Bandung – Indonesia tengah bersiap menyongsong bonus demografi pada tahun 2045, sebuah momentum ketika jumlah penduduk usia produktif akan lebih besar dibandingkan usia nonproduktif.
Namun, peluang besar tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa perencanaan dan persiapan yang matang, khususnya dalam bidang pendidikan.
Hal itu disampaikan oleh H. Jajang Rohana, S.Pd.I., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, dalam program talkshow bertema “Problem Kompetensi yang Hilang dan Antisipasi Dunia Pendidikan” di TV Harmoni, Jalan Mega Asri, Bandung.
Menurut Jajang Rohana, bonus demografi merupakan kondisi ketika Indonesia memiliki jumlah angkatan kerja yang sangat besar sehingga berpotensi meningkatkan produktivitas nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Namun, keberhasilan memanfaatkan bonus demografi sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang dipersiapkan sejak sekarang.
“Bonus demografi terjadi ketika kita memiliki angkatan kerja yang lebih banyak sehingga produktivitas
meningkat dan berdampak pada kesejahteraan. Kuncinya adalah membenahi pendidikan. Regulasi sudah ada, perda juga sudah ada, tinggal bagaimana implementasinya,” ujar Jajang.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan harus mampu mencetak generasi yang beriman pada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki akhlak mulia, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kompetensi dan keterampilan yang mampu bersaing di tengah perubahan zaman.
“Setelah memiliki iman dan akhlak yang baik, generasi muda harus sehat dan memiliki kompetensi sehingga dapat memberikan manfaat bagi sesama. Selain itu, mereka juga harus inovatif karena dunia terus berubah dan kebutuhan masyarakat semakin berkembang,” tambahnya.
Tidak hanya pendidikan formal, Jajang juga menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sosial dalam membentuk karakter generasi muda.

Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi adalah menurunnya tingkat kemandirian sebagian generasi muda karena berbagai kemudahan yang tersedia.
“Dalam kenyamanan sering muncul kelalaian. Saya mengalami berbagai zaman, mulai dari penerangan menggunakan obor, cempor, lentera hingga petromaks. Dulu komunikasi menggunakan surat, kemudian berkembang menjadi pager, telepon genggam, hingga sekarang smartphone. Banyak kemudahan yang dinikmati generasi saat ini,” ungkapnya.
Ia mengenang masa kecilnya yang penuh keterbatasan. Saat duduk di bangku sekolah dasar, ia harus menempuh perjalanan hingga dua jam untuk bersekolah.
Ketika SMP, jarak sekolah yang mencapai puluhan kilometer membuatnya harus tinggal di dekat sekolah selama beberapa hari.
“Kesulitan dan tantangan membuat seseorang lebih siap menghadapi kehidupan. Sebaliknya, terlalu banyak kemudahan bisa membuat mental menjadi kurang kuat. Karena itu pendidikan harus mampu membentuk generasi yang tangguh secara mental,” tegasnya.
Menutup talkshow, Jajang Rohana menggarisbawahi bahwa keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau pemerintah.
Diperlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari orang tua, lembaga pendidikan, lingkungan sosial, hingga pemerintah.
Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus mempersiapkan generasi unggul yang mampu memanfaatkan bonus demografi demi kemajuan Indonesia di masa depan.






