Pada 12 September 2026, bertempat di Gedung Indonesia menggugat FPN (Free Palestine Networking Bandung melakukan kegiatan Nobar film “The Voice of Hind Rajab”.
Sebelum dimulai Sekjen FPN Furqan AMC mengajak para hadirin untuk benar benar menggunakan kesempatan di tempat yang bersejarah di jalan Perintis Kemerdekaan 5 Bandung ini untuk menghadirkan hati seraya mengenang bagiamana Soekarno kala itu melakukan pembelaan yang dikenal Pidato Indonesia Menggugat di hadapan pengadilan pemerintah kolonial Belanda.
Pemilihan tempat nobar di Gedung Indonesia menggugat tiada lain karena gugatan kemerdekaan Palestina adalah yang disuarakan FPN yang senada dengan apa yang terjadi pada 1930 yang silam.
Bedanya Indonesia telah merdeka, sedang Palestina masih dalam cengkraman kezaliman penjajahan Zionisme Israel.

Saat menyaksian pemutaran film The Voice Of Hind Rajab yang berdurasi 1 jam setengah itu, panitia dan peserta tidak kuasa menahan airmata menyaksikan derita seorang anak Palestina bernama Hind Rajab yang kala itu berusaha mengungsi bersama keluarganya dibantai Militer Israel pada 29 Januari 2024 di Gaza.
Tak ada pemeran anak perempuan bagi Hind Rajab dalam film itu kecuali rekaman suara suara aslinya sendiri, beberapa foto HInd rajab dan rekaman video saat Hind Rajab sedang bersuka cita di tepi pantai yang hanya menambah kesedihan bagaimana tangan tangan zalim telah merampas kebahagiaannya.
Menurut Furqan, adalah kehendak Allah sehingga peristiwa pilu yang terekam lewat suara HInd Rajab yang tersaji dalam bentuk karya Sutradara Tunisia Kaouther Ben Hania ini dapat disaksikan termasuk para penonton di gedung Indonesia Menggugat tidak sekedar untuk diaparesiasi sebagai karya Sinematografi tetapi membawa pesan bagi yang menyaksikan untuk terus berjuang dengan segenap cara membela Palestina dan memperjuangkan kemerdekaan.
Pesan ini pun juga diingatkan Wanggi Hoed Seniman Pantomim Indonesia yang lepas film menunjukkan karyanya dalam heming dan gerak pantomimnya agar dalam membela Palestina tidak seperti kafiyeh yang menaik dan menurun, tetapi hendaknya dalam gerak yang terus dan konsisten.
Tak Kurang Furqan juga mengingatkan mengapa pilihan memperjuangkan dan terus menyuarakan pembwaan terhadap Palestina tiada lain sebagai wujud kecintaan kepada Rasululah SAW dengan membela dan berjuang bagi Palestina dan janji untuk tidak meninggalkan Palestina sendirian.






