• Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Senin, 23 Februari 2026
TV Harmoni
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
  • Berita
    • Jawa Barat
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Nasional
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
    • Bewara Persib
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
No Result
View All Result
No Result
View All Result
TV Harmoni
  • Berita
  • Keluarga
  • Kesehatan
  • Entertainment
  • Olahraga
  • Ekonomi
  • Tekno
  • Religi
  • TVH
Home Berita

Apakah Virus Corona Berasal dari Perdagangan Tahi Kelelawar?

Redaksi Harmoni oleh Redaksi Harmoni
Selasa, 12 Mei 2020
in Berita
0 0
Apakah Virus Corona Berasal dari Perdagangan Tahi Kelelawar?

Seekor kelelawar terperangkap di jaring di Aracy, negara bagian Para, Brazil, 1 Desember 2005.

Para ilmuwan menduga Covid-19 berasal dari kelelawar, yang menjadi sumber berbagai macam virus corona. Meski terjadi pandemi, perdagangan global produk kelelawar terus berlanjut, termasuk tahi kelelawar yang sangat mahal, yang disebut guano.

Tahi Kelelawar umumnya digunakan di seluruh dunia sebagai pupuk, tetapi juga digunakan sebagai obat. Ini bisa ditemukan di situs belanja online terbesar AS, Amazon. Di Amazon, tahi kelelawar masuk dalam kategori bahan makanan, Grocery & Gourmet Food. Menurut daftar harga, guano dijual seharga $ 2,95 oleh penjual obat tradisional China.

Dikenal sebagai Ye Ming Sha, atau Night Ling Sand, tahi kelelawar merupakan salah satu bahan paling populer dalam pengobatan tradisional China. Bahan ini digunakan untuk mengobati gangguan mata, stasis darah dan emboli.

Karena kelelawar menangkap serangga yang terbang di malam hari, tahi kelelawar secara tradisional dianggap meningkatkan penglihatan pada malam hari. Beberapa tabib merekomendasikan menempelkan tahi kelelawar langsung pada mata.

Pada 2005, pakar virus yang berkantor pusat di Wuhan, Shi Zhengli, yang sekarang dikenal sebagai “Perempuan Kelelawar” China, mengidentifikasi puluhan virus corona mirip Sindrom Pernafasan Akut Parah (Severe Acute Respiratory Syndrom/SARS) yang mematikan, yang ditemukan dalam sampel tahi kelelawar yang dikumpulkan Shi dan timnya di gua-gua.

Ahli virus dari China, Shi Zhengli (kiri), di laboratorium P4 di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China, 23 Februari 2017.
Ahli virus dari China, Shi Zhengli (kiri), di laboratorium P4 di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei, China, 23 Februari 2017.

Salah satu sampel tahi itu mengandung jenis virus yang 96 persen identik dengan virus corona yang saat ini menyebar di seluruh dunia. Baru-baru ini, enam virus corona yang paling baru ditemukan dalam sampel tahi kelelawar dari 464 kelelawar oleh tim yang dipimpin oleh ilmuwan Smithsonian, Marc Valitutto. Menurut penelitian, virus-virus ini juga termasuk dalam rumpun keluarga yang sama dengan SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19.

“Tahi kelelawar berbahaya karena mengandung virus,” kata Dr. Robert Siegel, seorang profesor di Departemen Mikrobiologi dan Imunologi di Universitas Stanford kepada VOA.

Mekanisme yang tepat di mana virus corona melompat dari kelelawar ke manusia menjadi pusat penelitian global yang intens. Para ilmuwan sebelumnya mengatakan karena virus ditemukan dalam darah dan air liur kelelawar, penularan bisa terjadi dari gigitan. Namun kelelawar biasanya tidak menggigit manusia.

“Sebagian besar kelelawar tidak menggigit, terutama jenis kelelawar yang terkait dengan wabah virus korona,” kata Siegel. Sebaliknya, manusia kebanyakan terinfeksi oleh kelelawar karena menghabiskan waktu bersama kelelawar, seperti ketika pekerja mengumpulkan tahi kelelawar dari sebuah gua atau ketika penambang menghabiskan waktu berjam-jam bernapas di ruang yang sama dengan koloni kelelawar.

“Risiko kelelawar sangat terkait dengan seberapa banyak kontak orang dengan kelelawar,” kata Siegel.

Tiga tahun lalu, Shi dipanggil untuk menyelidiki wabah virus di poros tambang dimana enam penambang menderita penyakit mirip pneumonia yang menewaskan dua di antaranya.

“Tahi kelelawar yang tertutup jamur berserakan di gua itu,” kata Shi kepada Scientific American dalam sebuah laporan yang diterbitkan bulan lalu. Ia mengatakan hanya masalah waktu sebelum para penambang itu jatuh sakit.

Laporan ilmiah lain dari Thailand pada 2013 menemukan virus corona di sekitar 40l persen dari sampel tahi kelelawar yang dikumpulkan, yang menyebabkan para peneliti merekomendasikan kepada para pekerja agar mengenakan alat perlindungan diri yang lebih baik ketika memanen tahi kelelawar di dalam gua. [my/pp]

Sumber : VOA Indonesia

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter Bagikan ke WhatsApp
Redaksi Harmoni

Redaksi Harmoni

Info Terkait

Sekolah Ekologi Insan Cendekia Cimahi : Jalan Ihsan Merawat Alam
Kota Cimahi

Sekolah Ekologi Insan Cendekia Cimahi : Jalan Ihsan Merawat Alam

Minggu, 22 Februari 2026
Kota Cimahi

Atasi Sampah Pemkot Cimahi Dorong Perubahan Paradigma Masyarakat melalui Zero TPA

Sabtu, 21 Februari 2026
Webinar HPSN 2026 “Ramadhan Minim Sampah” Dorong Aksi Keluarga Jawa Barat Hadapi Darurat Sampah
Jawa Barat

Webinar HPSN 2026 “Ramadhan Minim Sampah” Dorong Aksi Keluarga Jawa Barat Hadapi Darurat Sampah

Jumat, 20 Februari 2026
Berita

Resmi! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada Hari Kamis, 19 Februari 2026

Selasa, 17 Februari 2026
UMV “27 Tahun Berkiprah Menebar Cahaya dan Berkah”
Kota Bandung

UMV “27 Tahun Berkiprah Menebar Cahaya dan Berkah”

Minggu, 15 Februari 2026
Kota Cimahi

Forkis Kota Cimahi Resmi Dideklarasikan, Ketua DPRD Dorong Lahirnya Maestro Pelukis Masa Depan

Rabu, 11 Februari 2026

Info Terbaru

Ikuti Kajian MT TC – 8

Ikuti Kajian MT TC – 8

Senin, 23 Februari 2026
Ikuti Kajian MT Uswatunnisaa Darul Hikam

Ikuti Kajian MT Uswatunnisaa Darul Hikam

Senin, 23 Februari 2026
Harmoniaga Ramadhan : Mengenal Lebih Dekat Produk Rens Kedai

Harmoniaga Ramadhan : Mengenal Lebih Dekat Produk Rens Kedai

Senin, 23 Februari 2026
MT Thohirul Qolbi : Special Ramadhan Mubarak : Seni Menahan Diri | Ust. Boboko

MT Thohirul Qolbi : Special Ramadhan Mubarak : Seni Menahan Diri | Ust. Boboko

Minggu, 22 Februari 2026

Video

  • All
  • Video
Tarhib Ramadhan : Sahabat Bandung Community 2026 M – 1447 H

Tarhib Ramadhan : Sahabat Bandung Community 2026 M – 1447 H

Senin, 2 Februari 2026

Video: Tabligh Akbar bersama Ustadz. Abdul Somad di Masjid Trans Studio Bandung

Selasa, 27 Januari 2026
LIPUTAN KHUSUS : Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus PERWOSI Prov. Jabar Masa Bakti 2025 – 2029

LIPUTAN KHUSUS : Pelantikan dan Pengukuhan Pengurus PERWOSI Prov. Jabar Masa Bakti 2025 – 2029

Senin, 26 Januari 2026
LIPUTAN KHUSUS – MT Thohirul Qolbi ” Belanja di Bulan Rajab “

LIPUTAN KHUSUS – MT Thohirul Qolbi ” Belanja di Bulan Rajab “

Minggu, 25 Januari 2026
[radio_player id="3"]
  • Tentang Kami
  • Iklan & Layanan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami

© 2024 Harmoni Online

  • Berita
    • Kota Bandung
    • Kota Cimahi
    • Kab. Bandung
    • Kab. Bandung Barat
    • Jawa Barat
  • Kesehatan
  • Keluarga
  • Ekonomi
  • Etalase
  • Olahraga
  • Entertainment
  • Unik
  • Wisata
  • Religi
  • Video
  • Foto

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist