Oleh : Febri Satria Yazid
Pernahkah kita mengalami sebuah keadaan ketika sesuatu yang semula hanya berupa gagasan, tiba-tiba
menemukan jalannya sendiri? Orang yang dibutuhkan datang pada waktu yang tepat.
Kesempatan muncul dari arah yang tidak pernah kita duga. Hambatan yang semula terasa berat justru membuka pintu menuju peluang baru. Bahkan sebuah kegagalan ternyata menjadi jalan yang mengantarkan kita.
kepada sesuatu yang jauh lebih baik.
Sebagian orang menyebutnya kebetulan. Sebagian lainnya menyebutnya keberuntungan. Namun, ada pula yang memaknainya sebagai “Mastakung”, semesta mendukung. “Mastakung” bukan sekadar ungkapan tentang keajaiban, akan tetapi dapat menjadi sebuah cara pandang spiritual tentang bagaimana sebuah perencanaan dapat bergerak dari ruang pikiran menuju kenyataan, karena sebuah impian tidak pernah lahir tanpa alasan.
Ada gagasan yang tiba-tiba muncul dalam pikiran, kegelisahan yang mendorong seseorang untuk
melakukan perubahan, keinginan untuk menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan lingkungan yang lebih luas. Pertanyaannya kemudian, mengapa sebagian rencana dapat menjadi kenyataan, sementara sebagian lainnya berhenti sebagai angan-angan?
Jawabannya bukan hanya terletak pada seberapa besar impian itu, tetapi pada seberapa sungguh- sungguh kita mempersiapkan diri untuk mewujudkannya.
Sering kali manusia berharap keajaiban
datang terlebih dahulu, baru kemudian dirinya bergerak. Padahal, kehidupan bekerja dengan cara yang
berbeda.
Saat kita mulai bergerak, kita mulai bertemu dengan kemungkinan. Ketika mulai belajar, kita mulai melihat peluang dan mulai membangun hubungan dan menemukan orang-orang yang mungkin dapat menjadi bagian dari perjalanan, sehingga kita berani mencoba dan memperoleh pengalaman.
Semesta mendukung tidak seharusnya dimaknai sebagai kita duduk diam menunggu segala sesuatu
datang kepada kita. “Mastakung” lahir dari pertemuan, niat, perencanaan, ikhtiar, doa, ketekunan, dan
momentum.
Kita membuat rencana dengan akal dan menjalankannya dengan ikhtiar. Kita menghadapi ketidakpastian dengan kesabaran dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah dengan penuh tawakal.
Di situlah dimensi spiritualnya.
Manusia boleh membuat perencanaan sebaik mungkin, menyusun target, membuat jadwal, menghitung
kebutuhan, membangun strategi, mencari mitra, menyiapkan anggaran, bahkan membuat berbagai skenario. Tetapi pada akhirnya, tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Ada sesuatu yang lebih
besar dari kemampuan kita yaitu kehendak Allah.
Perencanaan bukanlah usaha untuk memaksa kehidupan mengikuti keinginan kita, tetapi bentuk kesungguhan kita dalam menjalankan amanah, sementara hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah.
Di sinilah doa memiliki kedudukan penting sebagai kekuatan yang menyertai usaha.
Ikhtiar tanpa doa dapat membuat manusia mudah merasa bahwa keberhasilan sepenuhnya berasal dari
kemampuan dirinya. Sebaliknya, doa tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi sekadar harapan tanpa
tindakan.
Ada satu kesalahan yang sering dilakukan manusia ketika menghadapi kegagalan. Kita menganggap kegagalan sebagai tanda bahwa rencana tersebut tidak layak diperjuangkan, padahal, belum tentu.
Terkadang sebuah pintu tertutup bukan karena kita tidak pantas melewatinya, tetapi karena ada pintu lain yang sedang dipersiapkan.
Penolakan bisa mengajarkan kita memperbaiki cara. Kegagalan dapat menunjukkan kelemahan dalam
perencanaan. Keterlambatan mungkin memberikan waktu untuk mempersiapkan sesuatu dengan lebih matang.
Bahkan orang yang tidak jadi bekerja sama dengan kita mungkin sedang mengarahkan kita untuk bertemu dengan orang yang lebih tepat. Tujuan kita mungkin benar, tetapi caranya perlu diperbaiki. Waktunya mungkin belum tepat atau Allah sedang membawa kita melalui jalan yang berbeda dari apa yang kita bayangkan.
Bukan semesta secara ajaib memenuhi semua keinginan kita, melainkan bahwa ketika niat baik, perencanaan matang, ikhtiar sungguh-sungguh, doa, kesabaran, dan ketawakalan berjalan bersama, kita
menjadi lebih peka melihat jalan yang Allah bukakan.
Suatu hari saat rencana itu benar-benar menjadi kenyataan, mungkin kita akan menyadari satu hal bahwa ternyata perjalanan menuju impian bukan hanya tentang bagaimana kita mengejar tujuan, tetapi bagaimana Allah menuntun langkah kita untuk sampai kepadanya.
Kita harus berani bermimpi, serius merencanakan, sungguh-sungguh berikhtiar dan berdoa, serta bertawakal. Boleh jadi, ketika kita mulai melangkah, langit sedang membuka jalan.(fsy)













