• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Senin, 12 Oktober 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Berita Kota Bandung

Kota Bandung Terus Mendorong Terwujudnya Lingkungan Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas.

TV Harmoni oleh TV Harmoni
Sabtu, 10 Oktober 2026
in Kota Bandung
0 0

Kota Bandung terus mendorong terwujudnya lingkungan yang ramah dan inklusif bagi penyandang disabilitas.

Upaya tersebut tidak hanya dilakukan melalui pemberian bantuan sosial, tetapi juga diarahkan pada pemenuhan hak, pemberian kesempatan, serta penguatan kemandirian.

Hal ini menjadi pembahasan dalam Sonata Talkshow, Rabu (7/10/2026), dengan menghadirkan Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Dr. dr. Agung Firmansyah Sumantri, Sp. PD., KHOM., MMRS., FINASIM, dan Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Bandung, Irvan Alamsyah, S.IP.

Irvan mengatakan, Pemerintah Kota Bandung telah menunjukkan perhatian terhadap pemenuhan hak penyandang disabilitas. Ia menyebut, sejak dirinya bergabung di Dinas Sosial pada 2023, upaya tersebut terus berjalan, termasuk melalui regulasi yang telah dimiliki Kota Bandung.

“Kita punya Perda tahun 2019 untuk pemenuhan dan penghormatan hak penyandang disabilitas. Perda beserta turunannya sudah ada dan terus berjalan,” jelas Irvan.

Dalam pelaksanaannya, Irvan menjelaskan, Dinas Sosial melakukan mitigasi terhadap berbagai kebutuhan penyandang disabilitas, termasuk mereka yang berada pada usia kerja.

Menurutnya, salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah belum semua perusahaan memahami bagaimana memberikan ruang kerja yang sesuai.

“Salah satu permasalahannya, perusahaan belum betul-betul memahami teman-teman penyandang disabilitas ini mau ditempatkan di mana dan seperti apa pekerjaannya,” ungkapnya.

Irvan menambahkan, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas juga mulai diwujudkan di lingkungan pemerintahan. Di Dinas Sosial Kota Bandung, saat ini terdapat dua penyandang disabilitas netra yang bekerja sebagai PPPK, masing-masing sebagai pekerja sosial dan penyuluh sosial.

“Artinya, ini sudah menjadi komitmen Pemerintah Kota Bandung. Pada saat rekrutmen pun, kita sudah memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas,” katanya.

Selain persoalan pekerjaan, Irvan menyoroti pentingnya pendataan penyandang disabilitas. Ia menyampaikan, berdasarkan data DTSN yang dimiliki Dinas Sosial, saat ini terdapat sekitar 30 ribu penyandang disabilitas yang tercatat.

Namun, menurutnya, jumlah tersebut belum tentu menggambarkan seluruh kondisi di lapangan karena masih ada masyarakat yang belum terbuka mengenai kondisi anggota keluarganya.

“Menurut kami, angka tersebut masih belum menggambarkan seluruh kondisi. Salah satu penyebabnya karena stigma di masyarakat masih sangat kuat,” ujarnya.

Karena itu, Irvan mengatakan edukasi menjadi salah satu langkah yang terus dilakukan. “Dalam dua tahun ini, kami mulai mengedukasi dan membuka ruang kepada masyarakat bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama seperti kita,” tutur Irvan. Dari proses tersebut, menurutnya, mulai tumbuh kepedulian masyarakat, termasuk dengan semakin banyaknya usulan alat bantu maupun bantuan pangan daerah melalui reses dan musrenbang.

Irvan menegaskan, dukungan bagi penyandang disabilitas tidak hanya berbentuk bantuan. Dinas Sosial juga menjalankan bimbingan sosial bagi penyandang disabilitas, anak berkebutuhan khusus, serta keluarga penyandang disabilitas.

“Kami lebih banyak melakukan sharing. Narasumbernya bisa dari tenaga medis, psikolog, organisasi komunitas, maupun orang tua yang bisa berbagi pengalaman sebagai best practice,” jelasnya.

Menurut Irvan, ruang berbagi tersebut dapat membantu keluarga dan pendamping agar tidak merasa menghadapi tantangan seorang diri.

Upaya tersebut kemudian berkembang melalui gagasan penyediaan daycare bagi anak penyandang disabilitas. Irvan menjelaskan, gagasan tersebut dibahas ketika pihaknya bersama RBM Kota Bandung berdiskusi mengenai kebutuhan infrastruktur dan non-infrastruktur bagi penyandang disabilitas.

Dalam proses tersebut, Wali Kota Bandung dan istri selaku Ketua RBM Kota Bandung turut memberikan perhatian terhadap kebutuhan penyandang disabilitas dan keluarganya.

“Kami diundang oleh Pak Wali dan Ibu Wali selaku Ketua RBM Kota Bandung. Dari diskusi itu kemudian muncul gagasan untuk memanfaatkan tempat yang ada sebagai layanan yang mendukung kebutuhan penyandang disabilitas,” jelas Irvan.

Dari pembahasan bersama RBM Kota Bandung dan berbagai pihak, kebutuhan tersebut kemudian berkembang pada penyediaan daycare bagi anak penyandang disabilitas.

Irvan mengatakan, layanan tersebut akhirnya dapat direalisasikan pada 2026 setelah sebelumnya diusulkan sejak 2025. Daycare yang berada di Dinas Sosial Kota Bandung ini diberikan secara gratis bagi anak penyandang disabilitas, dengan kapasitas 10 anak.

“Harapannya, daycare di Dinas Sosial ini bisa menjadi prototype atau pilot project yang kemudian dapat diadopsi di wilayah lain,” kata Irvan.

Sementara itu, Agung menekankan, kemandirian penyandang disabilitas harus dibangun melalui kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan.

“Kalau kita ingin penyandang disabilitas mandiri, mereka harus memiliki akses terhadap pendidikan dan pekerjaan,” tegas Agung.
Menurutnya, pendidikan inklusif perlu dibangun dengan sistem yang mampu menyesuaikan kebutuhan peserta didik.

“Bukan anak yang selalu dipaksa menyesuaikan dengan sistem. Sistem pendidikanlah yang harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan peserta didik,” ujarnya.

Untuk dunia kerja, Agung mengingatkan agar pemberdayaan tidak berhenti pada pelatihan. Menurutnya, pelatihan perlu diikuti dengan peningkatan kompetensi, sertifikasi, akses pekerjaan maupun usaha, hingga akses pasar.

“Pelatihan tanpa akses pekerjaan atau pasar tidak akan cukup,” katanya.

Karena itu, dunia usaha perlu dilibatkan dan pemerintah dapat menjadi fasilitator melalui job matching, pengembangan UMKM, akses pasar, dan kewirausahaan agar penyandang disabilitas dapat memperoleh penghasilan.

Agung juga menyoroti pentingnya akses kesehatan yang inklusif. Menurutnya, keberadaan fasilitas kesehatan saja belum cukup apabila penyandang disabilitas masih kesulitan untuk mengaksesnya.

“Akses kesehatan tidak boleh hanya berhenti pada tersedianya rumah sakit atau puskesmas,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, penyandang disabilitas harus dapat mencapai fasilitas kesehatan, masuk ke dalam fasilitas, berkomunikasi dengan tenaga kesehatan, mendapatkan pemeriksaan dan obat, memperoleh rehabilitasi, serta mendapatkan rujukan apabila diperlukan.

Lebih lanjut, Agung mengatakan bahwa bantuan sosial tetap penting sebagai bentuk perlindungan, tetapi bantuan tidak boleh menjadi tujuan akhir.

“Kita perlu mengubah paradigma. Bantuan tetap penting, tetapi bantuan bukan tujuan akhir,” jelasnya.

Menurut Agung, penyandang disabilitas membutuhkan rangkaian dukungan yang berkelanjutan, mulai dari perlindungan sosial, rehabilitasi, pemberdayaan, peningkatan produktivitas, hingga akhirnya mencapai kemandirian.

Sejalan dengan hal tersebut, Irvan menilai berbagai program yang dilakukan pemerintah harus terus diarahkan untuk membuka kesempatan.

Menurutnya, dukungan terhadap penyandang disabilitas tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan, tetapi perlu memastikan mereka memiliki ruang untuk berkembang melalui pendidikan, pekerjaan, layanan sosial, serta dukungan bagi keluarga.

“Kalau kita berbicara tentang kemandirian, semuanya harus dimulai dari adanya kesempatan,” katanya.

Mewujudkan Bandung yang ramah disabilitas pada akhirnya membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dunia pendidikan, keluarga, komunitas, dan masyarakat.

Bantuan tetap menjadi bagian dari perlindungan sosial, namun perlu dilanjutkan dengan rehabilitasi dan pemberdayaan agar penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk belajar, bekerja, berusaha, memperoleh layanan kesehatan, dan mengembangkan potensinya.

Dengan semakin terbukanya akses dan berkurangnya stigma, Bandung diharapkan dapat menjadi kota yang memberikan ruang setara bagi penyandang disabilitas untuk tumbuh, produktif, dan mandiri.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
TV Harmoni

TV Harmoni

Info Terkait

Kota Bandung

Kang Edwin Jadi Pengisi Acara Kajian “Menjaga Fitrah, Menjaga Generasi: LGBT dalam Perspektif Islam & Tantangan Keluarga di Era Modern

Minggu, 11 Oktober 2026
Kota Bandung

Wakil Ketua I DPRD Kota Bandung Toni Wijaya Apresiasi Inovasi INTI KRESNA Polrestabes Bandung

Minggu, 11 Oktober 2026
Kota Bandung

MUI Kota Bandung Mengukuhkan Toni Wijaya dan Edwin Senjaya Sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan

Minggu, 11 Oktober 2026
Kota Bandung

Muhamad Syahlevi Erwin Apandi Tekankan Pentingnya Penempelan Rambu KTR Sesuai Undang-Undang

Kamis, 8 Oktober 2026
Turunkan Kabel Udara di Astanaanyar, Total 63 Ruas Jalan Tertata
Kota Bandung

Turunkan Kabel Udara di Astanaanyar, Total 63 Ruas Jalan Tertata

Selasa, 6 Oktober 2026
Kota Bandung

Free Palestine Network (FPN) Bandung Raya Gelar Kegiatan Donor Darah

Senin, 5 Oktober 2026

Info Terbaru

Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Bandung Hadiri Kegiatan Nawasena Grup

Senin, 12 Oktober 2026
Ikuti Kajian MT Aria Jipang : Dahsyatnya Berprasangka Baik

Ikuti Kajian MT Aria Jipang : Dahsyatnya Berprasangka Baik

Senin, 12 Oktober 2026
”Saatnya Indonesia Kembali Menulis Algoritma Dunia” Refleksi Mudzakarah ICMI  bersama Menristekdikti

”Saatnya Indonesia Kembali Menulis Algoritma Dunia” Refleksi Mudzakarah ICMI  bersama Menristekdikti

Senin, 12 Oktober 2026
Dewan Da’wah Jabar Gelar Rakorwil 2026 : Perkuat Lima Pilar, Perteguh Sinergi, dan Siapkan Da’i Hadapi Tantangan Zaman

Dewan Da’wah Jabar Gelar Rakorwil 2026 : Perkuat Lima Pilar, Perteguh Sinergi, dan Siapkan Da’i Hadapi Tantangan Zaman

Senin, 12 Oktober 2026

Video

  • All
  • Video

Grand Final Pemilihan Duta GenRe Bandung 2026

Jumat, 19 Juni 2026

Liputan Khusus “Gebyar Manasik Akbar” MHU

Senin, 15 Juni 2026
Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Recap Kegiatan Amal di Bulan Ramadhan bersama Air Mineral Al Ma’soem

Jumat, 20 Maret 2026
Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Pendaftaran Mahasiswa Baru FISIP UNPAS telah Dibuka

Rabu, 18 Maret 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist