BANDUNG – Rabu (29/7) siang di Bandung terasa panas. Tapi begitu masuk ruang Sanggar Karawitan PTDI, suasananya langsung berubah,Sejuk, Tenang. “Ayem tentrem”. Penyebabnya: alunan gamelan dari latihan bersama tiga paguyuban karawitan kota Bandung.
Rekso Budoyo 2 PTDI, Sanyuri (Santi Pabuyuban Kediri) Priangan, dan Asmari kompak menabuh gending Jawa secara bergiliran. Dari Ladrang Klasik Sampai Gending BanyumasanBerbagai gending dimainkan. Ada yang klasik populer seperti lancaran, ketawang, dan ladrang. Ada juga gendhing ayak-ayak, srepegan, sampai sampak. Suasana makin hidup saat mengalun Kebogiro, Kudamangsah, Tropong Bang.
Tawa dan riang muncul saat lagu Mentog-mentog, Kupu Kuwi, Langgam Setya Tugu, E Jamu E Jamune, Kangening Ati, dan Aja Lamis ditabuh.Yang menarik, setiap paguyuban membawa ciri khasnya sendiri. Sanyuri, paguyuban warga asal Kediri (Jatim) yang kini berdomisili di Priangan Bandung, datang dengan sekitar 20 anggota. 14 di antaranya duduk rapi menabuh gamelan.

Mereka menolak disebut “manula tak produktif”. “Latihan bersama ini untuk meningkatkan kecintaan pada seni budaya dan silaturahmi. Kalau saya pribadi, nabuh gamelan itu bikin bahagia dan menentramkan batin,” kata Djoko Agoes Setijono, penabuh kenong Sanyuri.Sepuh PTDI dan Alumni SMA Negeri Purwokerto Ikut MeriahkanRekso Budoyo 2 PTDI juga tak mau kalah.
Anggotanya adalah para pensiunan PTDI yang masih semangat nguri-uri budaya Jawa. Dengan 17 pengrawit, mereka membawakan Ladrang Wilujeng, Ayun-ayun, Sibokastowo, dan Srepeg Mataraman.”Kami latihan untuk saling menyemangati, mempererat silaturahmi. Sekaligus jadi sarana evaluasi,” ujar Purwoko Sudarmo dari Rekso Budoyo 2.Dari tlatah Jawa Tengah, Asmari — paguyuban alumni SMA Negeri Purwokerto di Bandung — menurunkan 12 anggotanya. Mereka membawa warna berbeda lewat gending gagrak Banyumasan: Manyar Sewu, Singa Nebah, Ricik-ricik Banyumasan, Getuk Goreng, hingga Warudoyong.
Ini merupakan latihan bersama kedua yang digelar di sanggar Rekso Budoyo PTDI.Bidik Pentas Terbuka untuk UmumPurwoko berharap ke depan, semua sanggar karawitan di Bandung bisa dirangkul untuk tampil bersama di panggung terbuka.”Supaya masyarakat umum juga bisa menikmati. Gamelan ini warisan, harus terus hidup,” tegasnya.
Latihan bersama ini membuktikan satu hal : usia boleh bertambah, tapi semangat melestarikan budaya tidak pernah padam. Di sela tabuhan kenong dan kendang, yang tumbuh justru kebersamaan. [gp]














