Oleh: Joko Intarto
Siang tadi saya membaca kabar duka yang cukup mengejutkan. Pengusaha sekaligus politisi Partai NasDem, Rachmat Gobel, telah berpulang.

Saya akan selalu mengingat sosok Rachmat Gobel. Sebab, sosok yang satu ini pernah berada dalam lintasan perjalanan saya.
Sekitar dua puluh tahun lalu, kami beberapa kali bertemu dan berdiskusi secara intensif. Dari rangkaian diskusi itulah lahir sebuah gagasan yang, menurut saya, terlalu maju untuk zamannya. Gagasan itu kemudian diwujudkan menjadi sebuah model bisnis baru bernama street board.

Street board adalah papan reklame digital yang dipasang di atas truk dan bergerak menyusuri jalan-jalan di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Konsep tersebut merupakan sesuatu yang benar-benar baru di Indonesia.
Ketika itu, papan reklame berteknologi LED belum populer. Memang sudah ada beberapa di ruas-ruas utama, seperti Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Namun jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.
Awalnya, dua sahabat saya, sebut saja Mr G dan Mr V, mengajak saya menghadiri sebuah rapat. Rupanya mereka ingin mengajak saya bergabung untuk merealisasikan proyek tersebut, terutama untuk mencari investor.
Saat itu saya masih menjabat sebagai Manajer Pemasaran Iklan Harian Jawa Pos di Jakarta. Sebagai eksekutif di salah satu perusahaan surat kabar terbesar di Indonesia, saya memang memiliki jaringan yang luas. Belum lagi relasi yang terbangun melalui para wartawan Jawa Pos.
Singkat cerita, investor yang kami cari akhirnya ditemukan. Sosok itu adalah Rachmat Gobel.

Dengan dukungan jaringan bisnisnya, satu unit street board berhasil diwujudkan. Tiga sisi layar LED-nya menggunakan produk Panasonic yang diimpor langsung dari Jepang.
Kendaraan pengangkutnya menggunakan truk bermesin Toyota yang dikerjakan oleh sebuah karoseri lokal langganan perusahaan milik Rachmat Gobel.
Secara bisnis, street board dikelola oleh perusahaan biro iklan milik keluarga Gobel. Sementara kami bertiga sebagai penggagas dipercaya menjadi operator proyek tersebut.
Saya masih ingat ucapan beliau saat itu. “Kalau satu unit ini menunjukkan tren yang positif, saya siap investasi 10 unit.”
Sayangnya, mimpi tidak selalu sejalan dengan kenyataan.
Proyeksi bisnis yang kami susun tidak pernah benar-benar tercapai. Memasuki tahun kedua, proyek street board akhirnya disuntik mati.
Kini, dua puluh tahun kemudian, konsep yang serupa justru tumbuh subur. Papan reklame digital bergerak sudah menjadi pemandangan yang lumrah di jalan-jalan Jakarta, dengan berbagai ukuran yang disesuaikan dengan dimensi kendaraan pengangkutnya.
Teknologi LED juga berkembang sangat pesat. Ukuran piksel semakin kecil sehingga kualitas gambar jauh lebih tajam dan nyaman dipandang.
Distribusi kontennya pun jauh lebih canggih. Semua unit kini terhubung melalui jaringan internet. Tidak lagi mengandalkan video player offline seperti yang kami gunakan dahulu.
Setiap kali saya melihat mobil reklame digital melintas di jalan, ingatan saya selalu kembali kepada street board dan sosok Rachmat Gobel.
Beliau berani memberi kesempatan kepada sebuah gagasan yang saat itu dianggap terlalu maju. Saya yakin, bukan idenya yang keliru. Hanya waktunya saja yang tidak tepat.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, kesabaran, dan ketabahan.
Aamiin.(jto)














