Oleh: Febri Satria Yazid ( Pemerhati sosial )
Di era digital, pemandangan anak-anak berlarian di lapangan, bermain petak umpet, gobak sodor, atau sekadar bersepeda bersama teman semakin sulit ditemukan. Sebaliknya, yang lebih sering terlihat adalah anak-anak yang duduk diam dengan mata terpaku pada layar gawai. Dunia mereka kini banyak berpindah ke ruang virtual.
Fenomena ini pernah menjadi perhatian seorang budayawan dari Yogyakarta ketika berkunjung ke kampung halaman saya. Dalam perjalanan, ia bertanya kepada Wakil Bupati, “Mengapa hampir tidak ada anak-anak yang bermain di luar rumah?”
Pertanyaan sederhana itu ternyata menyimpan kegelisahan yang besar.
Jawabannya pun cukup kompleks. Jadwal sekolah yang semakin padat, berbagai les tambahan, pendidikan agama hingga sore hari, ditambah perkembangan teknologi yang membuat anak lebih nyaman berada di dalam rumah, perlahan mengubah pola tumbuh kembang mereka. Kesempatan untuk bermain bebas, berinteraksi dengan teman sebaya, dan mengeksplorasi lingkungan menjadi semakin terbatas.
Padahal, bermain bukan sekadar mengisi waktu luang. Bermain adalah proses belajar yang paling alami bagi seorang anak.
Saat bermain di luar rumah, anak menghadapi tantangan yang nyata. Mereka belajar menyelesaikan konflik ketika berbeda pendapat dengan teman, mencari solusi ketika mengalami kesulitan, bernegosiasi, bekerja sama, hingga belajar menerima kekalahan. Semua pengalaman itu tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh dunia digital.
Dari aktivitas sederhana tersebut, tumbuh kemampuan berpikir kritis, kemandirian, keberanian mengambil keputusan, serta rasa percaya diri. Anak belajar bahwa setiap masalah selalu memiliki jalan keluar jika dihadapi dengan tenang dan berusaha.
Bukan berarti permainan digital tidak memiliki manfaat. Banyak permainan edukatif yang justru mampu melatih kemampuan berpikir logis, konsentrasi, komunikasi, bahkan kemampuan memecahkan masalah. Beberapa permainan dirancang untuk mengasah daya ingat, kemampuan menyusun strategi, memahami sudut pandang orang lain, hingga melatih keterampilan berbicara dan mendengarkan.
Kuncinya bukan memilih antara dunia nyata atau dunia digital, melainkan menciptakan keseimbangan di antara keduanya. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu belajar, bukan menggantikan seluruh pengalaman hidup anak.
Islam sendiri sejak lebih dari empat belas abad lalu telah memberikan gambaran mengenai pentingnya memberikan tantangan kepada anak. Rasulullah SAW menganjurkan orang tua mengajarkan anak berenang, berkuda, dan memanah.
Anjuran tersebut tentu tidak hanya dipahami secara harfiah, tetapi juga mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang sangat relevan hingga saat ini.
Berenang mengajarkan anak agar mampu bertahan menghadapi derasnya arus kehidupan. Mereka belajar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Berkuda melatih kedisiplinan, keseimbangan, keberanian, serta kemampuan mengendalikan diri. Seperti halnya menunggang kuda, manusia juga harus mampu mengendalikan hawa nafsu, emosi, dan keinginannya agar tetap berada di jalan yang benar.
Sementara memanah mengajarkan fokus. Seorang pemanah tidak mungkin mengenai sasaran jika pikirannya terpecah ke mana-mana. Nilai inilah yang sangat dibutuhkan generasi saat ini, ketika perhatian mereka mudah teralihkan oleh berbagai notifikasi dan hiburan digital.
Tantangan yang diberikan kepada anak bukanlah untuk mempersulit hidup mereka. Justru melalui tantangan itulah mental mereka ditempa. Anak yang selalu diselamatkan dari setiap kesulitan akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh. Sebaliknya, anak yang diberi kesempatan mencoba, gagal, bangkit, lalu mencoba kembali akan memiliki daya juang yang kuat.
Pepatah mengatakan, “Kapal paling aman berada di pelabuhan, tetapi kapal tidak diciptakan untuk tinggal di sana.” Demikian pula anak-anak. Mereka tidak dipersiapkan untuk hidup dalam kenyamanan tanpa tantangan, melainkan untuk menghadapi kehidupan yang penuh perubahan.
Pesan Umar bin Khattab RA sangat relevan hingga hari ini, “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.”
Kalimat tersebut mengingatkan kita bahwa pola asuh harus terus berkembang. Orang tua tidak cukup hanya berbekal pengalaman masa lalu. Mereka juga perlu memahami perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, psikologi anak, serta perubahan sosial yang sedang berlangsung.
Mendidik anak di era digital bukan berarti melarang teknologi, tetapi mengajarkan cara menggunakannya secara bijaksana. Bukan pula membiarkan mereka bebas tanpa batas, melainkan memberikan ruang untuk mencoba, menghadapi tantangan, bertanggung jawab atas pilihan, dan belajar dari setiap pengalaman.
Karena pada akhirnya, anak-anak yang sukses bukanlah mereka yang selalu dimudahkan jalannya, melainkan mereka yang sejak kecil dibiasakan menghadapi tantangan dengan keberanian, ketekunan, dan akhlak yang baik.
Sebagaimana ungkapan Dahlan Iskan, “Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata.”
Semoga setiap orang tua mampu menghadirkan tantangan yang tepat sesuai usia anak, mendampingi tanpa memanjakan, membimbing tanpa mengekang, sehingga lahirlah generasi yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh, mandiri, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.(fsy)






