Pemerintah Kota Cimahi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 dengan menggelar rangkaian kegiatan kolaboratif di Kampung Adat Cireundeu, Sabtu (21/02).
Kegiatan ini dihadiri Wali Kota Cimahi Ngatiyana, Ketua DPRD Kota Cimahi Wahyu Widyatmoko, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pekerjaan Umum, Forkopimda, Kejaksaan Negeri Cimahi, MUI, DLH Provinsi Jawa Barat, serta unsur akademisi dan dunia usaha.
Peringatan ini menjadi momentum refleksi atas tragedi longsor sampah Tempat Pembuangan Akhir Leuwigajah tahun 2005 sekaligus penguatan komitmen pengelolaan sampah berkelanjutan.



Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa 21 Februari diperingati sebagai pengingat atas tragedi longsor sampah 2005 yang menelan korban jiwa.
Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting agar pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai persoalan teknis semata, melainkan isu keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.
“Kalau sampah tidak dikelola dengan baik, dampaknya bisa menjadi bencana. Tahun 2005 menjadi bukti nyata. Ini pengalaman pahit yang tidak boleh terulang di Kota Cimahi,” tegasnya.
Ngatiyana mendorong perubahan paradigma masyarakat melalui konsep zero to TPA, yakni pengurangan signifikan sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir dengan mengoptimalkan pengolahan di tingkat rumah tangga dan kewilayahan. Sampah harus dipilah dari sumbernya, dikelola, dan diselesaikan di lingkungan masing-masing.



Direktur Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular Kementerian Lingkungan Hidup, Agus Rusly, menyatakan target nasional dalam RPJMN 2025–2029 adalah 100 persen sampah terkelola pada 2029. Kuncinya, kata dia, terletak pada pengelolaan dari sumber.
“Minimal 50 persen sampah rumah tangga adalah organik. Itu bisa diselesaikan di rumah menjadi kompos, pupuk cair, biogas, atau budidaya maggot. Jika ini optimal, beban kota akan turun drastis,” ujarnya.
Dari sekitar 250 ton sampah harian di Cimahi, separuhnya berpotensi ditangani di sumber. Sisanya dapat dikelola melalui penguatan bank sampah, TPS 3R, dan TPST.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, melaporkan HPSN 2026 mengusung tema “Kolaborasi untuk Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah” sebagai bagian dari Gerakan Nasional Indonesia Asri. Dalam kesempatan tersebut, DLH meresmikan TPST Utama, meluncurkan buku pedoman kewilayahan pengelolaan sampah, animasi edukasi digital, serta program sedekah sampah berbasis sekolah selama Ramadan.
DLH juga melakukan pengambilan sampel air sumur di Seke Cilimus yang kembali muncul pascalongsor dua dekade lalu, serta memperkenalkan rencana penataan kawasan bekas tumpukan sampah di Cireundeu menjadi hutan bambu dan monumen lingkungan.
Peringatan HPSN 2026 menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Cimahi diarahkan pada penguatan kolaborasi lintas sektor, perubahan perilaku masyarakat, dan tanggung jawab bersama menuju kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.






