• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Senin, 9 Maret 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Komunitas

Pupuk Organik Berbahan ‘Tak Biasa’ Dikembangkan Mahasiswa Unpad

Redaksi Harmoni oleh Redaksi Harmoni
Selasa, 9 Juli 2024
in Komunitas
0 0

Siapa sangka bola cokelat yang dikemas dalam kemasan pouch itu merupakan sebuah pupuk organik karya mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad).
Pupuk yang dimaksud dinamai Pupukin! Eco-friendly yang dibuat dengan teknologi Slow Release Fertilizer dengan bahan dasar bonggol pisang dan kulit udang.

“Lalu pada bulan Januari kemarin saya bersama teman-teman saya memutuskan untuk membawa ide bisnis ini ke perlombaan PKM-Kewirausahaan. Pada tanggal 19 April 2024, ide bisnis kami ini dinyatakan lolos mendapatkan pendanaan dari Kemdikbud dan saat itulah kami mulai mengeksekusi ide bisnis yang telah dirancang dan memulai proses produksi produk ini,” kata Dira yang merupakan Mahasiswa Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian Unpad.
Produk Pupukin! ini dikembangkan oleh Dira Purwasih (Agribisnis), Prili Alisha (Agribisnis), Rizqia Nadira Ronaldo (Agribisnis), M. Yasyfa Kusumadinata (Teknologi Industri Pertanian), dan Stanislaus Adhi Pramudya (Agroteknologi) dengan dosen Pendamping Vira Kusuma Dewi, M.Sc., PhD.

Dira mengungkapkan, ide bisnis ini berawalini dari melihat keberlimpahan limbah pisang dan kulit udang yang pemanfaatannya masih minim. Seperti diketahui Jawa Barat sendiri merupakan penghasil limbah pisang dan kulit udang terbesar di Indonesia.

“Dari kecocokan inilah kami mencoba untuk berinovasi dengan memanfaatkan limbah ini menjadi pupuk organik. Bagian pisang yang diambil adalah bonggolnya karena memiliki kandungan unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan vitamin lainnya,” ungkapnya.

“Selain itu, bonggol pisang juga memiliki beberapa mikroba seperti Aeromonas sp., Bacillus sp., dan Aspergillus niger., yang dapat menjadi pemecah bahan organik tanah, fiksasi nitrogen dan melawan patogen penyebab penyakit tanaman. Untuk kulit udang dipilih karena kaya akan protein, kalsium, dan kitin yang dapat dimanfaatkan menjadi kitosan yang kemudian kami manfaatkan sebagai coating untuk mengatus pelepasan unsur hara pupuk,” tambahnya.

Baca juga  Minat Mahasiswa Musik pada Keroncong, Masih Tinggi

Dira juga menjelaskan, jika pupuk organik ini mendapatkan tambahan daun nimba yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit, sehingga terciptalah produk pupuk slow release yang ramah lingkungan, menyuburkan dan meningkatkan daya tahan tanaman.

“Dengan fokus tujuan untuk meningkatkan produktivitas urban farming, kami melakukan survey pasar dengan menyebarkan kuesioner mengenai kendala yang dialami mereka dan didapatkan hasil bahwa proses pemupukan masih terasa sulit oleh sebagian besar urban farmer,” jelasnya.

Dira juga menerangkan proses kerja dari pupuk organik yang dibuatnya, pada saat penanaman, pupuk dimasukkan ke dalam tanah. Lalu saat penyiraman, air yang berada di dalam tanah akan masuk menembus lapisan coating pupuk melalui pori-pori pada lapisan.

Air yang berhasil masuk ke dalam inti pupuk akan melarutkan nutrisi yang berada di inti. Akibatnya, akan timbul kenaikan tekanan osmotic yang menyebabkan pupuk akan mengembang. Lapisan coating dari kulit udang yang telah diubah menjadi kitosan mampu menahan tekanan osmotic yang terjadi maka nutrisi dalam pupuk akan dilepaskan secara perlahan melalui pori-pori dari coating.

“Maka akan terjadi transfer massa karena adanya perbedaan konsentrasi dan tekanan osmotik. Kondisi inilah yang disebut sebagai ‘Mekanisme Difusi’. Pelepasan perlahan dari pupuk ini memberikan efisiensi waktu dan tenaga untuk pemupukan karena dapat mengurangi frekuensi pemupukan serta mencegah terjadinya over-fertilization,” jelasnya.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Tags: komunitaspupuk organikunpad
Redaksi Harmoni

Redaksi Harmoni

Info Terkait

Komunitas

Sukses Gelar Pertunjukan, Kethoprak Serayu Kridho Budoyo Tahun Depan Optomis Bisa Tampilkan Lakon Lebih Seru

Kamis, 11 September 2025
Komunitas

Rayakan 10 Tahun, Kethoprak Serayu Kridho Budoyo Bandung Pentaskan Lakon Lambangsari Ngedan

Sabtu, 6 September 2025
Komunitas

Tampilkan Karawitan Tradisi & Modern, Diaspora Kediri di Priangan Siap Meriahkan Reuni Emas Sanyuri di Jakarta

Jumat, 1 Agustus 2025
Paguyuban Pasundan Penggerak Jatidiri Peradaban Sunda
Komunitas

Paguyuban Pasundan Penggerak Jatidiri Peradaban Sunda

Rabu, 23 Juli 2025
Komunitas

Melayani Pendidikan Qur’an Yayasan MHABD Launching Rumah Tahfidz Qur’an Kerjasama dengan YPM Al-Fitrah

Senin, 7 Juli 2025
Komunitas

Menumbuhkan Cinta Seni Budaya Nusantara bersama SORA WANODJA

Jumat, 20 Juni 2025
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist