Bandung – Sebanyak 24 finalis Wanoja dan Jajaka Budaya Jawa Barat 2026 dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat turut mengambil bagian dalam program Tamu Kita TV Harmoni bertajuk “Peran Wajada di 3 Zona Kebudayaan Jawa Barat”, yang tayang pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Kehadiran para finalis tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keberagaman budaya Jawa Barat sekaligus mendorong generasi muda untuk semakin mengenal dan menjaga budaya daerah.
Dari kategori Wanoja, 12 finalis yang terpilih terdiri atas Intan Safarina dari Kabupaten Indramayu sebagai Pemenang Utama atau Pinilih, Nagita Dea Ristiani dari Kabupaten Kuningan sebagai Wakil I atau Runner Up 1, Falisha Zalfa Ayla dari Kota Sukabumi, Trianita Alawiah dari Kabupaten Bandung, Lili Shabrina dari Kabupaten Bandung, Annisa Nazwa Pratiwi dari Kota Tasikmalaya, Gina Meliana dari Kabupaten Majalengka, Neng Leni Aryanti dari Kabupaten Tasikmalaya, Ayka Salsabila dari Kota Bandung, Fanny Anggiani dari Kabupaten Bandung, Zahra Fakhria Maulida dari Kabupaten Ciamis, serta Dhella Maulida dari Kabupaten Cianjur.
Sementara itu, 12 finalis kategori Jajaka terdiri atas Putra Aulianto dari Kabupaten Cianjur sebagai Pemenang Utama atau Pinilih, Restu Gani dari Kabupaten Garut, Cecep Agus Setiawan dari Kota Cimahi, Wildan Septi Ramadhan dari Kabupaten Garut, Farelino Aprizal dari Kota Sukabumi, M. Iklas dari Kabupaten Cianjur, Dwiki Saputra dari Kabupaten Karawang, Bian Pasha Ramdani dari Kota Tasikmalaya, Rizal Sadikin dari Kabupaten Bandung Barat, Ius Firdaus dari Kabupaten Ciamis, Agus Rahmat Hidayat dari Kota Tasikmalaya, serta Muhammad Irham dari Kabupaten Tasikmalaya.

Program yang dipandu Abi Iwan tersebut menghadirkan sejumlah perwakilan Wajada Jawa Barat 2026 untuk membahas peran generasi muda dalam memperkenalkan keberagaman budaya Jawa Barat.
Para narasumber menjelaskan berbagai program dan pengalaman mereka dalam mengangkat budaya melalui pendidikan, kegiatan masyarakat, hingga pemanfaatan
media digital.
Intan Safarina, misalnya, mengangkat budaya Ngarot dari Indramayu sebagai salah satu materi edukasi budaya.
Menurutnya, pengenalan budaya dapat dilakukan melalui berbagai ruang, mulai dari konten edukasi, kanal berita, hingga podcast.
Upaya memperkenalkan budaya melalui media digital juga menjadi bagian dari strategi Intan dalam membangun kedekatan dengan audiens. Ia menyebut perkembangan konten yang dikelolanya turut meningkatkan jumlah pengikut dari sekitar 10 ribu menjadi 30 ribu.
Sementara itu, Falisha Zalfa Ayla membawa program Wajada Goes to School sebagai salah satu bentuk advokasi budaya.
Program tersebut diarahkan untuk mengenalkan kebudayaan Sunda kepada pelajar, termasuk melalui kaulinan barudak.
Ketertarikannya terhadap budaya Sunda telah tumbuh sejak SMP melalui kegemarannya bercerita dan mendalami dongeng berbahasa Sunda.
Hal serupa dilakukan Nagita Dea Ristiani melalui gerakan “Rumakda”, yang berkaitan dengan penggunaan dan penghidupan kembali bahasa Sunda.
Ia menyoroti pentingnya membuat
budaya terasa dekat dengan generasi muda agar budaya tidak dianggap sebagai sesuatu yang hanya dimiliki generasi terdahulu.
“Rumakda” menjadi salah satu upaya untuk mengajak anak muda kembali menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keberadaan bahasa daerah perlu terus dihidupkan agar tidak semakin jauh dari kehidupan generasi muda.
Cecep Agus Setiawan juga menekankan pentingnya ngamumule, yang dimaknai sebagai upaya menjaga dan merawat budaya dengan sungguh-sungguh.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan kesenian, tetapi juga bagaimana nilai-nilai budaya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sisi media, Putra Aulianto melihat podcast dan media digital sebagai ruang yang dapat digunakan untuk membuat budaya lebih menarik bagi masyarakat.
Ia menyoroti bagaimana bahasa Sunda dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan, sehingga masyarakat, terutama anak muda, memiliki ketertarikan untuk mengenal bahasa dan budaya daerahnya sendiri.
Sementara itu, M. Iklas Saputra menyoroti peran multimedia dalam memperkenalkan kebudayaan. Ketertarikannya terhadap desain grafis dan videografi telah dibangun sejak kecil melalui berbagai kegiatan seni dan perlombaan.
Pengalaman tersebut kemudian digunakan untuk membuat materi visual bertema budaya yang dibagikan kepada lingkungan terdekat dan mendapat respons positif.
Pembahasan dalam program tersebut juga menegaskan bahwa Jawa Barat memiliki keragaman budaya yang tidak hanya berpusat pada budaya Sunda.
Wilayah Jawa Barat memiliki sejumlah zona kebudayaan dengan karakteristik bahasa dan tradisi yang berbeda.
Salah satunya adalah wilayah Indramayu dan Cirebon yang memiliki bahasa Jawa dialek Cirebon. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa budaya Jawa Barat memiliki identitas yang luas dan beragam sehingga perlu dikenalkan secara lebih menyeluruh kepada masyarakat.
Selain diskusi mengenai peran Wajada dalam memperkenalkan budaya, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan penyerahan sertifikat kepada para perwakilan Wanoja Jajaka Budaya Jawa
Barat 2026.
Penyerahan sertifikat menjadi bentuk apresiasi atas keterlibatan dan kontribusi para perwakilan dalam mengemban peran sebagai duta budaya Jawa Barat.
Momen penyerahan sertifikat tersebut turut diabadikan bersama para perwakilan Wajada. Para penerima sertifikat tampil mengenakan busana dan atribut Wanoja Jajaka Budaya Jawa Barat, sekaligus menunjukkan identitas mereka sebagai generasi muda yang turut mengambil bagian dalam memperkenalkan keberagaman budaya daerah.

Penyerahan sertifikat menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Tamu Kita TV Harmoni yang tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga memberikan apresiasi kepada para pegiat budaya muda.
Kehadiran para finalis dan perwakilan Wajada diharapkan dapat semakin memperluas ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan memperkenalkan budaya Jawa Barat melalui berbagai media dan kegiatan kreatif.
Melalui peran Wajada, para perwakilan budaya Jawa Barat 2026 berupaya menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pemanfaatan media digital, pendidikan, podcast, multimedia, hingga kegiatan langsung di sekolah menjadi sarana untuk mendekatkan budaya kepada masyarakat.
Keberagaman tiga zona kebudayaan Jawa Barat tersebut menjadi pengingat bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya daerah.
Budaya tidak hanya perlu dikenang sebagai warisan masa lalu, tetapi juga perlu terus dikenalkan, digunakan, dan dikembangkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.






