Oleh: Febri Satria Yazid (Pemerhati Sosial)
Pesatnya perkembangan media sosial baik online maupun offline dan derasnya arus informasi, ujaran kebencian semakin mudah ditemukan. Hampir setiap hari masyarakat disuguhi berbagai bentuk serangan verbal, fitnah, penghinaan, hingga provokasi yang ditujukan kepada individu maupun kelompok tertentu.
Fenomena ini tidak hanya muncul dalam dunia politik, tetapi juga merambah
lingkungan kerja, organisasi, dunia usaha, bahkan kehidupan bertetangga. Pertanyaannya, mengapa manusia begitu mudah menyebarkan kebencian kepada sesamanya? Apa yang sesungguhnya hilang dari diri seseorang hingga tega melukai orang lain melalui kata-kata? Bukankah hampir semua agama mengajarkan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling banyak
memberikan manfaat dan kebaikan kepada sesama?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering muncul setiap kali kita menyaksikan cara sebagian orang berkompetisi dalam berbagai bidang kehidupan.
Demi memperoleh jabatan, keuntungan, pengaruh, atau pengakuan, tidak sedikit yang rela mengorbankan nilai-nilai moral. Kebenaran menjadi kabur, etika ditinggalkan, dan rasa kemanusiaan seolah kehilangan tempat.
Banyak orang beranggapan bahwa ujaran kebencian lahir karena rendahnya pendidikan atau minimnya
pemahaman agama. Namun, kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Tidak sedikit orang yang berpendidikan tinggi, memiliki jabatan terhormat, bahkan dikenal religius, tetapi tetap terlibat dalam
praktik penyebaran kebencian. Hal ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata pada
tingkat pendidikan atau pengetahuan, melainkan pada kemampuan mengendalikan hawa nafsu, ego,
dan ambisi.
Ketika ambisi menjadi tujuan utama, seseorang dapat kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang
lain. Demi memenangkan persaingan, segala cara dianggap sah.
Fitnah, manipulasi informasi, pembunuhan karakter, hingga penggiringan opini dilakukan tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi
kehidupan sosial. Setiap kata yang diucapkan memiliki konsekuensi yang dapat memengaruhi kehidupan banyak orang.
Dalam ajaran Islam, Allah Swt. telah menegaskan bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Setiap hari seorang muslim juga mengikrarkan bahwa salat, ibadah, hidup, dan matinya hanya untuk Allah semata. Jika demikian, mengapa dalam praktik kehidupan masih banyak yang mengabaikan nilai-nilai tersebut?
Barangkali di sinilah letak persoalannya. Tujuan hidup yang seharusnya berorientasi kepada pengabdian
kepada Allah Swt bergeser menjadi pengabdian kepada kepentingan pribadi.
Kepentingan kemudian menjadi ukuran utama dalam mengambil keputusan. Selama tujuan dapat tercapai, etika dan moral sering kali dianggap sebagai penghalang.
Ungkapan terkenal, “Tidak ada teman abadi dan tidak ada musuh abadi, yang ada hanyalah kepentingan,” sering dijadikan pembenaran untuk menghalalkan berbagai cara.
Jika dipahami secara keliru, cara berpikir seperti ini dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Persahabatan
menjadi rapuh, kepercayaan menghilang, dan masyarakat terpecah hanya karena kepentingan sesaat.
Salah satu penyebab munculnya konflik adalah komunikasi yang tidak sehat. Pesan yang disampaikan
tanpa memperhatikan pilihan kata, nada bicara, maupun bahasa tubuh dapat memunculkan kesalahpahaman.
Terlebih lagi di media sosial, di mana sebuah kalimat pendek sering kali ditafsirkan berbeda oleh banyak orang.
Karena itu, setiap orang perlu belajar menyampaikan pendapat dengan santun. Berbeda pandangan bukan berarti harus saling membenci.
Mengkritik bukan berarti menghina. Menyampaikan koreksi juga
tidak harus menjatuhkan martabat orang lain. Demikian pula ketika ingin meminta penjelasan atau mengajukan pertanyaan kepada lawan bicara. Gunakan bahasa yang baik, fokus pada substansi persoalan, dan hindari kalimat yang bernada menyerang.
Sikap seperti ini akan membuka ruang dialog yang sehat sehingga perbedaan pendapat tidak berkembang menjadi permusuhan. Dalam kehidupan demokrasi maupun kehidupan bermasyarakat, perbedaan merupakan sesuatu yang
wajar.
Setiap orang memiliki hak untuk menentukan pilihan sesuai keyakinan dan pertimbangannya. Yang tidak wajar adalah ketika perbedaan tersebut berubah menjadi alasan untuk menyebarkan kebencian, mencaci, menghasut, bahkan memecah belah persaudaraan.
Kompetisi, baik dalam dunia politik, organisasi, usaha, maupun profesi, seharusnya menjadi ajang
menunjukkan kualitas diri, bukan arena saling menjatuhkan. Adu gagasan akan jauh lebih bermartabat
daripada adu kebencian. Perdebatan yang sehat akan menghasilkan solusi, sedangkan ujaran kebencian
hanya akan melahirkan luka yang sulit disembuhkan.
Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruang publik agar tetap sehat. Sebelum membagikan sebuah informasi, penting untuk memastikan kebenarannya.
Sebelum menuliskan komentar, pikirkan terlebih dahulu apakah kalimat tersebut akan membawa manfaat atau justru melukai orang lain.
Sesungguhnya, membangun peradaban yang damai tidak membutuhkan kemampuan yang luar biasa.
Dapat dimulai dari hal-hal sederhana, yaitu menjaga lisan, mengendalikan emosi, menghormati perbedaan, dan menempatkan kemanusiaan di atas kepentingan sesaat.
Ujaran kebencian mungkin mampu memenangkan sebuah pertarungan dalam waktu singkat, tetapi tidak
akan pernah memenangkan hati manusia.
Sebaliknya, tutur kata yang santun, sikap yang bijaksana, dan penghormatan terhadap sesama akan melahirkan kepercayaan yang bertahan jauh lebih lama.
Ukuran keberhasilan seseorang bukanlah seberapa banyak lawan yang berhasil dikalahkan, melainkan seberapa besar manfaat yang mampu ia berikan kepada sesamanya.
Sebab, masyarakat yang kuat bukan
dibangun oleh kebencian, melainkan oleh saling menghormati, saling memahami, dan bersama-sama menjaga persatuan di tengah segala perbedaan.(fsy)














