BANJAR — Masalah klasik tingginya angka kehilangan air bersih di Kota Banjar akhirnya menemui titik terang. Pemerintah Kota Banjar melalui Perum Perda Tirta Anom resmi menggandeng perusahaan asal Korea Selatan, WI.Plat Co., Ltd., yang didampingi PT Supra Internasional Indonesia untuk mengatasi kebocoran jaringan distribusi air.
Kerja sama strategis ini ditandai dengan penandatanganan kesepakatan yang berlangsung di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Perumdam Tirta Anom Kota Banjar pada Senin (3/8/2026).
Tak tanggung-tanggung, kolaborasi ini membawa investasi dalam bentuk hibah teknologi senilai Rp15 miliar dari pihak Korea Selatan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan air di Kota Banjar.
Solusi Berbasis Teknologi Canggih dari Negeri Ginseng Wali Kota Banjar, Ir. H. Sudarsono, menyambut positif langkah ini. Menurutnya, tingginya tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) selama ini menjadi tantangan berat yang membayangi operasional Perumdam Tirta Anom.
Lewat investasi hibah ini, teknologi mutakhir dari WI.Plat akan dipasang di sepanjang jaringan dan perlengkapan distribusi air untuk mendeteksi serta meminimalisir titik-titik kebocoran secara presisi.
Kerja sama yang dirancang berjalan selama tiga tahun ini menargetkan penurunan tingkat kebocoran air hingga 20 persen. Tak hanya berdampak pada efisiensi pasokan air, hasil dari penghematan ini juga akan mendatangkan keuntungan finansial yang dibagi secara adil.
“Dari efisiensi itu nantinya akan muncul keuntungan. Untuk skema kerjasamanya, 70 persen keuntungan menjadi hak Perumdam Tirta Anom dan 30 persen untuk perusahaan Korea Selatan,” terang Wali Kota Sudarsono.
Jawaban Atas Masalah Klasik Sejak Era Peralihan Ciamis Direktur Perumdam Tirta Anom Kota Banjar, E. Fitrah Nurkamilah, menjelaskan bahwa penerapan sistem baru ini sangat mendesak, terlebih saat ini wilayahnya mulai memasuki musim kemarau di mana efisiensi pemanfaatan air menjadi prioritas utama.
Fitrah membeberkan, persentase kebocoran air di Kota Banjar saat ini terbilang masih sangat tinggi, yakni mencapai angka 40 persen. Angka ini merupakan persoalan lama yang belum tuntas sejak pengelolaan air resmi diserahkan dari Kabupaten Ciamis kepada Kota Banjar.
“Mudah-mudahan dengan adanya sistem baru yang lebih canggih dari Korea Selatan ini bisa meminimalisir kehilangan air di Kota Banjar. Target kami, dalam waktu tiga tahun ke depan angka kebocoran bisa ditekan sesuai standar nasional, yaitu di kisaran 25 persen,” ungkap Fitrah.
Dengan masuknya teknologi pendeteksi kebocoran modern ini, Perumdam Tirta Anom optimistis pasokan air bersih bagi para pelanggan di seluruh sudut Kota Banjar dapat tersalurkan lebih maksimal, lancar, dan tanpa kendala distribusi.






