Ada sebuah kejutan luar biasa dalam acara SFD 2026. Salah satu acara interaktif dengan para senior adalah simulasi berkendara dari sebuah rumah menuju Sandown Raceway. Ternyata simulasi ini merujuk pada kejadian sebenarnya seminggu sebelumnya.
Begini kisahnya. Ada seorang anggota Ikawiria yang mendapat hadiah ulang tahun dari bosnya dalam bentuk voucher menjajal lintasan balap di Sandown Raceway. Hadiah ini sangat menggembirakan dan membuat adrenalinnya mengalir deras sebab ngebut di Sandown Raceway adalah salah satu impiannya.

Tidak menunggu lama diaturlah jadwal kunjungan ke arena balap itu. Official di sana menyambutnya dengan hangat. Setelah melakukan pengecekan administrasi mereka terkejut karena ternyata ia memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM) atau license khusus untuk membalap yang dikeluarkan oleh Ikatan Motor Indonesia (IMI).

Ini bukanlah surat ijin mengemudi biasa. License ini hanya diberikan kepada mereka yang mempunyai keterampilan khusus berkendara dengan kecepatan tinggi. Bukan asal ngebut.
Untuk mendapatkan SIM ini di Indonesia harus bergabung dengan salah satu klub berkendara yang terafiliasi dengan IMI. Kemudian juga harus memenuhi syarat-syarat khusus yang melebihi persyaratan untuk mendapatkan SIM biasa.

Demikianlah karena memiliki SIM pembalap ia ditawari untuk mengemudikan Mustang. Dengan sangat antusias ia terima tawaran itu. Inilah momen yang selalu diimpikannya. Setelah berhenti membalap di Indonesia bertahun-tahun lalu kini kesempatan untuk kembali mengaspol trek balap berada di depan matanya.
Ia pun bersiap seperti yang dulu selalu dilakukannya: memakai racing suit dan helm kemudian melangkah menuju Mustang yang telah menunggunya.

Semuanya berjalan cepat seperti mimpi. Beberapa detik kemudian ia telah menggeber Mustang itu menembus 220 km/jam. Ia sangat bahagia meskipun menurut pengakuannya kecepatannya masih di bawah standar yang seharusnya 240 km/jam.
Namun ia sangat puas sebab inilah untuk pertama kalinya setelah lebih dari 20 tahun ia berhenti membalap. Sebelum hari yang istimewa itu ia adalah pengemudi biasa yang melaju dengan batas kecepatan 60 atau 80 km/jam sesuai rambu.

Kisah ini mungkin hanya kisah biasa saja jika pembalap itu adalah anak muda Ikawiria yang berumur 30 tahun. Tapi kisah ini menjadi luar biasa karena pembalap itu adalah Ibu Tiqa Rohana, anggota senior Ikawiria yang berusia 68 tahun dan telah berhenti membalap 23 tahun yang lalu.
Dengan jeda yang begitu lama, tanpa canggung dan ragu sedikit pun Ibu Tiqa Rohana melaju dengan kecepatan dua kali kecepatan maksimum yang diizinkan di jalan umum di Australia. Bukan di jalan lurus melainkan di trek balap dengan berbagai karakteristik tikungan. Luar biasa!
Seandainya dimungkinkan di jalan raya, bagi orang biasa melaju dengan kecepatan 120 km/jam mungkin masih merasa tenang. Tetapi jika dia mencapai 140 km/jam mungkin sudah mulai kurang percaya diri dan sangat sedikit yang berani lebih dari itu.

Maka apa yang dilakukan Ibu Tiqa sungguh mencengangkan dan hampir tidak bisa dipercaya meskipun seandainya kita tahu latar belakangnya.

Ibu Tiqa Rohana memang adalah pembalap mobil di Indonesia pada era 2000-an. Kelas drag race adalah keahliannya. Inilah kelas balap yang membutuhkan konsentrasi dan refleks sangat cepat karena pembalap harus memacu mobilnya sekencang-kencangnya dalam trek pendek.
Pada tahun 2003 ia merebut nomor pertama drag race di sirkuit Sentul. Pada masa jayanya, bersama sedikit pembalap wanita lainnya, Ibu Tiqa menjadi inspirasi lahirnya generasi baru pembalap wanita Indonesia.






