Oleh: Febri Satria Yazid
Di zaman sekarang, perdebatan tidak lagi hanya terjadi di ruang diskusi, warung kopi, atau forum ilmiah. Media sosial telah mengubah segalanya. Setiap orang bisa berbicara, berpendapat, menghakimi, bahkan menghina orang lain hanya lewat sentuhan jari. Ironisnya, semakin keras seseorang berbicara, semakin dianggap pintar oleh sebagian orang. Sementara mereka yang tenang, hati-hati, dan santun justru sering dicap lemah, tidak berani, atau bahkan dianggap bodoh.
Fenomena ini sesungguhnya sudah diingatkan Rasulullah SAW sejak berabad-abad lalu. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan bahwa akan datang masa penuh tipu daya. Orang jujur dianggap pendusta, pengkhianat dipercaya, dan muncul banyak Ruwaibidhah, yaitu orang-orang bodoh yang sibuk berbicara tentang urusan publik.
Jika direnungkan, gambaran itu terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini. Media sosial kini seperti panggung besar tanpa penjaga. Semua orang merasa punya hak untuk menjadi hakim, pakar, bahkan penentu kebenaran. Tidak sedikit yang sebenarnya minim ilmu, tetapi berbicara paling keras. Mereka mudah menyimpulkan sesuatu hanya dari potongan video, judul berita, atau narasi yang belum tentu benar. Akibatnya, ruang publik dipenuhi kebisingan, bukan kebijaksanaan.
Yang lebih memprihatinkan, perbedaan pendapat sekarang sering berubah menjadi permusuhan. Orang tidak lagi sekadar berbeda pandangan, tetapi saling merendahkan. Istilah-istilah kasar seperti “dungu”, “bodoh”, dan berbagai label lainnya pernah begitu mudah bertebaran dalam kehidupan politik maupun sosial. Setelah pesta demokrasi selesai pun, luka sosialnya masih terasa hingga sekarang.
Masing-masing kelompok merasa dirinya paling cerdas dan paling waras. Semua mengaku pembela kebenaran. Namun di sinilah letak persoalannya bahwa ketika semua merasa paling benar, maka ruang untuk saling mendengar menjadi hilang.
Padahal kecerdasan sejati bukan diukur dari kemampuan menghina lawan atau memenangkan perdebatan. Orang cerdas justru mampu mengendalikan emosi, menjaga adab, dan menghargai perbedaan. Sebab ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan kesombongan.
Hari ini kita menyaksikan banyak orang yang begitu mudah menyerang karakter orang lain. Mereka tidak lagi membahas isi pemikiran, tetapi menyerang pribadi. Diskusi berubah menjadi cacian. Kritik berubah menjadi kebencian. Bahkan tidak sedikit orang yang merasa bangga ketika berhasil mempermalukan orang lain di depan publik.
Padahal dalam ajaran agama, lisan dan tulisan adalah amanah. Apa yang kita ucapkan akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu Islam mengajarkan etika berbicara, berkata baik atau diam.
Allah SWT bahkan memerintahkan Rasulullah SAW untuk tidak melayani orang-orang bodoh yang gemar memancing keributan. Dalam Surah Al-A’raf ayat 199 disebutkan, “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”
Ayat ini bukan mengajarkan kita untuk lemah, melainkan mengajarkan kedewasaan. Tidak semua perdebatan harus dilayani. Tidak semua hinaan harus dibalas. Kadang diam adalah bentuk kecerdasan yang paling tinggi. Imam Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Orang yang paling dungu adalah orang yang menganggap dirinya paling berakal.”
Kalimat ini sangat relevan dengan kondisi sekarang. Banyak orang terlalu sibuk mengoreksi orang lain, tetapi lupa bercermin pada dirinya sendiri. Mudah sekali menuduh orang lain sesat, bodoh, atau tidak punya akal sehat, padahal dirinya sendiri belum tentu mampu menjaga sikap dan lisannya.
Fenomena “sok paling pintar” ini semakin subur karena budaya ingin selalu terlihat benar di hadapan publik. Media sosial mendorong orang untuk mencari pengakuan. Semakin kontroversial ucapan seseorang, semakin besar peluangnya mendapat perhatian. Akhirnya, sebagian orang lebih suka tampil sensasional daripada bijaksana.
Padahal hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling benar di mata manusia. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita tetap menjadi pribadi yang berakhlak di tengah perbedaan. Dalam kehidupan sosial, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Tidak mungkin semua orang berpikir sama. Bahkan para ulama pun berbeda pandangan dalam banyak hal. Namun perbedaan tidak membuat mereka saling menghina. Mereka tetap menjaga adab dan saling menghormati.
Inilah yang mulai hilang dari kehidupan modern kita yaitu adab dalam berbeda pendapat. Kita hidup di era ketika orang lebih cepat mengetik daripada berpikir. Lebih mudah marah daripada memahami. Lebih senang menyerang daripada berdialog. Akibatnya, ruang publik menjadi penuh kegaduhan dan kehilangan keteduhan.
Masyarakat hari ini membutuhkan lebih banyak orang bijak, bukan sekadar orang pintar. Sebab kepintaran tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan kerusakan sosial. Kita perlu belajar menahan diri. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua provokasi harus ditanggapi. Kadang menjaga ketenangan jauh lebih mulia daripada memenangkan perdebatan yang tidak membawa manfaat.
Kesabaran bukan berarti kalah. Kesabaran adalah kemampuan mengendalikan diri ketika emosi ingin menguasai hati. Orang yang mampu tetap santun ketika dihina sesungguhnya sedang menunjukkan kualitas dirinya.
Sering kali, masyarakat justru dapat melihat dengan jelas siapa yang bermartabat dan siapa yang hanya pandai mencaci maki. Orang yang tenang biasanya lebih dihormati dibanding mereka yang gemar berteriak.
Inilah tantangan terbesar manusia modern agar tetap waras, santun, dan bijaksana di tengah dunia yang gemar gaduh. Kecerdasan sejati bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang paling mampu menjaga hati, lisan, dan sikapnya di hadapan sesama manusia.(fsy)






