BANDUNG — Suara tabuhan gamelan jaranan berlaras merdu menggema dari area basement Gedung Telkom Jalan Japati, Bandung, Sabtu (15/8/2026). Diiringi alunan musik karawitan yang mantap dan dinamis, gending monumental Lancaran 45 karya Presiden ke-1 RI Ir. Soekarno bersama maestro Ki Nartosabdo berkumandang dengan derap penuh semangat.
Irama yang begitu hidup itu dibawakan secara apik oleh para anggota Unit Karawitan Sanyuri Priangan (Santi Paguyuban Kediri). Meski mayoritas diisi oleh warga paruh baya hingga lansia, energi serta kepiawaian mereka dalam menabuh gamelan tak kalah dengan para penabuh muda. Berbalut busana dan atribut serba merah putih, para perantau asal Kediri, Jawa Timur, yang kini bermukim di Priangan ini melantunkan tiap bait lagu kemerdekaan dengan penuh penghayatan.
Memaknai Pesan Kebangsaan Bung Karno
Tembang Lancaran 45 bukan sekadar gending biasa. Liriknya sarat akan rekam jejak sejarah serta ajakan untuk terus memelihara persatuan bangsa:
“Galo kae genderane kumlebet angawe-awe,
Abang Putih sang Dwiwarna iku lambang sejatine,
Negara kita wus merdika, Kang adhedhasar Pancasila,
Tumandang bareng maju nunggal tekad rahayu.”
— Ir. Soekarno & Ki Nartosabdo
Bait-bait tersebut melukiskan kibaran Sang Dwiwarna yang memanggil seluruh anak bangsa untuk bergerak bersama, menyatukan tekad mengisi kemerdekaan berlandaskan Pancasila, dan ditutup dengan pekik “Merdeka!” yang meneguhkan rasa cinta pada Tanah Air.
Tradisi “Ngiras Ngirus” yang Merekatkan Persaudaraan
Ketua Sanyuri Priangan, Wartono Purwanto atau yang akrab disapa Mas Ipung, mengungkapkan bahwa agenda perayaan kali ini dikemas secara fleksibel mengingat persebaran tempat tinggal anggota yang meluas di berbagai sudut Kota Bandung.
“Anggota kami tersebar di banyak wilayah dan tentu ikut memeriahkan Agustusan di lingkungan masing-masing. Karena itu, kami manfaatkan jadwal Latihan Karawitan (Gladen) rutin tiap Sabtu ini dengan konsep ‘ngiras ngirus’—sekali jalan. Sambil latihan, kita selipkan tumpengan, lomba-lomba seru, dan syukuran kemerdekaan,” cerita Mas Ipung.

Lebih dari sekadar memperingati HUT ke-81 RI, ajang ini menjadi ruang bernapas untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman. Guyub rukun dan kehangatan silaturahmi begitu terasa saat obrolan berbahasa Jawa khas Kediri dan gelak tawa mengalir tanpa sekat di antara para perantau.
Dari Lomba Bumbu Pecel Hingga Sinergi Lintas Komunitas
Pengurus Sanyuri Priangan, Sri Radianti (Mbak Tanti), menambahkan bahwa keceriaan perayaan ini kian lengkap dengan hadirnya rekan-rekan perantau dari daerah lain. Tercatat, 18 penabuh gamelan Sanyuri membaur bersama perwakilan Paguyuban Banyumasan (Asmari) serta perwakilan Karawitan Rekso Budoyo 2 PTDI Bandung.
Prosesi diawali dengan melantunkan 5 gending karawitan secara kompak, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai wujud rasa syukur atas nikmat kemerdekaan dan kesehatan. Gelak tawa pun pecah saat aneka perlombaan khas Kemerdekaan dimulai.
“Lombanya sangat meriah, mulai dari lempar bola, mengambil permen pakai sumpit, baris-berbaris, sampai joget balon berpasangan. Yang paling bikin heboh, peserta pada mengincar hadiah utama berupa 20 bungkus bumbu pecel asli Kediri yang sengaja kami sediakan,” tutur Mbak Tanti tersenyum.
Usai heboh berburu bumbu pecel dan aneka doorprize, para peserta kembali naik ke panggung karawitan untuk memainkan 6 lagu penutup hingga sore menjelang. Kendati digelar secara sederhana di dalam ruangan, raut puas memancar dari wajah para perantau. Lewat alunan gamelan dan kebersamaan yang hangat, warga Kediri di Priangan berhasil merawat ingatan sejarah, melestarikan seni tradisi, sekaligus mengukuhkan tali persaudaraan di tanah perantauan.














