Oleh: Joko Intarto
Dalam praktik berbahasa Indonesia, kita semakin sering menjumpai akronim dan singkatan kata baru. Lucunya, pembuatan akronim dan singkatan itu tidak selalu sesuai dengan pakem berbahasa.
Akibatnya, kita sering dibuat puyeng untuk menemukan kepanjangan maupun artinya.Coba baca kalimat ini: SPPI KDKMP/KNMP SATDIK MENART 1 MAR.
Seluruh singkatan di atas ternyata merupakan satu kalimat yang sangat panjang. Disingkat saja masih panjang. Apalagi aslinya.Tidak hanya itu.
Mengartikannya pun susah. Sudah lebih dari sebulan saya melihat papan informasi dengan tulisan di atas. Namun saya gagal mengartikan seluruh singkatannya.Melalui bantuan ChatGPT, saya memperoleh tambahan informasi mengenai kepanjangan beberapa singkatan, seperti SPPI dan SATDIK.
Namun ChatGPT juga mengakui tidak dapat memastikan arti beberapa singkatan lain, seperti KDKMP, KNMP, dan MENART 1 MAR, hanya berdasarkan tulisan pada papan tersebut.
Baru setelah saya “melatihnya” dengan memberikan informasi tambahan sebagai latar belakang, ChatGPT dapat menyusun kepanjangan seluruh singkatan itu. Meski demikian, saya tetap memilih bersikap kritis. Sebab, sehebat apa pun kecerdasan buatan, ketepatan jawaban tetap bergantung pada informasi yang tersedia.
Pengalaman kecil itu membuat saya bertanya-tanya. Sesungguhnya, apa tujuan orang membuat singkatan dan akronim?
Menurut ilmu komunikasi, tujuan utama membuat singkatan adalah meningkatkan efisiensi komunikasi tanpa mengurangi kejelasan makna. Singkatan dibuat agar pesan lebih ringkas, mudah diingat, hemat ruang, dan mempercepat penyampaian informasi.Namun, agar maksud itu bisa tercpai, penerima pesan harus memahami singkatan tersebut.
Bila pembaca justru harus menebak-nebak artinya, maka fungsi komunikasi tidak tercapai. Singkatan yang semestinya memudahkan justru berubah menjadi penghalang komunikasi.

Dalam ilmu komunikasi dikenal prinsip sederhana: pesan yang baik adalah pesan yang langsung dipahami oleh penerimanya.
Karena itu, ukuran keberhasilan sebuah singkatan bukanlah seberapa pendek bentuknya, melainkan seberapa banyak orang yang langsung mengerti maksudnya.
Dari sisi kebahasaan, pembuatan singkatan dan akronim juga memiliki pedoman.
PUEBI membedakan singkatan dan akronim sebagai dua bentuk yang berbeda.Singkatan dibentuk dari huruf-huruf awal, seperti DPR, TNI, atau OJK.
Sementara akronim dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat dilafalkan sebagai sebuah kata, misalnya Kodam, Lanud, Bappenas, atau Bulog. Akronim yang baik seharusnya mudah dibaca, mudah diucapkan, dan mudah diingat.
Selain itu, dalam komunikasi kepada masyarakat, kepanjangannya sebaiknya ditulis terlebih dahulu sebelum menggunakan bentuk singkatnya.
Dengan cara itu, pembaca tidak dipaksa bermain teka-teki.Lalu, apa sebenarnya arti tulisan SPPI KDKMP/KNMP SATDIK MENART 1 MAR? Setelah ditelusuri, kepanjangannya kurang lebih sebagai berikut:
• SPPI = Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia.
• KDKMP = Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
• KNMP = Kampung Nelayan Merah Putih.• SATDIK = Satuan Pendidikan.
• MENART 1 MAR = (Menurut ChatGPT)
Menara 1 Marinir, salah satu satuan pendidikan Korps Marinir TNI AL. (Menurut saya): Resimen Artileri 1 Marinir.
Bayangkan. Untuk memahami satu papan petunjuk saja, kita harus mengurai lima singkatan sekaligus. Padahal, bila ditulis lengkap, pesannya akan jauh lebih ramah bagi masyarakat. Tapi, memang panjaaaaaaaaaang banget.
Bahasa diciptakan untuk memudahkan manusia berkomunikasi, bukan untuk menguji kecerdasan pembacanya. Jika sebuah singkatan membuat orang mengernyitkan dahi, berhenti membaca, bahkan salah paham, berarti tujuan pembentukannya patut dipertanyakan.Ah, sudahlah.
Daripada puyeng menghafal singkatan-singkatan baru yang terus bermunculan, lebih baik pagi ini kita berolahraga.Insya Allah, bukan hanya kepala yang terasa lebih segar, tetapi gula darah Anda pun akan menjadi lebih baik setelah berolahraga.(jto)














