• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Jumat, 13 Maret 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Hikmah

Hidup yang Terasa Absurd dan Alasan Kita Tidak Menyerah

TV Harmoni oleh TV Harmoni
Jumat, 16 Januari 2026
in Hikmah
0 0
Hidup yang Terasa Absurd dan Alasan Kita Tidak Menyerah

Oleh : Febri Satria Yazid

Ada masa ketika hidup berjalan begitu saja, tanpa aba-aba, tanpa penjelasan. Rencana yang disusun rapi runtuh dalam sekejap. Harapan patah oleh kenyataan. Doa terasa menggantung di langit yang sunyi. Pada titik inilah, banyak orang bertanya dalam diam: apa sebenarnya makna hidup ini?

Perasaan semacam itu bukan hal baru. Dalam khazanah bahasa, kita mengenalnya dengan istilah absurd. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, absurd berarti tidak masuk akal atau mustahil. Kata ini sering digunakan untuk menggambarkan situasi hidup yang terasa kacau, tak adil, dan sulit diterima oleh logika.

Dari kata inilah lahir paham absurdisme, sebuah pandangan yang menyebut bahwa upaya manusia mencari makna hidup pada akhirnya akan berujung pada kegagalan. Hidup dianggap sebagai rangkaian peristiwa tanpa tujuan pasti bahkan kadang konyol, kadang kejam, dan sering kali menyakitkan.

Hidup memang berfluktuasi. Ada masa bahagia, ada masa terpuruk. Ada keberhasilan, ada kegagalan. Tidak semua hal berjalan sesuai rencana, dan tidak semua usaha berbuah manis. Realitas inilah yang membuat banyak orang, baik muda maupun tua, merasa hidup ini tidak masuk akal.

Generasi muda menghadapi tekanan masa depan, tuntutan ekonomi, dan krisis identitas. Sementara mereka yang lebih tua memikul beban keluarga, kehilangan, dan kekecewaan yang menumpuk. Pada akhirnya, semua manusia dipertemukan oleh satu pertanyaan yang sama: untuk apa semua ini dijalani?

Fahruddin Faiz menyebut manusia ideal sebagai mereka yang berani menerima dan menghadapi situasi hidup apa adanya. Ia siap hidup, dan juga siap mati. Bukan dalam arti putus asa, melainkan dalam kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai kehendak manusia. Orang semacam ini tidak mudah gelisah, tidak larut dalam kekecewaan, dan tidak memilih jalan ekstrem seperti bunuh diri, karena ia percaya bahwa kehidupan ini berada dalam keteraturan yang lebih besar dari dirinya.

Albert Camus, filsuf Prancis abad ke-20, adalah salah satu tokoh utama yang mempopulerkan gagasan absurdisme. Bagi Camus, hidup itu absurd karena tidak memiliki makna dan tujuan yang jelas. Manusia yang terus memaksa mencari makna justru akan berhadapan dengan kehampaan.

Camus melihat paradoks besar dalam kehidupan manusia. Di satu sisi, ada orang yang mengakhiri hidup karena merasa hidup tidak bermakna. Di sisi lain, ada orang yang rela kehilangan nyawa demi mempertahankan keyakinan tentang hidup. Ironisnya, alasan untuk hidup bisa berubah menjadi alasan untuk mati.

Bagi kaum pesimis, hidup dipandang sebagai “lelucon yang mengerikan” atau “tipuan yang dungu”. Pandangan ini semakin menguat ketika manusia menyaksikan tragedi besar seperti bencana alam, tsunami, perang yang merenggut nyawa secara brutal dan seolah tanpa alasan yang adil.

Baca juga  Disiplin dan Dignity Sebagai Laku Hidup

Tak sedikit dari mereka yang akhirnya memilih apa yang disebut bunuh diri filosofis. Fakta menunjukkan, kasus semacam ini justru banyak terjadi di negara-negara yang secara ekonomi tergolong sejahtera. Artinya, kemiskinan bukan satu-satunya penyebab keputusasaan. Yang lebih berbahaya adalah kegagalan memaknai kehidupan.

Namun, di tengah dunia yang terasa absurd, manusia masih memiliki pilihan: menyerah atau bertahan. Menjaga hasrat untuk mencari kejelasan di tengah ketidakpastian adalah bentuk kehormatan manusia. Orang yang terus belajar memahami hidup, merenungi makna di balik peristiwa, dan menerima kenyataan dengan kesadaran, justru akan menemukan kebahagiaan yang lebih dalam. Ia tidak menafikan luka, tetapi tidak membiarkan luka itu membunuh harapan.

Manusia yang bermartabat tidak hidup dalam pesimisme. Ia percaya bahwa apa pun yang dialaminya, bahkan yang paling pahit sekalipun bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang memiliki makna, meski belum tentu langsung dipahami.

Dalam perspektif Islam, sebagaimana dijelaskan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur), hidup memiliki orientasi yang jelas dan transenden. Tujuan hidup seorang Muslim adalah berjumpa dengan Allah dalam keridaan-Nya. Makna hidup diperoleh melalui iman dan amal kebajikan, melalui kesungguhan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Zikir yang diajarkan Nabi—Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar, bukan sekadar ritual lisan. Ia adalah cara menata batin agar tidak terjebak dalam prasangka buruk terhadap kehidupan. Ucapan Subhanallah menegaskan bahwa Allah Maha Suci dari anggapan bahwa hidup ini diciptakan sia-sia.

Artinya, hidup tidak pernah kosong dari makna. Ia mungkin terasa berat, kadang menyakitkan, tetapi tidak pernah tanpa tujuan.

Dari sini, kita melihat dua jalan besar dalam memandang kehidupan. Pertama, jalan pesimisme yang melahirkan pemberontakan filosofis terhadap hidup yang dianggap absurd. Kedua, jalan optimisme spiritual yang memandang hidup sebagai amanah dan perjalanan menuju makna yang lebih tinggi.

Islam mengajarkan bahwa Allah adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukan Maha Kejam. Manusia dianugerahi akal, nurani, dan hikmah agar mampu membaca kehidupan dengan lebih jernih.

Karena itu, menjadi ganjil jika manusia terus gelisah mempersoalkan makna hidup, sementara Sang Pemberi Kehidupan telah menegaskan bahwa dunia ini hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih abadi.

Mungkin hidup memang tidak selalu masuk akal. Tetapi justru di situlah, iman, kesadaran, dan harapan menemukan perannya, menjaga manusia agar tetap bertahan, tetap waras, dan tetap percaya bahwa hidup ini layak dijalani. Sang Pemberi Kehidupan sudah menegaskan  bahwa hidup ini hanyalah senda gurau belaka (fsy).

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Tags: Febri Satria Yazid
TV Harmoni

TV Harmoni

Info Terkait

Hikmah

Memaknai Hidup di Persimpangan

Jumat, 13 Maret 2026
Hikmah

Menjadi “Langit” yang Tak Terluka

Jumat, 6 Maret 2026
Hikmah

Melampaui Cara Pikir Sektoral

Jumat, 27 Februari 2026
Manusia Membingungkan
Hikmah

Manusia Membingungkan

Jumat, 20 Februari 2026
Menjaga Batas dalam Komunikasi demi Kesehatan Jiwa
Hikmah

Menjaga Batas dalam Komunikasi demi Kesehatan Jiwa

Jumat, 13 Februari 2026
Mengenal Diri di Tengah Zaman yang Riuh
Hikmah

Mengenal Diri di Tengah Zaman yang Riuh

Jumat, 6 Februari 2026

Info Terbaru

Memaknai Hidup di Persimpangan

Jumat, 13 Maret 2026

Liputan Khusus: Kuliah Perdana “Madrasah Lansia Husnul Khatimah”

Jumat, 13 Maret 2026
LIPUTAN KHUSUS : Ramadhan Expo 10.0 Ciwalk Bandung

LIPUTAN KHUSUS : Ramadhan Expo 10.0 Ciwalk Bandung

Jumat, 13 Maret 2026
LIPUTAN KHUSUS : Ramadhan Expo 10.0 Ciwalk Bandung

LIPUTAN KHUSUS : Ramadhan Expo 10.0 Ciwalk Bandung

Jumat, 13 Maret 2026

Video

  • All
  • Video

“Ramadhan Festival” Talkshow Parenting bersama Elly Risman di Masjid Al Jabbar

Rabu, 11 Maret 2026

Highlight Iftar Ramadhan 1447 H: Berbagi Kasih bersama GMI Kota Bandung

Minggu, 8 Maret 2026

Liputan Khusus: Pesantren Ramadhan MT. Hegarmanah “Muslimah Day’s”

Minggu, 8 Maret 2026
Tarhib Ramadhan : Sahabat Bandung Community 2026 M – 1447 H

Tarhib Ramadhan : Sahabat Bandung Community 2026 M – 1447 H

Senin, 2 Februari 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist