BANDUNG – Pelatihan Membangun Ekosistem Pemasaran Digital Wisata Kuliner dan Pertunjukan yang difasilitasi Pimpinan DPRD Kota Bandung, Dr. H. Edwin Sanjaya, S.E., bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, berlangsung selama tiga hari sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kegiatan ini membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan mulai dari dasar-dasar kepariwisataan, pemasaran digital, branding produk, fotografi, pembuatan konten kreatif, hingga motivasi kewirausahaan agar mampu memanfaatkan potensi wisata di daerahnya masing-masing.
Pelatihan yang diikuti sekitar 40 peserta dari Kecamatan Regol, Rancasari, Buahbatu, dan wilayah sekitarnya tersebut dirancang tidak hanya memberikan pemahaman teori, tetapi juga praktik yang dapat langsung diterapkan dalam pengembangan usaha kuliner, pertunjukan, serta promosi destinasi wisata melalui media digital.
Selama tiga hari, peserta memperoleh materi dari akademisi, praktisi, pelaku industri kreatif, hingga pegiat pemasaran digital.
Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dengan dasar-dasar kepariwisataan sekaligus pentingnya membangun ekosistem pemasaran digital yang mampu menghubungkan sektor wisata, kuliner, dan ekonomi kreatif.
Materi awal menjadi fondasi agar peserta memahami peluang yang dimiliki Kota Bandung sebagai salah satu daerah dengan potensi wisata dan kuliner yang terus berkembang.

Pimpinan DPRD Kota Bandung, Dr. H. Edwin Sanjaya, S.E., mengatakan peningkatan keterampilan masyarakat menjadi salah satu langkah untuk membuka peluang kerja sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
”Kita mencoba memberikan jalan keluar dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan juga memberikan pengetahuan serta keterampilan kepada masyarakat melalui pelatihan-pelatihan. Saat ini kami bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kota Bandung agar kemampuan masyarakat semakin meningkat sehingga memiliki bekal untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan,” ujarnya.
Kepala Bidang Kepariwisataan Disbudpar Kota Bandung, Yayah Sumiyati, S.IP., M.Si., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut diharapkan mampu mendorong masyarakat menjadi bagian dari pelaku industri pariwisata, bukan hanya sebagai penikmat.
”Kami berharap masyarakat, khususnya di wilayah Dapil 4, tidak hanya menjadi penonton di sektor pariwisata, tetapi juga menjadi pelaku pariwisata yang mandiri sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri,” ujarnya.

Senada dengan itu, Perwakilan Pimpinan DPRD Kota Bandung, Aisyah Nur Syamsiati Jamil, S.E., mengatakan pelatihan dasar-dasar kepariwisataan menjadi bekal awal bagi peserta dalam mengenali dan mengembangkan potensi daerahnya.
”Materi yang diberikan sangat luar biasa. Harapan kami, peserta dapat mengangkat potensi kepariwisataan di wilayah masing-masing dan menjadikannya sebagai modal untuk mengembangkan sektor kuliner maupun pertunjukan. Semoga pelatihan selama tiga hari ini
memberikan manfaat bagi seluruh peserta,” ujarnya.

Materi pada hari pertama juga diisi oleh pemateri Tete Yusup yang membahas konsep Catur Wisata sebagai dasar pembangunan sektor pariwisata yang berkelanjutan.
Menurutnya, edukasi mengenai kepariwisataan perlu terus diperluas agar semakin banyak masyarakat memahami peluang yang dapat dikembangkan.

”Kesempatan ini sangat bermanfaat untuk berbagi ilmu mengenai kepariwisataan. Mudah-mudahan pelatihan seperti ini bisa lebih sering dilaksanakan karena peserta masih terbatas, sementara masih banyak masyarakat yang membutuhkan edukasi tentang pariwisata di Kota
Bandung,” ujarnya.
Sementara itu, pemateri Ahmad Mujaddid A., M.Psi., menilai pengembangan sektor pariwisata memiliki potensi besar dalam menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.
”Harapannya kegiatan ini dapat membuka peluang usaha baru di bidang kepariwisataan, khususnya di wilayah Regol,” ujarnya.
Pelatihan hari pertama ditutup dengan materi mengenai ekonomi kreatif dan pemasaran digital yang membahas teknik pengemasan produk, fotografi produk, hingga pembuatan konten kreatif untuk media sosial.

Pemateri Nursepsanti, S.Ak., mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara penyelenggara, pelaku UMKM, dan para influencer yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

”Kolaborasi antara UMKM dan para influencer Kota Bandung sangat luar biasa. Mudahmudahan seluruh materi yang disampaikan selama pelatihan dapat meningkatkan kualitas produk peserta, memperluas penjualan, dan memberikan manfaat bagi perekonomian,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Aisyah Nur Syamsiati Jamil menjelaskan bahwa materi ekonomi kreatif difokuskan pada optimalisasi experiential marketing melalui foto produk dan content creator sebagai bekal bagi para pelaku usaha baru.
“Peserta dibekali bagaimana mengemas produk, memasarkan produk secara digital, hingga memotret produk agar lebih menarik. Harapannya pelatihan ini dapat mencetak wirausahawan baru yang mampu meningkatkan perekonomian keluarga,” ujarnya.
Memasuki hari kedua, pelatihan difokuskan pada penguatan strategi pemasaran digital wisata kuliner dan pertunjukan.

Berbagai materi disampaikan secara interaktif melalui diskusi, praktik, dan simulasi sehingga peserta dapat memahami cara membangun identitas produk sekaligus memperluas jangkauan promosi melalui media sosial.
Pemateri Evi Sri Rezeki mengaku terkesan dengan antusiasme peserta selama mengikuti pelatihan.

”Pesertanya sangat antusias dan terjadi dialog yang menyenangkan. Mudah-mudahan ke depan semakin banyak konten kreator yang mampu mempromosikan potensi wisata di mana pun berada,” ujarnya.
Hal senada disampaikan M. Ichsan Pratama. Menurutnya, keterlibatan generasi muda memberikan warna tersendiri dalam proses pembelajaran.

“Pesertanya seru sekali. Banyak Gen Z yang memiliki ide-ide sangat kreatif. Saat sesi permainan dan diskusi, mereka sangat aktif sehingga suasana pelatihan menjadi hidup,” ujarnya.
Narasumber Krisna Primanti, M.Pd., menilai tingginya motivasi peserta menjadi modal penting dalam mengembangkan sektor ekonomi kreatif.

“Peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan motivasi yang tinggi. Terima kasih kepada Kang Edwin beserta seluruh tim yang telah memfasilitasi kegiatan ini,” ujarnya.
Sementara itu, Founder Efaz Encodeveil, dr. Evi Faozia Anas, M.MPd., memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberikan motivasi sekaligus berbagi pengalaman melalui bukubuku yang telah ditulisnya.

”Merupakan kehormatan bagi saya dapat memberikan edukasi dan inspirasi kepada para peserta. Mudah-mudahan ilmu yang diberikan dan buku-buku yang saya tulis dapat memberikan manfaat bagi semuanya,” ujarnya.
Menutup rangkaian hari kedua, Aisyah Nur Syamsiati Jamil mengatakan materi yang disampaikan para narasumber memberikan bekal yang komprehensif bagi peserta.

”Alhamdulillah kegiatan hari kedua berjalan lancar. Materi mengenai kuliner, pertunjukan, dan pemasaran digital disampaikan langsung oleh narasumber yang kompeten sehingga diharapkan mampu menjadi bekal bagi peserta untuk berinovasi di sektor pariwisata,” ujarnya.
Pada hari terakhir, peserta memperoleh materi lanjutan mengenai desain tata letak objek wisata, branding produk di media sosial, storytelling, fotografi produk, pembuatan video promosi, hingga strategi meningkatkan penjualan melalui platform digital.
Materi tersebut menjadi penutup rangkaian pelatihan yang berorientasi pada praktik sehingga peserta dapat langsung menerapkannya dalam kegiatan usaha.
Pemateri Irfan L., S.Ds.,menjelaskan bahwa penataan visual destinasi wisata memiliki peran penting dalam meningkatkan daya tarik sebuah kawasan.

”Semoga kegiatan hari ini memberikan pengalaman baru, wawasan baru, dan menjadi bekal bagi peserta dalam mengembangkan potensi wisata di daerahnya,” ujarnya.
Sementara itu, Nursepsanti, S.Ak., kembali menekankan pentingnya implementasi seluruh materi yang telah diberikan selama tiga hari pelatihan.

”Jangan berhenti di pelatihan. Terapkan semua ilmu yang sudah diberikan, mulai dari storytelling, pembuatan caption, teknik foto dan video produk hingga cara mengunggah produk di media sosial. Dengan begitu kualitas produk meningkat, penjualan bertambah, dan ekonomi kreatif dapat berkembang,” ujarnya.
Sebagai penutup, pemateri motivasi kewirausahaan Yandi H., M.M., mengajak peserta untuk terus mengembangkan kemampuan yang telah diperoleh selama pelatihan.

”Saya melihat peserta sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mudah-mudahan ilmu yang diperoleh selama tiga hari ini menjadi bekal untuk membangun usaha, berkembang lebih baik, dan mendukung kemajuan sektor pariwisata,” ujarnya.
Melalui pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai pengembangan sektor pariwisata dan pemasaran digital, tetapi juga dibekali keterampilan praktis yang dapat diterapkan dalam mengembangkan usaha berbasis ekonomi kreatif.
Kolaborasi antara DPRD Kota Bandung, Disbudpar Kota Bandung, para narasumber, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat ekosistem pariwisata, mendorong lahirnya pelaku usaha baru, serta meningkatkan daya saing potensi wisata kuliner dan pertunjukan di Kota Bandung














