• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Minggu, 4 Oktober 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

Mentalitas Layangan Putus dalam Kehidupan Sosial

TV Harmoni oleh TV Harmoni
Jumat, 5 Juni 2026
in Hikmah
0 0
Mentalitas Layangan Putus dalam Kehidupan Sosial

Oleh: Febri Satria Yazid

Pemerhati Sosial

Peristiwa yang baru saja saya saksikan terjadi, mengingatkan saya pada sebuah permainan masa kecil yang mungkin pernah dialami banyak orang yaitu berebut layangan putus.

Ketika sebuah layangan putus terbawa angin, anak-anak akan berlarian mengejarnya. Mereka berlari melintasi jalan setapak, menerobos pematang sawah, melompati selokan, bahkan memanjat pohon jika layangan tersangkut di ranting yang tinggi. Tidak sedikit yang terjatuh, lecet, atau kehabisan napas. Namun semua itu dilakukan demi satu tujuan untuk mendapatkan layangan yang sedang melayang tanpa pemilik.

Setelah perjuangan panjang, biasanya ada satu orang yang berhasil menangkap layangan tersebut lebih dahulu. Ia adalah orang yang paling cepat, paling gigih, paling terampil menghadapi rintangan, atau mungkin juga paling beruntung. Dengan wajah gembira, ia mengangkat layangan itu sebagai tanda keberhasilan atas usaha yang telah dilakukannya.

Namun tidak semua orang yang ikut mengejar layangan mampu menerima kenyataan tersebut. Kadang ada yang datang dan berusaha merebut layangan yang sudah berada di tangan orang lain. Terjadilah tarik-menarik. Orang yang lebih dahulu mendapatkannya tentu berusaha mempertahankan hasil perjuangannya.

Akibatnya, layangan menjadi robek dan rusak. Yang menarik untuk dicermati, pihak yang gagal merebut layangan terkadang justru tampak puas melihat layangan itu hancur. Seolah ada pesan yang tidak terucapkan: “Kalau saya tidak dapat, lebih baik kita sama-sama tidak dapat.”

Fenomena sederhana ini ternyata tidak hanya terjadi dalam permainan anak-anak. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan pola yang serupa. Ketika seseorang berhasil meraih prestasi, membangun usaha, mendapatkan jabatan, atau memperoleh penghargaan, tidak sedikit orang yang bukannya memberi apresiasi, melainkan berusaha menjatuhkan, merusak reputasi, atau mencari-cari kesalahan.

Alih-alih belajar dari keberhasilan orang lain, sebagian orang justru menghabiskan energi untuk memastikan keberhasilan tersebut tidak bertahan lama.

Yang lebih memprihatinkan, dalam beberapa kasus perebutan itu bahkan bukan lagi untuk memiliki. Ada orang yang berusaha merebut “layangan” yang telah berhasil diraih orang lain bukan karena ia menginginkannya, melainkan karena ia ingin memberikannya kepada pihak lain yang menurut penilaiannya lebih pantas.

Sekilas tindakan ini tampak mulia. Namun jika dicermati lebih dalam, persoalannya bukan lagi tentang siapa yang akan memegang layangan, melainkan tentang penolakan untuk mengakui hasil perjuangan orang yang telah lebih dahulu mendapatkannya.

Dalam situasi seperti ini, ukuran keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh proses, usaha, kemampuan, atau aturan yang berlaku. Keberhasilan justru ditentukan oleh selera, kedekatan, atau penilaian subjektif pihak yang merasa berhak menentukan siapa yang layak menjadi pemenang.

Padahal orang yang berhasil meraih layangan telah melalui perjuangan yang sama beratnya. Ia berlari, menghadapi rintangan, mengambil risiko, dan akhirnya berhasil mencapai tujuan lebih dahulu. Namun pencapaiannya dianggap tidak sah hanya karena tidak sesuai dengan harapan sebagian orang.

Fenomena semacam ini dapat ditemukan dalam berbagai bidang kehidupan. Ada orang yang bekerja keras membangun usaha, organisasi, komunitas, atau karya. Ketika hasilnya mulai terlihat, muncul pihak-pihak yang berusaha menggeser pengakuan tersebut kepada orang lain yang dianggap lebih layak menurut versi mereka sendiri.

Masalahnya bukan pada keinginan agar orang baik mendapatkan kesempatan. Masalah muncul ketika proses yang telah ditempuh, usaha yang telah dilakukan, dan hak yang telah diperoleh seseorang diabaikan demi memenuhi preferensi kelompok tertentu.

Sikap seperti ini menunjukkan kecenderungan menempatkan penilaian pribadi di atas prinsip keadilan. Seolah yang penting bukan siapa yang berhasil melalui perjuangan secara sah, melainkan siapa yang kita sukai untuk menjadi pemenang.

Salah satu tanda kedewasaan adalah kemampuan mengakui keunggulan orang lain. Mengakui bahwa seseorang lebih berhasil bukan berarti merendahkan diri sendiri. Justru hal itu menunjukkan kematangan berpikir dan kelapangan hati.

Sayangnya, dalam kehidupan sosial masih sering muncul sikap sebaliknya. Keberhasilan orang lain dianggap sebagai ancaman, bukan inspirasi. Prestasi orang lain dipandang mengurangi nilai diri sendiri. Akibatnya, energi yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki diri justru habis untuk membandingkan, mengkritik, atau menjatuhkan pihak lain.

Dalam ilmu sosial terdapat istilah scarcity mindset atau mentalitas kelangkaan. Cara berpikir ini membuat seseorang percaya bahwa kesempatan, penghargaan, pengaruh, dan kesuksesan jumlahnya sangat terbatas. Karena itu, ketika orang lain berhasil, ia merasa dirinya kehilangan kesempatan.

Kenyataannya tidak selalu demikian. Keberhasilan seorang penulis tidak menghalangi lahirnya penulis baru. Kesuksesan satu pengusaha tidak menutup peluang pengusaha lainnya. Bahkan sering kali keberhasilan seseorang justru membuka jalan bagi banyak orang untuk berkembang.

Sebaliknya, orang yang memiliki abundance mindset atau mentalitas kelimpahan akan melihat keberhasilan orang lain sebagai bukti bahwa keberhasilan itu mungkin dicapai. Ia tidak merasa terancam, melainkan termotivasi.

Kedewasaan sosial bukan hanya terlihat ketika kita menang, tetapi juga ketika kita gagal mendapatkan apa yang kita inginkan. Kita boleh memiliki kandidat favorit, sahabat dekat, atau orang yang kita kagumi. Namun ketika orang lain berhasil meraih sesuatu melalui cara yang benar dan usaha yang sungguh-sungguh, kita harus memiliki kebesaran hati untuk mengakuinya.

Sebab keadilan bukanlah memberikan kemenangan kepada orang yang kita sukai, melainkan menghormati hak orang yang telah memperjuangkannya dengan layak.

Layangan putus mengajarkan pelajaran sederhana namun mendalam. Tidak semua perlombaan harus kita menangkan. Tidak semua keinginan dapat terpenuhi. Namun kita selalu memiliki pilihan untuk bersikap terhormat.

Melihat orang lain mengangkat “layangan kemenangan”-nya, mungkin sudah saatnya kita belajar memberikan tepuk tangan, bukan berebut merobeknya. Kemajuan bersama tidak lahir dari banyaknya layangan yang berhasil kita rusak, melainkan dari kemampuan kita menghargai setiap perjuangan yang berhasil mencapai langitnya sendiri.(fsy).

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
TV Harmoni

TV Harmoni

Info Terkait

Saat Panggilan Tuhan Tak Lagi Membuat Hati Kita Tergerak
Hikmah

Saat Panggilan Tuhan Tak Lagi Membuat Hati Kita Tergerak

Jumat, 2 Oktober 2026
Kita Hanya Melihat Satu Halaman
Hikmah

Kita Hanya Melihat Satu Halaman

Jumat, 2 Oktober 2026
Kehilangan Ternyata Jalan Menuju Pertemuan (Merasa Dirugikan oleh Takdir, Belajarlah dari Bunyamin)
Hikmah

Kehilangan Ternyata Jalan Menuju Pertemuan (Merasa Dirugikan oleh Takdir, Belajarlah dari Bunyamin)

Jumat, 25 September 2026
Belajar “Pulang” dari Kisah Nabi Yunus
Hikmah

Belajar “Pulang” dari Kisah Nabi Yunus

Jumat, 18 September 2026
Belajar tentang Integritas kepada Nabi Ayyub
Hikmah

Belajar tentang Integritas kepada Nabi Ayyub

Jumat, 11 September 2026
Kerusakan Bumi karena Ulah Manusia yang Salah
Hikmah

Kerusakan Bumi karena Ulah Manusia yang Salah

Rabu, 9 September 2026

Info Terbaru

Bagaimana Cara agar Hati tetap Utuh Iman tidak Runtuh? Ikuti “Tadabbur Ayat Chapter 2” bersama Teh Ufah Baheej

Minggu, 4 Oktober 2026
🔴 LIVE • MADRASAH LANSIA HUSNUL KHATIMAH CIMAHI : Sesi 10 | ANGKATAN 1 TAHUN 2026

🔴 LIVE • MADRASAH LANSIA HUSNUL KHATIMAH CIMAHI : Sesi 10 | ANGKATAN 1 TAHUN 2026

Minggu, 4 Oktober 2026
Ruang Belajar dan Bermain Kreativitas Bagi Masyarakat (CIPTAKAN INVESTASI ILMU SEJAK DINI)

Ruang Belajar dan Bermain Kreativitas Bagi Masyarakat (CIPTAKAN INVESTASI ILMU SEJAK DINI)

Sabtu, 3 Oktober 2026
KAJIAN SPESIAL • Menumbuhkan CINTA, Menguatkan KELUARGA.. • ABAH IFANK

KAJIAN SPESIAL • Menumbuhkan CINTA, Menguatkan KELUARGA.. • ABAH IFANK

Sabtu, 3 Oktober 2026

Video

  • All
  • Video

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Bandung 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Liputan Khusus “Gebyar Manasik Akbar” MHU

Senin, 15 Juni 2026
Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Jumat, 20 Maret 2026
Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Rabu, 18 Maret 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist