Oleh : Karsidi Diningrat
ALLAH subhanahu wa Ta’ala mewajibkan hamba-Nya beribadah bukan untuk kepentingan-Nya, tetapi untuk hamba-Nya itu sendiri. Ibadah akan membuahkan hikmah, ketentraman dan kesejukan hati. Dengan beribadah itulah kita dapat berkomunikasi langsung dengan sang Khalik, dan ibadah yang dapat menghantarkan pada komunikasi itu adalah shalat. Tujuan beribadah adalah untuk memperoleh keridhaan-Nya, sekaligus merupakan bukti nyata komitmen hamba terhadap pernyataan “laa illaa ha illallah”.
Pada hakikatnya, ibadah shalat dilakukan untuk mencapai suatu tingkat kehidupan yang hakiki di bawah siraman hidayah Allah. Itu merupakan suatu tingkatan yang di dalamnya berisi kelezatan iman, kedamaian, dan ketentraman batin. Di dalam shalat lah orang bisa bermunajat lewat kalam-kalam-Nya, mensucikan-Nya, mengagungkan-Nya, dan melakukan sujud dan ruku untuk-Nya.
Begitu mulia dan luhurnya nilai ibadah shalat. Perintah shalat merupakan kewajiban pertama yang diserukan Allah kepada Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan perjalanan isra dan mi’raj. Rasulullah SAW sendiri menegaskan tentang pentingnya ibadah shalat, sampai-sampai hal itu merupakan pembeda antara hamba-Nya yang mukmin dengan yang ingkar. Rasulullah SAW bersabda, “Beda antara seorang Muslim dan musyrik atau kafir adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku.” (QS. Adz-Dzaariyaat [51]: 56). Ini berarti bahwa tujuan Allah menciptakan kedua jenis makhluk ini, adalah agar mereka hanya setia kepada Allah saja dan tidak kepada yang lain, agar mereka hanya mengikuti perintah-perintah Allah saja dan tidak mendengarkan perintah siapa pun yang bertentangan dengan perintah-Nya, dan menundukkan kepala dengan hormat dan penghargaan hanya kepada-Nya saja dan tidak kepada yang lain. Ketiga hal ini telah dirumuskan Allah dalam satu istilah yang komprehensif, yaitu ibadah.
Pengertian ibadah dalam ayat di atas [51:56] juga mencakup pengertian yang luas dan mencakup empat rukun, yaitu shalat, shaum, zakat dan haji. Di antara kelima ibadat wajib itu, yang paling besar dan paling penting adalah shalat. Kemudian dilanjutkan dengan firman-Nya yang lain, “Hai, kaumku, beribadahlah kepada Allah karena sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain Dia.” (QS. Al-Mukminun [23]: 23). Dan juga firman-Nya lagi, “Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh-kesah dan apabila ia mendapatkan kebaikan, maka ia amat kikir, kecuali bagi mereka yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Ma’arij [70]: 19-22).
Inilah yang dimaksud dalam semua ayat di mana Allah memerintahkan agar manusia beribadah kepada-Nya. Yang berarti bahwa hanya ada satu Penguasa yang berdaulat kepada siapa kita semua harus setia, bahwa Penguasa itu adalah Allah, bahwa hanya ada satu hukum yang harus kita patuhi, yaitu hukum Allah, dan bahwa hanya ada satu Dzat yang harus disembah, yaitu Allah.
Bersegera bergegas melaksanakan shalat
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa [4]: 103).
Orang yang telah melakukan waktu shalat dengan tepat dan baik, maka dia akan dapat merasakan kenikmatan bersujud di bawah naungan hidayah-Nya. Ia bahkan akan menjadi orang yang selalu mampu menanggulangi segala problema dan keruwetan kehidupan di dunia ini. Pada hakikatnya, shalat merupakan sarana terbaik untuk mendidik jiwa dan memperbaharui semangat, sekaligus sebagai pensucian akhlak. Oleh karena itu shalat harus dilakukan dengan khusyu, ikhlas, dan rendah hati karena keagungan-Nya. Shalat juga harus dilakukan sesuai aturan syariat seperti yang dicontohkan oleh Nabi Saw, baik menyangkut bacaannya maupun kaifiyahnya.
Abul Ala Maududi mengtakan, “jika prajurit-prajurit diperintahkan berkumpul di suatu tempat di mana mereka disuruh melakukan parade. Semua itu dilakukan untuk membiasakan mereka untuk melaksanakan perintah-perintah. Sama halnya, terompet shalat juga dibunyikan lima kali dalam sehari, dengan tujuan agar prajurit-prajurit Allah dengan cepat berkumpul dari segenap penjuru, dan membuktikan bahwa mereka siap mematuhi perintah-perintah Allah. Seorang muslim yang tidak bergerak dari tempatnya ketika mendengar suara adzan, sebenarnya membuktikan bahwa ia tidak mengerti arti kewajiban, atau kalaupun ia mengerti juga, ia adalah seorang yang betul-betul tolol dan tak berguna, hingga tak layak untuk menjadi prajurit dalam tentara Allah. Dan mereka tidak siap untuk menjalankan kehidupan praktis secara Islam. Dengan demikian, iman mereka kepada Allah dan Rasul-Nya tidaklah ada gunanya.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk”. (S. Al-Baqarah [2]: 45). Artinya, shalat itu hanya berat bagi mereka yang tidak bersedia untuk menjalankan kepatuhan kepada Allah, dan seseorang yang merasa bahwa shalat itu berat, ia telah membuktikan bahwa dirinya tidak cocok untuk menjadi hamba Allah.
Karena alasan tersebut di atas itulah, Rasulullah Saw berkata “Sungguh aku ingin sekali pergi membakar rumah orang-orang yang tetap tinggal di rumah mereka setelah mendengar suara adzan.” Pada hidup Rasulullah saw dan Khulafaurrashidin, seseorang tidak dianggap Muslim kecuali bila ia ikut serta shalat berjamaah dengan penuh semangat, sehingga mereka yang malas-malasan dicela sebagai orang-orang munafik. Sebagaimana Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk mengerjakan shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa [4]: 142).
Shalat merupakan salah satu pilar utama agama Islam dan merupakan pondasi agama. Tak seorang muslim pun boleh mengabaikan shalat. Juga merupakan dosa besar dan tak ada alasan apa pun untuk mengampuninya. Dosa besar itu bukan hanya ingkar kepada Allah. Tapi yang tak kalah jeleknya, juga ingkar (melawan) kepada kodratnya sendiri. Instink manusia cenderung tertarik kepada perbuatan baik dan tujuan yang mulia. Kebaikan paling besar dan tujuan paling mulia, semuanya datang dari Allah. Cara yang terbaik untuk menyuburkannya kepribadian manusia yang sehat dan mewujudkan aspirasinya dengan pertimbangan yang dewasa adalah melaksanakan shalat sebaik-baiknya. Mengabaikan shalat berarti menindih kualitas yang baik dari kodrat manusia serta menyangkal secara tak patut kebenaran, kemuliaan dan kasih sayang. Menyangkal hak atas cita-cita dan meninggikan derajat serta hak untuk mencapai tujuan yang luhur. Tiap usaha menindih dan menyangkal tatanan itu, merupakan sesuatu kejahatan yang amat serius dan amat merusak. Di sini letak penting dan vitalitasnya shalat dalam kehidupan manusia.
Perangi Kekufuran dan Kejahatan
Dari penjelasan di atas jelaslah bahwa dalam Islam tidak ada tempat bagi seseorang yang tidak mengerjakan shalat. Karena Islam bukanlah semata-mata kepercayaan, melainkan juga merupakan ajaran-ajaran yang praktis. Dengan demikian seorang Muslim harus mempraktekkan Islam dan memerangi kekufuran dan kejahatan setiap saat dalam hidupnya. Untuk menjalankan kehidupan praktis yang ketat seperti ini, seorang Muslim harus selalu sigap dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Mereka yang tidak memiliki kesigapan ini adalah sama sekali tidak berguna bagi Islam. Itulah sebabnya shalat telah diwajibkan lima kali dalam sehari, hingga mereka yang mengaku Islam dapat ditest terus-menerus untuk mengetahui apakah mereka betul-betul Islam dan bergairah dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dalam kehidupan praktis mereka sehari-hari.
Harus ditanamkan dalam pikiran kita, Allah tak mempunyai kepentingan dari perintah shalat itu. Sebab Allah bebas dari segala kebutuhan dan kepentingan. Allah hanya menginginkan manusia sejahtera dan baik kehidupannya. Jika Allah menekankan pentingnya shalat dan membebani kita dengan tugas semacam itu, IA justru membantu manusia, untuk kemanfaatan manusia dan menjaga manusia dari segala lawan-lawan yang akan memusuhi jiwanya. Manfaat yang bisa diserap manusia dengan ibadah shalat dalam Islam itu, bukan sekedar teroritis, tetapi betul-betul lahir lewat pengalaman spiritual.
Jika dianalisa ibadah shalat dalam Islam dan mempelajari kodrat manusia yang unik, akan menjelaskan pada kita bahwa hal itu bukan sekedar gerakan phisik atau perintah Allah yang tak ada artinya. Sebab, merupakan bentuk meditasi intelektual dan kebaktian spiritual, meninggikan moral dan phisik. Yang menyatu, yang tidak dikenal sebelumnya dan tiada tolok bandingannya. Jiwa, raga dan pikiran menyatu untuk berbakti dan memuliakan Allah. Memang sulit bagi kita menguraikan dengan kata-kata, arti sepenuhnya dari ibadah shalat.
Shalat merupakan tindak lanjut pernyataan dua kalimat syahadat. Oleh karena itu pantaslah dikatakan bahwa shalat itu adalah tiang agama. Tiang yang menyangga atap atau puncak bangunan Islam (jihad). Hal ini menunjukkan bahwa adanya hubungan erat antara syahadat, shalat dan jihad. Jika ketiga itu selalu diamalkan, maka insya Allah, kita akan meraih kemenangan. Shalat juga merupakan simbol terpenting dari peri laku dalam menjaga keberadaan dan keharmonisan ukhuwah Islamiyah. Shalat juga bahkan merupakan suatu gambaran ideal tentang “sistem jama’ah” dari umat terbaik yang ditampilkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu ‘alam bish-shawwab.
-Dosen Akidah dan Pemikiran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
-Wakil Ketua I Majelis Pendidikan Pengurus Besar Al-Washliyah
-Dewan Penasihat Pengurus Wilayah Al-Washliyah Jawa Barat.














