Oleh: Febri Satria Yazid
“Pembuktian bahwa kita mempertuhankan Allah adalah dengan menerima semua makhluk, karena begitulah Allah SWT.”
Kalimat yang disampaikan oleh Gus Dur ini terasa sederhana, namun menyimpan kedalaman makna yang luar biasa. Ia bukan sekadar ajakan toleransi, melainkan cermin untuk menguji sejauh mana kita benar-benar menempatkan Allah sebagai Tuhan dalam kehidupan.
Sejalan dengan itu, terdapat sebuah hadis yang sering dikutip: “Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Kalimat ini menegaskan bahwa perjalanan menuju pengenalan kepada Allah tidak dimulai dari luar, tetapi dari dalam diri.
Artinya, kegagalan memahami diri sendiri seringkali berujung pada kegagalan memahami hakikat ketuhanan.
Ketika seseorang tidak mampu menerima keberagaman makhluk ciptaan Allah, baik perbedaan keyakinan, pandangan, maupun latar belakang kehidupan, maka sesungguhnya ia sedang memperlihatkan bahwa pengenalan dirinya belum utuh.
Ia belum memahami bahwa dirinya pun adalah makhluk yang terbatas, yang hidup dalam sistem penciptaan yang luas dan penuh keberagaman.
Fenomena ini pernah digambarkan secara tajam oleh Ahmad Mustofa Bisri: “Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan, bertuhan dimusuhi karena Tuhannya beda, Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda” dan seterusnya. Ungkapan ini bukan sekadar kritik sosial, melainkan refleksi atas kegelisahan mendalam, mengapa manusia begitu mudah bermusuhan, bahkan atas hal-hal yang seharusnya menjadi jalan menuju kedamaian?
Jika ditelaah lebih jauh, konflik yang lahir dari perbedaan seringkali bukan murni soal keyakinan, melainkan soal hasrat. Hasrat untuk menguasai, hasrat untuk merasa paling benar, dan hasrat untuk mengendalikan kehidupan orang lain.
Hasrat inilah yang perlahan-lahan mengambil posisi Tuhan dalam diri manusia, tanpa disadari.
Padahal, manusia dalam ajaran Islam ditempatkan sebagai khalifah di bumi.
Kata ini sering diterjemahkan sebagai “pemimpin” atau “pengganti”. Namun, pemahaman tentang “pengganti” tidak boleh disalahartikan.
Manusia bukan pengganti Allah dalam arti mengambil alih kekuasaan-Nya, melainkan sebagai wakil yang menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.
Ketika manusia mulai bersikap seolah-olah memiliki otoritas mutlak, di situlah ia telah tergelincir dari fungsi kekhalifahannya.
Dalam konteks ini, ketakwaan menjadi kata kunci yang tidak bisa ditawar.
Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah tidak memandang rupa, harta, atau keturunan, melainkan hati. Hati yang bersih, yang tunduk dan patuh kepada Allah, itulah yang menjadi ukuran kemuliaan.
Takwa bukan sekadar menjalankan ritual ibadah secara individual. Ia memiliki dimensi yang lebih luas.
Pertama, menjaga diri agar tetap taat kepada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Kedua, memiliki kesadaran batin yang mendorong kepatuhan tersebut.
Dan ketiga, yang sering dilupakan, adalah kesalehan sosial yaitu bagaimana nilai-nilai keimanan itu tercermin dalam hubungan dengan sesama manusia dan alam.
Di sinilah relevansi konsep hablumminallah dan hablumminannas. Seseorang tidak bisa mengklaim dirinya dekat dengan Allah jika dalam kehidupan sosial ia justru menyebarkan kebencian, permusuhan, dan ketidakadilan.
Begitu pula, kepedulian terhadap alam menjadi bagian dari manifestasi ketakwaan, karena alam adalah bagian dari ciptaan Allah yang harus dijaga.
Ketika seseorang menolak keberadaan orang lain hanya karena perbedaan, sesungguhnya ia sedang menjauh dari nilai takwa.
Ia telah menjadikan hasrat sebagai pusat orientasi hidupnya. Hasrat untuk menang sendiri, hasrat untuk menguasai, atau bahkan hasrat untuk diakui.
Sejarah kehidupan manusia menunjukkan bahwa pemenuhan hasrat tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan.
Bahkan seringkali, semakin besar hasrat dipenuhi, semakin besar pula kegelisahan yang muncul. Ini karena hasrat tidak memiliki batas, sementara jiwa manusia membutuhkan kedamaian.
Kedamaian itu hanya bisa hadir ketika manusia kembali menempatkan Allah sebagai pusat kehidupannya. Ketika ia benar-benar menghayati bahwa hidup dan matinya hanya untuk Allah, bukan untuk ambisi pribadi atau kepentingan sesaat.
Dalam kondisi demikian, seseorang akan merasakan ketenangan batin yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia tidak lagi mudah tersulut oleh perbedaan, tidak mudah terprovokasi oleh konflik, dan tidak terjebak dalam perlombaan duniawi yang melelahkan.
Memahami bahwa tugasnya sebagai khalifah adalah menjaga, bukan menguasai, tapi merangkul, bukan menyingkirkan dan merusak.
Mempertuhankan Allah bukan sekadar ucapan dalam doa atau ritual ibadah, akan tetapi adalah sikap hidup yang tercermin dalam cara kita memandang dan memperlakukan sesama makhluk.
Ketika kita mampu menerima keberagaman sebagai bagian dari kehendak-Nya, ketika kita mampu menahan hasrat yang melampaui batas, dan ketika kita menghadirkan ketakwaan dalam setiap aspek kehidupan, di situlah kita benar-benar sedang mempertuhankan Allah.(fsy)






