BANDUNG – Paguyuban Perantau Purbalingga (Papeling) Koordinator Wilayah Bandung sukses menyelenggarakan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka peringatan Milad ke-10. Acara tersebut berlangsung pada Sabtu malam, 25 Juli 2026, di Auditorium B.J. Habibie, PT Dirgantara Indonesia, Bandung.
Pagelaran ini dihadiri penonton dari berbagai paguyuban perantau asal Jawa Tengah dan komunitas seni budaya Jawa di wilayah Bandung Raya. Acara berlangsung lancar, tertib, dan mendapat apresiasi positif dari para undangan.
Menariknya, Papeling Korwil Bandung sengaja menampilkan dua orang dalang asal Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, yang belum pernah tampil di luar daerahnya. Keduanya adalah Dalang Cilik Afan Giatsya Nurfalah (9 tahun) dan Dalang Muda Wanda Yuda Asmara (21 tahun).
Dalam pagelaran tersebut, Dalang Afan membawakan lakon Gatotkaca Winisuda, sementara Dalang Wanda mengangkat lakon Kangsa Adu Jago. Penampilan keduanya berhasil memukau penonton.

“Ini merupakan pengalaman pertama kami menyaksikan pertunjukan wayang kulit dengan dalang asal Purbalingga di Bandung, khususnya dengan dalang usia muda dan cilik,” ujar salah seorang penonton.
Fokus pada Penguatan Potensi Lokal
Ketua Papeling Korwil Bandung, Amin Maulana, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan hasil dari persiapan selama dua tahun.
“Tujuan utama kami adalah memberikan ruang bagi talenta-talenta lokal dari Kabupaten Purbalingga untuk dikenal di kancah yang lebih luas. Jika bukan kami yang mengangkat potensi ini, maka siapa lagi,” tegas Amin.
Menurutnya, keputusan untuk tidak menggunakan dalang dengan popularitas nasional merupakan bagian dari strategi untuk mengeksplorasi dan memberdayakan sumber daya manusia di bidang seni dari daerah asal. Keberhasilan acara ini tidak terlepas dari dukungan anggota Papeling di wilayah Jabodetabek dan Bandung, serta para sponsor dan donatur.
Regenerasi dan Edukasi Budaya
Pembina Papeling Korwil Bandung, Guntur Cahyono, menekankan bahwa peringatan Milad ke-10 ini memiliki orientasi pada misi edukasi dan regenerasi budaya.
“Keputusan menampilkan dalang yang belum dikenal luas merupakan langkah sadar untuk memberikan edukasi kepada generasi muda. Kami ingin menumbuhkan semangat untuk berinovasi dan berani tampil di panggung kebudayaan,” jelas Guntur.
Ia menambahkan, kekompakan seluruh anggota menjadi faktor kunci keberhasilan acara. Ke depan, Papeling menargetkan penyelenggaraan kegiatan kebudayaan berskala lebih besar dengan fokus utama pada pelestarian seni budaya asli Purbalingga.
Pemberian Anugerah Budaya
Rangkaian acara juga diisi dengan pemberian Anugerah Budaya kepada tiga tokoh yang dinilai memiliki kontribusi signifikan terhadap pelestarian seni dan budaya Jawa di perantauan. Penerimanya adalah: Subejo Efendi dan Group Campursari Tirta Indah Kencana Cimahi, yang telah eksis selama hampir tiga dekade. KRT. Sagino Budoyo Dipuro, tokoh pelestari dan pengembang Kethoprak Mataram melalui Serayu Krido Budhoyo. Esa Ariyanti dan Iman Pramono, pasangan seniman yang aktif dalam bidang seni tari untuk berbagai paguyuban.
Dukungan dan Proyeksi ke Depan
Wahyu Triyono, Pembina Pusat Papeling, mengapresiasi kerja keras pengurus Papeling Korwil Bandung. Kehadirannya di Bandung disebut sebagai bentuk dukungan dan restu terhadap inisiatif para perantau.
“Pagelaran ini menjadi momentum strategis untuk mengorbitkan talenta lokal. Ke depan, kami berencana menyelenggarakan kegiatan serupa di Jakarta dengan melibatkan tim penayaga dari internal komunitas. Kami juga akan menindaklanjuti kerja sama dengan RRI untuk kegiatan wayangan rutin,” ujar Wahyu.
Ia menegaskan, visi Papeling adalah menjadi wadah regenerasi berkelanjutan bagi para seniman muda dari Purbalingga agar tetap eksis di perantauan. Dengan mengusung tiga pilar utama, yaitu Pelestarian Budaya Wayang Kulit, Pemberdayaan Seniman Purbalingga, dan Penjagaan Konektivitas Perantau dengan Daerah Asal, Papeling Korwil Bandung berharap peringatan Milad ke-10 ini dapat menjadi fondasi kuat untuk ekspansi kegiatan budaya di kota-kota besar lainnya. [gp]






