Oleh: Joko Intarto
Siapa bilang penderita diabetes tak boleh makan enak?
Pagi ini, setelah jogging 80 menit menempuh hampir 7 kilometer, saya menghadiahi diri dengan setengah porsi soto Lamongan Kange Raihan. Hangat, gurih, lengkap dengan sebutir telur rebus dan dua kerupuk.
Nikmat? Tentu saja.
Lalu, apakah ini “melanggar aturan”? Tidak juga.
Kuncinya sederhana: kendali diri.
Punya diabetes bukan berarti hidup harus hambar. Kita tetap bisa menikmati makanan lezat, asalkan paham batasnya:
- Jangan berlebihan
- Jangan terlalu sering
- Jangan malas bergerak (olahraga)
Banyak yang bertanya, “Setelah makan seperti itu, apakah perlu minum obat agar gula darah tidak melonjak?”
Jawaban saya: tidak.
Alhamdulillah, sudah 880 hari saya menjalani hidup sebagai diabetesi tanpa obat maupun suntik insulin. Saya juga tidak tergoda mencoba berbagai “ramuan ajaib” atau jamu yang katanya bisa menurunkan gula darah.
Saya hanya berpegang pada nasihat dokter—sederhana, tapi konsisten:
- Batasi nasi, maksimal sekepal setiap kali makan
- Perbanyak sayuran
- Kurangi garam
- Utamakan protein nabati dan ikan
- Hindari semua jenis gula, termasuk gula diet
- Stop minuman bersoda, apalagi beralkohol
- Tinggalkan rokok
- Rutin berolahraga (minimal 150 menit per minggu)
- Jaga waktu tidur—usahakan sudah terlelap sebelum pukul 22.00.
Tidak ada yang instan. Semua kembali pada disiplin dan kesadaran diri.
Jadi, masih takut makan enak?
Selama tahu batas dan mau bergerak, hidup dengan diabetes tetap bisa dinikmati—bahkan dengan semangkuk soto hangat setelah olahraga.
Semoga bermanfaat. (jto)














