• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Sabtu, 15 Agustus 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Berita

Apakah Virus Corona Berasal dari Perdagangan Tahi Kelelawar?

Redaksi Harmoni oleh Redaksi Harmoni
Selasa, 12 Mei 2020
in Berita
0 0
Apakah Virus Corona Berasal dari Perdagangan Tahi Kelelawar?

Seekor kelelawar terperangkap di jaring di Aracy, negara bagian Para, Brazil, 1 Desember 2005.

Para ilmuwan menduga Covid-19 berasal dari kelelawar, yang menjadi sumber berbagai macam virus corona. Meski terjadi pandemi, perdagangan global produk kelelawar terus berlanjut, termasuk tahi kelelawar yang sangat mahal, yang disebut guano.

Tahi Kelelawar umumnya digunakan di seluruh dunia sebagai pupuk, tetapi juga digunakan sebagai obat. Ini bisa ditemukan di situs belanja online terbesar AS, Amazon. Di Amazon, tahi kelelawar masuk dalam kategori bahan makanan, Grocery & Gourmet Food. Menurut daftar harga, guano dijual seharga $ 2,95 oleh penjual obat tradisional China.

Dikenal sebagai Ye Ming Sha, atau Night Ling Sand, tahi kelelawar merupakan salah satu bahan paling populer dalam pengobatan tradisional China. Bahan ini digunakan untuk mengobati gangguan mata, stasis darah dan emboli.

Karena kelelawar menangkap serangga yang terbang di malam hari, tahi kelelawar secara tradisional dianggap meningkatkan penglihatan pada malam hari. Beberapa tabib merekomendasikan menempelkan tahi kelelawar langsung pada mata.

Pada 2005, pakar virus yang berkantor pusat di Wuhan, Shi Zhengli, yang sekarang dikenal sebagai “Perempuan Kelelawar” China, mengidentifikasi puluhan virus corona mirip Sindrom Pernafasan Akut Parah (Severe Acute Respiratory Syndrom/SARS) yang mematikan, yang ditemukan dalam sampel tahi kelelawar yang dikumpulkan Shi dan timnya di gua-gua.

Ahli virus dari China, Shi Zhengli (kiri), di laboratorium P4 di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China, 23 Februari 2017.
Ahli virus dari China, Shi Zhengli (kiri), di laboratorium P4 di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China, 23 Februari 2017.

Salah satu sampel tahi itu mengandung jenis virus yang 96 persen identik dengan virus corona yang saat ini menyebar di seluruh dunia. Baru-baru ini, enam virus corona yang paling baru ditemukan dalam sampel tahi kelelawar dari 464 kelelawar oleh tim yang dipimpin oleh ilmuwan Smithsonian, Marc Valitutto. Menurut penelitian, virus-virus ini juga termasuk dalam rumpun keluarga yang sama dengan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19.

“Tahi kelelawar berbahaya karena mengandung virus,” kata Dr. Robert Siegel, seorang profesor di Departemen Mikrobiologi dan Imunologi di Universitas Stanford kepada VOA.

Mekanisme yang tepat di mana virus corona melompat dari kelelawar ke manusia menjadi pusat penelitian global yang intens. Para ilmuwan sebelumnya mengatakan karena virus ditemukan dalam darah dan air liur kelelawar, penularan bisa terjadi dari gigitan. Namun kelelawar biasanya tidak menggigit manusia.

“Sebagian besar kelelawar tidak menggigit, terutama jenis kelelawar yang terkait dengan wabah virus korona,” kata Siegel. Sebaliknya, manusia kebanyakan terinfeksi oleh kelelawar karena menghabiskan waktu bersama kelelawar, seperti ketika pekerja mengumpulkan tahi kelelawar dari sebuah gua atau ketika penambang menghabiskan waktu berjam-jam bernapas di ruang yang sama dengan koloni kelelawar.

“Risiko kelelawar sangat terkait dengan seberapa banyak kontak orang dengan kelelawar,” kata Siegel.

Tiga tahun lalu, Shi dipanggil untuk menyelidiki wabah virus di poros tambang dimana enam penambang menderita penyakit mirip pneumonia yang menewaskan dua di antaranya.

“Tahi kelelawar yang tertutup jamur berserakan di gua itu,” kata Shi kepada Scientific American dalam sebuah laporan yang diterbitkan bulan lalu. Ia mengatakan hanya masalah waktu sebelum para penambang itu jatuh sakit.

Laporan ilmiah lain dari Thailand pada 2013 menemukan virus corona di sekitar 40l persen dari sampel tahi kelelawar yang dikumpulkan, yang menyebabkan para peneliti merekomendasikan kepada para pekerja agar mengenakan alat perlindungan diri yang lebih baik ketika memanen tahi kelelawar di dalam gua. [my/pp]

Sumber : VOA Indonesia

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Redaksi Harmoni

Redaksi Harmoni

Info Terkait

Kota Bandung

Lestarikan Budaya Jawa, Alumni PSTK ITB Gelar Wayang Kulit “Amarta Binangun” di Aula Barat ITB

Jumat, 14 Agustus 2026
KPID Jabar dan STIKOM Bandung Gelar Kuliah Umum ‘5+1 Broadcasting Perspective’, Perkuat Literasi Media Gen Z di Era Digital
Jawa Barat

KPID Jabar dan STIKOM Bandung Gelar Kuliah Umum ‘5+1 Broadcasting Perspective’, Perkuat Literasi Media Gen Z di Era Digital

Senin, 10 Agustus 2026
Jawa Barat

ALMA Jawa Barat Resmi Diluncurkan, Perempuan Bergerak untuk Palestina

Minggu, 9 Agustus 2026
Kota Cimahi

Workshop Public Speaking Forum TBM Kota Cimahi Dorong Kepercayaan Diri Peserta

Minggu, 9 Agustus 2026
Harmoni Wastra Nusantara Resmi Dibuka, Hadirkan 60 Booth UMKM dan Brand Fashion dari Berbagai Daerah
Kota Bandung

Harmoni Wastra Nusantara Resmi Dibuka, Hadirkan 60 Booth UMKM dan Brand Fashion dari Berbagai Daerah

Kamis, 6 Agustus 2026
Hampir 90 Persen Wilayah Pangandaran Blank Spot Siaran, KPID Jabar Bakal Bawa Masalah Ini ke Pusat
Jawa Barat

Hampir 90 Persen Wilayah Pangandaran Blank Spot Siaran, KPID Jabar Bakal Bawa Masalah Ini ke Pusat

Rabu, 5 Agustus 2026

Info Terbaru

Lestarikan Budaya Jawa, Alumni PSTK ITB Gelar Wayang Kulit “Amarta Binangun” di Aula Barat ITB

Jumat, 14 Agustus 2026
MTUQ – Kajian Rutin Islami – Refleksi Hati Seorang Ibu | M. Firdaus ( Ayah Daus )

KAJIAN MUHASABAH DIRI & DOA UNTUK NEGERI | Ustadz Muhammad Aufa Alfata

Jumat, 14 Agustus 2026
MTUQ – Kajian Rutin Islami – Refleksi Hati Seorang Ibu | M. Firdaus ( Ayah Daus )

MTUQ – Kajian Rutin Islami – Refleksi Hati Seorang Ibu | M. Firdaus ( Ayah Daus )

Jumat, 14 Agustus 2026
Mengangkatnya ke Langit, lalu Menjatuhkannya ke Tanah

Mengangkatnya ke Langit, lalu Menjatuhkannya ke Tanah

Jumat, 14 Agustus 2026

Video

  • All
  • Video

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Bandung 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Liputan Khusus “Gebyar Manasik Akbar” MHU

Senin, 15 Juni 2026
Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Jumat, 20 Maret 2026
Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Rabu, 18 Maret 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist