Oleh : Febri Satria Yazid
Jam di Masjid Besar itu telah menunjukkan pukul 11.37 WIB. Waktu shalat Jum’at telah tiba. Di masjid-masjid sekitar, para khatib sudah berdiri di atas mimbar, dan adzan pun telah berkumandang, menggetarkan langit siang itu dengan panggilan suci.
Namun tidak di masjid ini. Jamaah mulai saling berpandangan.
Ada tanya yang mengendap, ada heran yang tak terucap. Mengapa khatib belum juga naik mimbar? Jawaban itu akhirnya datang, bukan dari langit, melainkan dari pengeras suara. Seorang pengurus DKM naik ke mimbar, menyampaikan permohonan maaf: khutbah akan ditunda beberapa saat, menunggu kedatangan rombongan penting.
Maka, jelaslah sudah. Dua baris shaf paling depan yang sejak tadi kosong, ternyata bukan karena terlambat diisi, melainkan sengaja disediakan, untuk mereka yang “akan datang”.
Waktu berlalu. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, yang ditunggu tak kunjung tiba. Pada satu titik, kesabaran jamaah menemukan jalannya sendiri. Satu per satu mereka maju, mengisi ruang kosong yang sebelumnya “dipesan”. Tanpa aba-aba, tanpa protokol. Lalu khatib pun naik mimbar, seolah mengembalikan Jumat ke fitrahnya.
Dalam khutbahnya, sang khatib mengingatkan hakikat penciptaan manusia, sebagaimana firman Allah dalam Surat Adh-Dhaariyat ayat 56: bahwa jin dan manusia diciptakan semata untuk beribadah kepada-Nya. Setiap hari, minimal 17 kali, kita mengikrarkan dalam shalat: “Hanya kepada-Mu kami menyembah.” Sebuah janji yang seharusnya bersih dari kepentingan lain, tanpa riya, tanpa pamrih, tanpa “titipan dunia”.
Namun ibadah bukan sekadar gerakan. Ia butuh ilmu, agar tidak menjadi rutinitas kosong. Ia butuh keikhlasan, agar tidak berubah menjadi panggung pencitraan.
Khatib kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW, tentang keutamaan shaf pertama, sebagaimana diriwayatkan dalam Hadis tentang keutamaan shaf pertama:
“Seandainya mereka mengetahui keutamaan shaf pertama, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.” Namun sayang, makna hadits itu kerap dipahami secara dangkal.
Shaf pertama bukan sekadar posisi fisik di depan. Ia adalah simbol kesiapan hati. Ia adalah tanda bahwa seseorang datang lebih awal, menyisihkan waktu, merendahkan diri di hadapan Tuhan sebelum berdiri di hadapan manusia. Shaf pertama adalah tentang niat, bukan tentang status.
Ironisnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Mereka yang datang lebih akhir, melangkahi pundak-pundak orang lain, menuju barisan depan yang sudah penuh. Bahkan, tidak jarang disediakan ruang khusus, hanya karena jabatan yang melekat. Padahal, dalam logika ibadah, keterlambatan tidak pernah berhak atas keutamaan.
Ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kedudukan, melainkan ketakwaan, sebagaimana ditegaskan dalam Surat Al-Hujurat ayat 13. Kita pernah disuguhi teladan yang begitu sederhana, namun dalam maknanya oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan suatu ketika datang terlambat untuk shalat Jum’at. Tidak ada pengosongan shaf. Tidak ada penyambutan khusus. Ia tidak memaksakan diri ke depan. Ia memilih duduk di teras masjid, mendengarkan khutbah dengan khusyuk dari tempat yang tersisa.
Sebuah sikap yang mungkin sederhana, tetapi justru di situlah letak kemuliaannya. Karena di hadapan Allah, semua manusia sejajar. Tidak ada kursi khusus.
Tidak ada barisan istimewa. Yang ada hanyalah hati yang tunduk.
Maka, menjadi pertanyaan bagi kita semua: Untuk siapa sebenarnya kita beribadah?. Jika shalat masih memberi ruang bagi keistimewaan manusia, apakah kita benar-benar telah memurnikan niat hanya untuk Allah? Jangan sampai kita mengejar shaf pertama, tetapi kehilangan maknanya. Jangan sampai kita menjaga posisi di depan, tetapi tertinggal dalam keikhlasan. Bukan di mana kita berdiri yang dinilai, melainkan bagaimana kita bersujud.(fsy)





