Bandung – Keberhasilan dunia pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kurikulum, sarana prasarana, maupun kebijakan pemerintah.
Lebih dari itu, kehadiran sosok guru yang mampu menjadi teladan dan inspirasi bagi peserta didik merupakan salah satu faktor penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal tersebut disampaikan oleh H. Jajang Rohana, S.Pd.I., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, dalam program talkshow Tamu Kita yang dipandu Abi Iwan di Studio TV Harmoni, Senin (8/6/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Kang Jajang menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan orang tua, sekolah, dan pemerintah. Ketiga unsur tersebut harus bersinergi untuk menghasilkan generasi yang berkualitas.
“Pendidikan itu yang paling utama adalah bagaimana keterlibatan orang tua, sekolah, dan pemerintah bersatu padu untuk menyukseskan tujuan pendidikan nasional. Yang menjadi keresahan saya adalah soal guru. Pada zaman saya, guru adalah sosok yang digugu dan ditiru,” ujar Jajang Rohana.
Menurutnya, seorang guru akan berhasil apabila memiliki iradah qawiyah atau kemauan yang kuat untuk membentuk peserta didik yang berkarakter dan berintegritas.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan falsafah Sunda Panca Waluya, yaitu mencetak generasi yang cageur (sehat dan kuat), bageur (berakhlak baik), bener (jujur dan taat aturan), pinter (memiliki ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas), serta singer (terampil dan memiliki etos kerja).
Selain membahas pentingnya peran guru, Kang Jajang juga menyoroti fenomena saat ini ketika sebagian orang tua kerap mempersoalkan tindakan disiplin yang diberikan guru kepada anak-anak mereka.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan akan lebih mudah dicapai apabila masyarakat kembali menempatkan guru pada posisi yang terhormat.
“Kalau ingin dunia pendidikan berhasil, yang penting itu gurunya dulu. Kalau mengajarnya bisa di kebun, bisa di alam bebas, tetapi yang terpenting guru harus dimuliakan,” katanya.
Ia kemudian mengutip ungkapan Sunda ‘Guru, Ratu, Wong Atua Karo’ yang menggambarkan tingginya kedudukan seorang guru dalam kehidupan masyarakat.
Guru dipandang sebagai sosok yang mendapatkan kepercayaan dari orang tua untuk mendidik anak-anak mereka dengan penuh dedikasi dan ketulusan.
Menutup perbincangan, Kang Jajang membagikan pengalaman pribadinya saat menempuh pendidikan dasar dan menengah.
Ia mengenang bagaimana guru-gurunya membentuk karakter disiplin melalui ketegasan dalam mendidik.
Suatu ketika, karena terlambat datang ke sekolah akibat mencari bahan untuk tugas kerajinan tangan, ia mendapat hukuman belajar di luar kelas selama empat minggu.
Meski demikian, pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga yang membentuk kedisiplinannya hingga saat ini.
“Sejak saat itu saya tidak pernah lagi terlambat. Orang tua saya pun tidak pernah mempersoalkan hukuman tersebut karena mereka percaya kepada dedikasi dan ketulusan guru dalam mendidik,” kenangnya.
Bagi Kang Jajang, kisah tersebut menjadi bukti bahwa sosok guru yang berdedikasi tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan nilai-nilai kehidupan yang akan terus melekat pada diri peserta didik hingga dewasa.






