Oleh: Febri Satria Yazid
Awal tahun 2026 dibuka dengan suasana sosial yang terasa riuh dan melelahkan. Arus informasi bergerak begitu cepat, opini berseliweran tanpa jeda, dan ruang-ruang digital dipenuhi keluhan, kemarahan, serta kecurigaan.
Banyak orang merasa mudah lelah, bukan karena kerja fisik yang berlebihan, melainkan karena paparan energi sosial yang tidak sehat.
Dalam konteks inilah, pembahasan tentang energi negatif menjadi relevan sekaligus mendesak.
Kesadaran tersebut menguat setelah menyimak percakapan antara I Wayan Mustika dan Abu Marlo berjudul Mengapa Kita Capek Bersama Orang Bad Vibes atau Bad Energy? Stay Positive Meski di Lingkungan Negatif.
Percakapan itu memang disampaikan dengan bahasa yang sederhana, namun sarat makna. Ia tidak hanya berbicara tentang relasi antarindividu, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih luas, bagaimana manusia modern bertahan secara batin di tengah lingkungan yang penuh tekanan dan energi negatif.
Salah satu gagasan menarik yang disampaikan I Wayan Mustika adalah analogi air tanah, pompa, dan toren. Air tanah melambangkan energi semesta yang selalu tersedia.
Pompa otomatis melambangkan kesadaran atau sistem alam yang bekerja secara cerdas dan seimbang.
Sementara toren melambangkan diri manusia berupa pikiran, emosi, dan batin. Ketika air di dalam toren berkurang, pompa otomatis akan bekerja mengisinya kembali hingga penuh.
Ada mekanisme alami yang menjaga keseimbangan.
Analogi ini kemudian dihubungkan dengan konsep “kecerdasan semesta”.
Kecerdasan semesta dimaknai sebagai hukum alam yang halus: energi selalu bergerak mengikuti tingkat kesadaran dan kualitas batin.
Energi mengalir dari “atas” ke “bawah”, bukan dalam arti fisik, melainkan dari kualitas kesadaran yang lebih tinggi menuju yang lebih rendah.
“Atas” berarti jernih, sadar, tenang, dan bernilai. Sementara “bawah” berarti reaktif, negatif, penuh keluhan, dan destruktif. Seperti air yang mengalir mengikuti gravitasi, energi batin pun bergerak mengikuti hukum kesadaran.
Ketika seseorang mampu menjaga pikiran dan sikapnya tetap positif, sadar, dan bernilai, ia ibarat toren yang selalu terisi. Energi negatif dari luar tidak mudah mengurasnya, karena sistem batinnya stabil. Bahkan tanpa disadari, ia dapat menjadi sumber ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya.
Sebaliknya, ketika seseorang larut dalam obrolan negatif, gosip, kemarahan, atau kebencian, “toren” batinnya perlahan kehilangan energi. Ia turun ke level energi yang sama dengan sumber negatif tersebut.
Dampaknya, ia menjadi lebih mudah lelah, emosional, dan kehilangan kejernihan berpikir.
Di sinilah pentingnya kemampuan menilai mana yang baik, benar, penting, dan bermanfaat.
Kesadaran ini ibarat menjaga katup toren agar tidak terbuka bagi energi yang menguras. Tidak semua percakapan layak diberi ruang di dalam batin.
Diam, mengalihkan topik, atau menjaga jarak bukanlah bentuk kesombongan, melainkan kecerdasan energi. Ini bukan soal merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan tentang tanggung jawab terhadap kualitas batin sendiri.
Dorongan untuk menuliskan refleksi ini muncul setelah menyaksikan video tersebut dan mengaitkannya dengan situasi sosial di awal 2026 yang sarat tekanan, kegaduhan, dan kegelisahan kolektif.
Di tengah suasana seperti ini, muncul fenomena menarik yaitu banyak orang tampak cerdas berbicara, lihai berpendapat, bahkan cepat menghakimi, namun miskin kebijaksanaan.
Kondisi ini terasa nyata di ruang publik dan media sosial. Kecerdasan sering dipertontonkan tanpa empati, tanpa kesadaran akan dampaknya terhadap kesehatan mental orang lain.
Opini berseliweran, perdebatan tak berujung, dan kritik kerap disampaikan tanpa niat membangun.
Dalam konteks ini, sikap pragmatis yang dibahas oleh I Wayan Mustika dan Abu Marlo menjadi relevan. Pragmatisme di sini bukan berarti apatis, melainkan kebijaksanaan untuk bersikap realistis: tidak larut dalam perdebatan yang melelahkan dan fokus pada hal-hal yang memberi manfaat nyata bagi pertumbuhan diri.
Ini adalah bentuk kedewasaan berpikir. Di awal 2026, ketika opini saling berbenturan, kebijaksanaan pragmatis membantu kita tidak tenggelam dalam kegaduhan yang tidak produktif.
Energi dan kecerdasan memang berada pada dimensi yang berbeda, namun keduanya saling memengaruhi. Orang yang cerdas secara logis belum tentu memiliki energi yang menenangkan.
Sebaliknya, seseorang dengan energi positif kerap mampu menciptakan ruang aman bagi orang lain untuk berpikir jernih.
Karena itu, kesadaran kritis menjadi kunci. Dengan kesadaran ini, kita mampu memilah informasi yang relevan dan membedakannya dari distraksi emosional.
Kita belajar untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak memberi nilai tambah. Inilah bentuk pragmatisme sehat: tidak membuang energi pada sesuatu yang tidak menumbuhkan.
Di awal 2026, ketika banyak orang sedang berusaha menata ulang hidup dan harapan, paparan energi negatif terasa semakin memberatkan.
Melindungi diri bukan berarti memutus hubungan sosial secara ekstrem, melainkan membangun batasan yang sehat.
Langkah pertama adalah menyadari keterbatasan diri: kita tidak bertanggung jawab atas semua beban emosional orang lain.
Jika memungkinkan, kurangi intensitas interaksi dengan individu yang terus-menerus memancarkan energi negatif. Jaga jarak emosional agar tidak terlibat terlalu dalam.
Ini bukan sikap egois, melainkan bentuk kepedulian terhadap kesehatan mental sendiri.
Langkah berikutnya adalah memperkuat energi positif dari dalam.
Menjaga keseimbangan fisik melalui olahraga, menenangkan pikiran lewat meditasi atau refleksi spiritual, serta meluangkan waktu untuk aktivitas yang memberi makna, sangat membantu menjaga stabilitas batin.
Lingkaran pergaulan pun memegang peran penting. Berada di tengah orang-orang yang jujur, suportif, dan berorientasi pada pertumbuhan akan membantu kita tetap waras di tengah tekanan zaman. Interaksi yang sehat bukan hanya menyenangkan, tetapi juga menyembuhkan.
Dengan kebijaksanaan, kita belajar untuk tidak bereaksi terhadap semua hal. Kita memilih secara sadar apa yang layak diberi perhatian dan apa yang perlu dilepaskan.
Menjaga energi positif bukan sekadar soal merasa bahagia, melainkan tentang membangun kualitas hidup yang lebih sehat, bermakna, dan manusiawi.(fsy)













