin seperti fenomena puncak gunung es. Bisa jadi dikatakan hanya 300 ribuan, saya yakin seyakin-yakinnya angkanya di atas itu. Ini saja sudah nomor satu secara nasional. Provinsi Jawa Barat adalah provinsi yang angka LGBT-nya paling tinggi secara nasional dan Kota Bandung adalah kota yang nomor satu angka LGBT-nya di Jawa Barat” paparnya.
“Sehingga bisa dikatakan Kota Bandung adalah kota yang angka LGBT-nya paling tinggi secara nasional. Provinsi Jawa Barat adalah provinsi yang angka HIV-nya paling tinggi secara nasional sehingga Kota Bandung adalah kota yang paling tinggi kasus HIV-nya secara nasional” lanjutnya.

Makanya sekarang saya dan teman-teman bergerak menyampaikan materi ini ke mana-mana. Kalau yang umum-umumnya sudah sering dikaji,” ujar Edwin.
Edwin Senjaya membahas bagian penting dari tayangan video edukasi mengantisipasi maraknya kasus LGBT menyangkut pendidikan fisik dan mental di Dagestan.
Di mana anak-anak laki-laki di sana dididik fisiknya dengan berbagai aktivitas seperti gulat, memanah, dan berkuda seperti yang Rasulullah SAW ajarkan 14 abad yang lalu. Video memperlihatkan anak-anak laki-laki secara bersama-sama bergerak aktif di bawah asuhan Khabib Nurmagomedov, mantan juara UFC.
Figur Khabib Nurmagomedov adalah figur yang menarik bagi narasumber dan ia pun berkisah tentang Khabib ini:
“Kalau Khabib bertemu wanita, ia menjaga pandangan dan tidak mau bersentuhan. Ditawari oleh lawannya dalam suatu konferensi pers minuman keras, Khabib bilang: ‘Saya tidak minum. Minum (alkohol) dilarang dalam keyakinan saya’. Inilah yang harus kita tanamkan pada anak laki-laki kita supaya benar-benar jadi laki-laki. Persoalannya, orang tua tidak memberikan pendidikan suri teladan yang baik sehingga kemudian generasi yang kita miliki menjadi generasi yang lemah.” Ungkapnya.
Narasumber juga menyebut satu negara di dunia sebagai bahan pelajaran untuk mengatasi soal LGBT ini, yaitu Mongol.
Negara ini termasuk salah satu negara yang berdasarkan penelitian memiliki laki-laki dengan kadar testosteron yang tinggi yang memicu vitalitas laki-laki.
Hal ini tidak lain karena kebiasaan bergerak dengan aktivitas mempertahankan tradisi, seperti biasa berkuda, beternak, serta hidup di alam bebas di bawah cuaca empat musim. Itu juga terjadi di Dagestan.
Edwin Senjaya dalam kesempatan ini juga mengingatkan bahwa soal ini sudah Allah peringatkan dalam kisah kaum Nabi Luth. Hendaknya hal ini menjadi perhatian orang tua untuk benar-benar memberikan pendidikan dan memberi keteladanan, sehingga identitas gender menjadi jelas antara laki-laki dan perempuan.

Sementara itu ketua MTUQ Hj. H. Qurani Noor, SE, ME, Ak, CA memberikan keterangan kenapa kajian dengan tema tentang bahaya LGBT ini kembali diselenggarakan setelah pada pertemuan sebelumnya tema yang sama sudah diangkat.
“Kenapa diselenggarakan lagi tema ini, karena memang ini sangat luar biasa ya, sangat kita butuhkan melihat pergaulan anak-anak kita akhir-akhir ini juga Subhanallah ya cukup mengerikan karena LGBT ini kita lihat menular. Jadi kita sebagai ibu sebagai orangtua harus benar-benar menjaga bagaimana kita menyikapi penyakit-penyakit seperti ini dilingkungan kita terutama di lingkungan terdekat kita” jelasnya.
“Hari ini insyaAllah akan dibekali ilmunya oleh Kang Edwin pimpinan DPRD kota Bandung yang beliau juga salah satu aktivis yang juga memang sedang menyuarakan untuk tidak adanya LGBT di kota Bandung ini. Kita harus merapatkan barisan kita sama-sama amankan anak-anak kita dari LGBT ini” pungkasnya.















